Showing posts with label Bakrie Pipe Industries. Show all posts
Showing posts with label Bakrie Pipe Industries. Show all posts

Thursday, October 26, 2017

Tentang Pipa Pipa

Pernah gak sih kalian kebayang gimana ceritanya minyak dan gas dari perut bumi sampai di SPBU dan tabung-tabung elpiji di dapur? Mungkin pernah. Satu dua kali pasti pernah lah ya, denger cerita gimana dua sumber daya alam itu dipaksa keluar, dieksplorasi, hingga diolah jadi bahan bakar yang kita pakai setiap hari. Bahan bakar yang menggerakkan sangat banyak hal yang kita nikmati hari ini. Listrik buat ngecas HP, solar buat genset yang ngasilin listrik kalau lagi mati listrik hahaha. Bensin buat motor dan mobil kita. Gas buat masak makanan yang kita makan tiap hari! 

Kita yang berjarak ratusan bahkan ribuan kilometer dari kilang dan tempat pengolahan minyak dan gas bumi itu bisa dengan gampang menjangkau mereka ya karena mereka ditransport ke tempat yang jaraknya dekat degan kita. Alat transportasi mereka gak cuma satu, dari pipa berukuran besar hingga truk-truk tangki yang sering lewat di jalan raya. Nah, sebagian besar ya memang berpindah melalui saluran pipa. Kenapa pipa? Banyak alasan sih, dua yang saya ingat adalah:
- Pertama, produksi dari migas ini sifatnya kontinu, bukan diskrit. Jadi dia ngalir terus (sepanjang di sumurnya masih ada isi). Jadi karena dia jalan terus, sebaiknya dia dialirkan saja sampai tempat penampunganya atau pengolahannya. (Please cmiiw, soalnya ini ngawang-ngawang, w juga gak paham betul soal urusan migas dari hulu ke hilir ini :D)
- Kedua, ekonomis. Bayangin ya, buat mindahin minyak dan gas (migas) dari perut bumi yang 'ngalir' terus, berapa kali bolak balik kalo pake tangki? Belum lagi ngomongin medan tempuhnya. Kalau di tengah laut? Kalo di tengah hutan? Beda dengan pipa, cuma install sekali. Walaupun, tentu, modal yang ditanam cukup besar.



Pipa-pipa itulah pahlawan kita selama ini, teman teman! Tapi gak pernah kepikiran kan sebegitu berjasa mereka buat kita? (Haha ini lebay). 

Berhubung sekarang saya sedang lekat sekali dengan segala macam pipa mulai dari yang dipakai buat pagar sampai ngalirin migas, saya mau cerita soal pipa baja yang sudah memudahkan hidup tanpa kita sadari. Tulisan ini dipicu dari keisengan jalan-jalan di area operasional beberapa hari terakhir dan teringat kegiatan Bootcamp di Sumbawa. Mirip. Dan waktu bootcamp, tiap hari kami bikin ringkasan soal apa yang kami amati, merefleksikan apa yang kami temui. Kenapa tidak saya tulis juga tentang tempat saya bekerja? :) Sekalian promosi #eh.

Balik lagi soal pipa, dulu juga saya gak pernah tahu kalau pipa punya segambreng spesifikasi walaupun cara buatnya sama. Spesifikasi itu datang dari standar yang dikeluarkan oleh macam-macam instansi. Di Indonesia, misalnya, ada Standar Nasional Indonesia (SNI). Buat pipa penyalur air standar spesifikasinya adalah SNI 0039, buat tiang spesifikasinya SNI 0068. Jadi pemerintah sampai sejauh itu loh mengatur standar pipa pipa yang digunakan di negara kita. Kalau dari luar, ada standar ASTM atau American Society for Testing Materials. Ada juga the ultimate spec yang laris manis buat migas: API (American Petroleum Institute). Oh ya, Bakrie Pipe juga punya Internal Spec sendiri: BOS dan SIO. 

Apa sih bedanya? 
Perbedaan mendasar ya pada peruntukannya. Misal ada yang buat penyalur air seperti SNI 0039 dan ASTM A53 A, buat pancang seperti SNI 8052 dan ASTM A252, atau buat migas seperti API atau DNV. Karena peruntukannya berbeda beda, maka macam standar proses pengujian/inspeksi untuk setiap spesifikasi itu berbeda (walaupun tidak menutup kemungkinan ada juga yang hampir atau bahkan sama untuk spesifikasi yang ekuivalen). Pipa-pipa API punya standar pengujian yang jauh lebih ketat dibandingkan pipa penyalur air atau pipa pancang. Hal ini ya jelas karena benda yang akan dialirkan itu sifatnya berbeda dan apabila terjadi kebocoran pada pipa dampaknya juga akan lebih fatal pada saluran migas dibandingkan pada saluran air.

Selain standar proses pengujian, standar dimensinya juga tidak luput dari perbedaan. (Aduh Bahasa macam apa ini). Misalnya, meskipun sama sama untuk menyalurkan air, ukuran 3 inch ASTM A53 A dengan 3 inch SNI 0039 Medium itu punya standar tebal yang beda loh. Tebal 3 inch A53 A adalah 5.49 mm sedangkan SNI 0039 Medium standar tebalnya adalah 4.00 mm. Kalau boleh saya menebak, perbedaan standar dimensi ini mungkin dipengaruhi dari asal negara si pemilik standar yang kondisi alam dan lingkungannya berbeda-beda dan memerlukan pipa dengan ketahanan tertentu. Dan ketahanan ini salah satunya diperoleh dari proporsi dimensinya.

Kalau secara visual, pipa-pipa berbeda spesifikasi itu memang kelihatannya sama saja. Untuk membedakannya ya cuma bisa dilihat dari ‘marking’ yang biasa ada di ujung bagian luar atau dalam pipa.



