Monday, July 27, 2026

Half Marathon Pertama Seumur Hidup

Seumur hidup yang hampir 32 tahun ini, saya tidak pernah menyangka akan melakukan aktivitas olahraga lari, terlebih lagi dengan jarak separuh maraton, dua puluh satu koma kosong sekian kilometer.

Gila.

Semua dimulai ketika banyak orang yang saya kenal berlari. Instagram isinya teman teman ikut lomba lari, menaklukan 5, 10, 21 kilometer. Gagah sekali! Keren sekali! Karena saya kerap kali berlama lama menghabiskan detik di post dengan tema larian ini, muncul lah acara acara lari itu di FYP tiktok saya. Juni 2024, akhirnya saya mencoba fitur program latihan lari bawaan jam tangan. Aktivitas pertama yang cuma satu kilometer itupun tidak mampu saya lakukan dengan sepenuhnya berlari. Hari itu saya tahu betul kalau saya tidak suka lari. 


Program latihan pertama ini tidak sampai sebulan, berhenti di tengah tengah. Tapi saya menolak untuk tidak jadi menjadi keren seperti teman teman yang lain. Akhir Juli, saya coba lagi. 3 kilometer adalah sebuah pencapaian di selama 2 bulan pertama ini. Itupun mampu dicapai hanya dengan kombinasi jalan kaki dan berlari. 5 kilometer masih sebatas angan angan, baru bisa dicapai satu bulan kemudian dengan tumbal airpod sebelah kiri saat baru mulai berlari.


Saya masih tidak suka lari. Tapi kehilangan airpod sebelah kiri ini mengajarkan saya soal berlari dengan tujuan. Hari itu saya bertekad menyelesaikan 5km pertama karena sudah kehilangan sebelah airpods hadiah ulang tahun yang baru 2 bulan itu. Oh, beberapa waktu sebelumnya juga karena saya baru menonton orang berlari 50-100km untuk mengumpulkan donasi, "runtocare". Kejadian airpods jatuh ke dalam danau buatan di taman ini semacam konsep lari dengan tujuan yang langsung ditunjukan di depan mata. Hahaha!


Sekitar Januari 2025 di mana acara Twincity Marathon baru saja selesai, lagi lagi FYP mempertunjukan bangaimana orang orang seperti memperjuangkan banyak hal lewat lariannya. Bagaimana mereka berlatih mencapai waktu terbaiknya. Sesuatu yang menurut saya keren sekali. Kalau dipikirkan sekarang, mungkin ini terasa sangat menarik untuk saya karena sepanjang hidup sebelumnya, semua yang saya lakukan memang sesuai standar saya. Belajar yang baik di sekolah, bekerja yang baik, sekolah lagi, dan sebagainya. Sepertinya saya belum pernah mengusahakan sesuatu di luar standar kebutuhan sekeras itu. Atau.... jangan jangan ini standar baru yang kemudian ingin saya pastikan dapat dicapai juga? Ada benarnya juga...

Apapun itu, saya akhirnya yakin saya mau lari juga. Yang saat itu saya tahu karena saya mau jadi keren juga.


Singkat cerita, April2025, saya mendaftar Standard Chartered Marathon kategori 10KM. Waktu itu, sekali lari 3km pun terasa sudah banyak sekali usahanya. Lari 5km butuh motivasi yang tidak sedikit. Rachel adalah orang yang membersamai saya di proses ini. Meskipun kami lebih banyak lari sendiri sendiri dan tentu saja dia yang jauh lebih rajin. 

Seminggu sebelum hari-H, saya berlari kecil berkeliling di Malmo dan Copenhagen! Dua hal yang tidak pernah ada di bayangan saya. Saya menginjakkan kaki di Benua Eropa. Tidak hanya menginjakkan kaki, saya berlari! Kemudian saya menyadari hal yang sangat berguna dari kegiatan berlari yang dalam hati teta saya tidak sukai ini: berlari membantu saya mengunjungi tempat baru! Sebagai introvert yang sering cemas dan overstimulated di keramaian, berlari membuat saya punya tujuan. Entah itu mengelilingi taman, melihat pesisir pantai, pusat wisata yang dikunjungi turis ramai, ataupun toko roti yang di tanah "danish pastry" yang terkenal di seluruh dunia.

