Friday, May 22, 2026

Renungan Tiga Puluhan

Akhir April perusahaan tempat saya bekerja sudah menyiarkan kabar pengurangan karyawan. PHK. Restrukturisasi. Efisiensi. Apapun itu namanya. Ini adalah kali kedua siaran sejenis dibuat, di tiga tahun saya bekerja di sini. Tapi kali ini berbeda, skalanya jauh lebih besar.

Beberapa minggu sebelum itu, beberapa tim dengan fungsi yang sama seperti saya di lokasi berbeda juga baru saja diumumkan bahwa lokasinya dipindahkan. Perusahaan memutuskan tidak lagi beroperasi di lokasi tersebut. Reaksi pertama saya terhadap pengumuman ini sangat jelas: sedih. Saya menangis di mobil yang baru saja diparkir di sebuah pusat perbelanjaan. Saya sedih orang orang yang saya tahu akan kehilangan pekerjaan mereka beberapa bulan lagi. 

Minggu ini, lebih banyak lagi orang orang yang saya tahu akan kehilangan pekerjaannya. Saya bingung, kalut dan mungkin di alam bawah sadar, ada lebih banyak lagi perasaan yang tidak sempat diutarakan dengan eksplisit. Perasaan perasaan yang pada akhirnya mengendap dan mewujud dalam mood hari hari yang kurang bersemangat, tidur yang kurang nyenyak, atau rasa lelah saat bangun pagi meskipun tidak banyak aktivitas di hari sebelumnya.

Tiap minggu, yang saya tunggu tunggu hanya akhir pekan. Pergi ke gym, masuk kelas HIIT. Satu satunya hal yang saya merasa punya kendali saat ini: usaha saya untuk melakukan rangkaian set sepanjang kelas.

Bandingkan dengan apa yang bisa saya kendalikan dari keputusan layoff? 
Tidak peduli sebaik apa kerjamu, kalau perusahaan memutuskan berhenti beroperasi di negaramu, bisa apa? Ini mungkin adalah kali pertama saya merasa sangat tidak berdaya. 

Belum lagi berita berita dari Indonesia, perang di Asia Barat, dan berita PHK masal di mana mana yang terjadi di periode waktu yang sama. Ada perasaan pesimis terhadap masa depan secara umum. How do I suppose to plan my life?

Saya juga akan kehilangan keberadaan teman baik saya di kantor. She is impacted. Meskipun dia tidak sedih karena dia malah bisa melakukan hal yang dia tidak bisa lakukan karena bekerja. Di satu sisi saya iri, saya juga ingin melakukan semua hal itu! 

Secara paralel, pekerjaan saya juga terdampak secara langsung. Tugas tugas dialokasikan ulang dengan sumber daya yang lebih sedikit. Meskipun ini bukan sebuah masalah bagi saya.

I never have this scenario prepared for my 30s. People around me are struggling and I couldn't help. There are so many questions in my head. 

Di masa masa aneh ini, saya kembali membaca buku yang sudah saya buka dari tahun lalu tapi tidak pernah diselesaikan. Salah satu bab-nya membahas tentang "regression to the mean" yang kurang lebih maksudnya semua hal tidak akan selamanya berjalan di satu sisi ekstrim. Dengan konsep ini saya mencoba berpikir kalau semua hal hal yang sedang terjadi saat ini adalah sebuah ekstrim yang menjadi bagian dari sebuah rangkaian kejadian dan kita akan kembali ke "mean" atau situasi rata-ratanya sebentar lagi.

Tapi saat menulis ini saya jadi berpikir, bagaimana kalau ternyata hal hal gila saat inilah yang merupakan "mean"-nya? Sangat disayangkan saya bukan seorang yang pandai statistika sehingga saya tidak bisa membuat pembenaran atau mematahkan premis ini haha.

Pertanyaan berikutnya, apakah kompleksitas hidup saat kita menginjak usia tiga puluhan memang jauh meningkat atau kompleksitas yang kita alami saat ini memang karena keadaan dunia secara umum sekarang sedang memburuk?

Kalau dipikir-pikir, mungkin yang terbaik untuk dilakukan saat ini adalah "enjoy while it lasts". Karena kita tidak pernah tahu besok akan ada ekstrimitas apa lagi--atau, besok mungkin kita kembali ke status rerata yang mungkin kita tidak sukai.


Subang Jaya, 22 May 2026 21.40



Readmore → Renungan Tiga Puluhan