Meskipun demikian, saya tetap tidak menganggap lari sebagai sesuatu yang menyenangkan. Saya masih tidak suka lari.


Sepulang ke Malaysia dan menyelesaikan 10km pertama, tentu saja seperti bagaimana promo event larian dilakukan, muncullah informasi acara larian berikutnya: Twincity Marathon 2026. Kali ini, saya tidak mau hanya menjadi penonton di FYP. Saya mendaftar lari 12 kilometer.

Saya lari dengan catatan waktu yang lebih baik, tapi ada perasaan "kalau saja saya berlatih lebih tekun, catatan waktunya harusnya lebih baik dari ini". Setelah 12 kilometer, seperti siklus sebelumnya, ada perasaan jumawa mungkin saya bisa berlari 21 kilometer. And it went just like that, tiba tiba saya sudah mendaftar Score Marathon 2026 untuk kategori half marathon. Sebenarnya, ada satu alasan lain kenapa saya niat sekali mendaftar separuh maraton, tujuan saya sebenarnya adalah HYROX yang sebagian besar isinya adalah berlari. Saat itu saya pergi tiap minggu untuk kelas kelas HYROX. Saya pikir agar mampu lari 8x1km berarti saya harus setidaknya mampu berlari 2x dari itu.


Lagi lagi, Rachel selalu ada di semua cerita ini meskipun kami tidak pernah berlari bersama lagi.

Persiapan untuk berlari 21 kilometer atau setara busungbiu-seririt-busungbiu ini adalah persiapan olahraga paling serius yang pernah saya lakukan. Meskipun memang, secara timeline harusnya saya bersiap siap lebih lama. Pada akhirnya mungkin saya baru benar benar berlatih hanya sekitar 2 bulan. Tapi kali ini saya benar benar berusaha menyelesaikan pr long run setiap minggu dari 10, 12, 15, 18km. Saya kembali minum suplemen penambah darah yang diresepkan sejak lama tapi selalu ogah-ogahan saya minum. Saya mencoba-coba cara fueling yang bisa diterima tubuh, membeli gel dan tablet isotonik. Bisa seserius ini karena sebenarnya saya takut. Takut tidak bisa menyelesaikan apa yang saya mulai padahal sudah diberikan waktu yang cukup. Takut merusak badan saya sendiri karena semua aktivitas ini dimulai dengan tujuan menjadi lebih bugar. Mau tidak mau, harus serius. Meskipun semua usaha tersebut rasanya bisa dilakukan lebih baik lagi, tentu saja.


Tiga jam dan dua puluh lima menit. Larian dua puluh satu koma sekian kilometer pertama saya. Meskipun 3 kilometer terakhir isinya mengeluh dan menangis. Pertama kali merasakan kaki yang terasa sakit saat berlari/berjalan -- sesuatu yang tidak saya rasakan saat berlatih, mungkin karena latihannya tidak terlalu keras. Belum lagi bergelut dengan pikiran untuk menyerah saja, atau pikiran kenapa garis finis tidak kunjung terlihat.


Pada akhirnya larian tersebut selesai. Kawan baik saya, Rachel, menunggu saya di area finis.

Tentu saja kalian apa yang terjadi selanjutnya dari siklus yang sudah sudah.

Now I dare to dream even bigger. I want to be Ironman, I want to do Ironman 70.3 before 40. 
I know today I can't even swim properly, I know nothing about bike. I have 7 years to figure it out.

Lari yang sampai saat ini masih menjadi sesuatu yang tidak saya sukai, membawa saya kepada hal-hal yang bahkan tidak pernah muncul dalam imajinasi. Ia membawa saya pada keberanian untuk menginginkan sesuatu yang besar. Ternyata perasaan mampu menyelesaikan sesuatu yang saya pikir tidak akan mungkin saya lakukan itulah yang membuat saya tetap berlari, meskipun sampai saat ini saya masih akan bilang kalau saya tidak suka lari.

Subang Jaya, 26 July 2026 22.17 -- seminggu selepas Score Marathon

Readmore → Half Marathon Pertama Seumur Hidup

Friday, May 22, 2026

Renungan Tiga Puluhan

Akhir April perusahaan tempat saya bekerja sudah menyiarkan kabar pengurangan karyawan. PHK. Restrukturisasi. Efisiensi. Apapun itu namanya. Ini adalah kali kedua siaran sejenis dibuat, di tiga tahun saya bekerja di sini. Tapi kali ini berbeda, skalanya jauh lebih besar.

Beberapa minggu sebelum itu, beberapa tim dengan fungsi yang sama seperti saya di lokasi berbeda juga baru saja diumumkan bahwa lokasinya dipindahkan. Perusahaan memutuskan tidak lagi beroperasi di lokasi tersebut. Reaksi pertama saya terhadap pengumuman ini sangat jelas: sedih. Saya menangis di mobil yang baru saja diparkir di sebuah pusat perbelanjaan. Saya sedih orang orang yang saya tahu akan kehilangan pekerjaan mereka beberapa bulan lagi. 

Minggu ini, lebih banyak lagi orang orang yang saya tahu akan kehilangan pekerjaannya. Saya bingung, kalut dan mungkin di alam bawah sadar, ada lebih banyak lagi perasaan yang tidak sempat diutarakan dengan eksplisit. Perasaan perasaan yang pada akhirnya mengendap dan mewujud dalam mood hari hari yang kurang bersemangat, tidur yang kurang nyenyak, atau rasa lelah saat bangun pagi meskipun tidak banyak aktivitas di hari sebelumnya.

Tiap minggu, yang saya tunggu tunggu hanya akhir pekan. Pergi ke gym, masuk kelas HIIT. Satu satunya hal yang saya merasa punya kendali saat ini: usaha saya untuk melakukan rangkaian set sepanjang kelas.

Bandingkan dengan apa yang bisa saya kendalikan dari keputusan layoff? 
Tidak peduli sebaik apa kerjamu, kalau perusahaan memutuskan berhenti beroperasi di negaramu, bisa apa? Ini mungkin adalah kali pertama saya merasa sangat tidak berdaya. 

Belum lagi berita berita dari Indonesia, perang di Asia Barat, dan berita PHK masal di mana mana yang terjadi di periode waktu yang sama. Ada perasaan pesimis terhadap masa depan secara umum. How do I suppose to plan my life?

Saya juga akan kehilangan keberadaan teman baik saya di kantor. She is impacted. Meskipun dia tidak sedih karena dia malah bisa melakukan hal yang dia tidak bisa lakukan karena bekerja. Di satu sisi saya iri, saya juga ingin melakukan semua hal itu! 

Secara paralel, pekerjaan saya juga terdampak secara langsung. Tugas tugas dialokasikan ulang dengan sumber daya yang lebih sedikit. Meskipun ini bukan sebuah masalah bagi saya.

I never have this scenario prepared for my 30s. People around me are struggling and I couldn't help. There are so many questions in my head. 

Di masa masa aneh ini, saya kembali membaca buku yang sudah saya buka dari tahun lalu tapi tidak pernah diselesaikan. Salah satu bab-nya membahas tentang "regression to the mean" yang kurang lebih maksudnya semua hal tidak akan selamanya berjalan di satu sisi ekstrim. Dengan konsep ini saya mencoba berpikir kalau semua hal hal yang sedang terjadi saat ini adalah sebuah ekstrim yang menjadi bagian dari sebuah rangkaian kejadian dan kita akan kembali ke "mean" atau situasi rata-ratanya sebentar lagi.

Tapi saat menulis ini saya jadi berpikir, bagaimana kalau ternyata hal hal gila saat inilah yang merupakan "mean"-nya? Sangat disayangkan saya bukan seorang yang pandai statistika sehingga saya tidak bisa membuat pembenaran atau mematahkan premis ini haha.

Pertanyaan berikutnya, apakah kompleksitas hidup saat kita menginjak usia tiga puluhan memang jauh meningkat atau kompleksitas yang kita alami saat ini memang karena keadaan dunia secara umum sekarang sedang memburuk?

Kalau dipikir-pikir, mungkin yang terbaik untuk dilakukan saat ini adalah "enjoy while it lasts". Karena kita tidak pernah tahu besok akan ada ekstrimitas apa lagi--atau, besok mungkin kita kembali ke status rerata yang mungkin kita tidak sukai.


Subang Jaya, 22 May 2026 21.40



Readmore → Renungan Tiga Puluhan