Tahu gak sih gimana pipa-pipa itu dibuat?
Proses produksi pipa baja bermacam-macam metodenya. Ada yang dilas, ada juga yang gak di las (seamless). Pabrikan di Indonesia saat ini masih main di metode dengan las. Nah, inipun metodenya masih macam-macam lagi. Ada yang pakai filler metal (kayak ngelas pagar yang pakai kawat las gitu), ada juga yang tanpa filler metal (jadi ujung-ujung bahan yang digelar itu dipanaskan sampai dia agak lembek terus dihimpit sampai mereka nyatu. Ada yang lasannya lurus (longitudinal) aja kayak pipa-pipa di Bakrie Pipe, ada juga yang spiral mirip Astor (ini ga ada di Bakrie Pipe, tapi ada di toko sebelah). Kalau kata orang sih banyak jalan menuju Roma, sama kayak bikin pipa yang metodenya juga banyak. Hehe.

Di Bakrie Pipe, semua pipanya dibuat dengan metode Longitudinal Electric Resistance Welding (ERW). Keren kan namanya? Sederhananya sih itu ujung ujung bahan yang udah ditekuk jadi bentuk pipa dipanaskan dengan bantuan listrik. Mau pipa air, pipa kotak, pipa pancang, ataupun pipa migas, semuanya dilas dengan metode ini. Kedengarannya sederhana kan? Huehehe. Setelah dilas, pipa akan dipotong sesuai panjang yang diminta. Untuk pipa-pipa biasanya dibuat dalam dua panjang. 6 meter atau 12 meter. Pipa air biasanya 6 meteran. Sedangkan Pipa API ada yang 6 ataupun 12 meteran sesuai permintaan si pembeli. Ada istilah yang sering digunakan untuk panjang pipa: DRL (Double random length), SRL (Single random length), dan fixed length. Pipa DRL itu di lapangan diartikan sebagai pipa 12 meteran, sedangkan pipa SRL itu 6 meteran. Tapi kemarin saya habis googling, ternyata pipa DRL itu maksudnya adalah dari satu populasi pipa rata-rata panjangnya 40 kaki (12.20 m) dengan panjang individunya ada pada rentang 37.5 kaki (11.43 m) sampai 42.5 kaki (12.95 m). Sedangkan SRL itu rata ratanya 20 kaki (6.10 m) dengan rentang panjang individunya 17.5 kaki (5.33 m) sampai dengan 22.5 kaki (6.86 m). Kalau fixed length itu, per individu pipa panjangnya ditentukan misal 6 meteran, tetap dengan toleransi tertentu pastinya. (ini saya cerita panjang lebar soal panjang gara gara saya excited banget kemarin baru tau gitu, sih ._.)



Jalur produksi pipa sejujuranya berisik banget. Kalo ngomong mesti kenceng-kenceng nyaris teriak. Deru mesin dan baja-baja beradu. Duh. Ya namanya juga nekuk lembaran baja yang selembarnya itu tebel gak kayak selembar kertas. Eh tapi sebenarnya bentuk dari lembaran baja bahan pipa ini mirip tisu roll di toilet deng. Namanya Hot Rolled Coil (Bahasa Indonesia-nya ‘Baja Canai Panas’ bahaha lucu kan). Jadi si Coil yang digulung pas lagi panas ini ujungnya dimasukin ke mesin, terus ditekuk pakai segala macam roll biar bentuk ya jadi kayak pipa, terus dilas, dan dipotong. Gitu kurang lebih. Di sini banyak statsiun kerja yang ada bunga-bunga apinya juga. 

Setelah selesai proses produksi dan lolos serangkaian inspeksi dan pengujian, pipa akan menuju proses dilapisi untuk menghindarkan dari karat. Lapisannya ada bermacam-macam, mulai dari semprotan varnish, dengan celupan zinc (seng) lewat proses galvanize, hingga pelapisan dengan polimer seperti epoxy, polypropylene, atau polyethylene. Di Bakrie Pipe, kami bisa semuanya #iklan.



Terakhir, pipa akan disimpan di satu lapangan terbuka. Ditumpuk rapih, ada yang disusun bentuk persegi panjang, ada juga yang trapesium sama kaki (di lihat dari samping). Untuk pipa-pipa general market malah lebih warna warni karena di ujungnya ada pelindung plastik berbentuk cup dengan warna berbeda-beda. Hijau untuk SIO, biru untuk SNI 0039, oranye untuk BOS, ungu untuk A53 A. Ini instagramable banget sih. Tapi ini restricted area jadi kalian gak bisa foto-foto disini karena ganggu lah. Ada crane bolak balik angkat pipa yang beratnya bisa bikin kalian penyet kalau ketiban. Oops. 


Proses-proses tadi gak akan bisa menghasilkan pipa kualitas terbaik kalau tidak ada orang-orang yang menjalankan dan memastikan prosesnya. Di post selanjutnya, saya akan cerita soal orang-orang yang saya temui di sini.

Sampai ketemu dua minggu lagi :)
Readmore → Tentang Pipa Pipa

Monday, August 14, 2017

BFLDP 2017: A Personal Point of View

Bakrie Future Leader Development Program (BFLDP) adalah semacam program Management Trainee (MT) yang dirancang selama setahun. BFLDP dijalankan lewat Bakrie Solusi Strategis (BSS) dari proses rekrutmen hingga trainingnya. Program ini sudah dimulai sejak Juni lalu. 
Poster Rekrutment BFLDP 2017
Sekitar bulan maret, grup chat teman-teman kuliah saya agak ramai dengan poster di atas. Sangat menarik waktu itu grup perusahan yang membeasiswai kuliah kami sampai lulus membuka program popular bagi anak baru lulus: Future Leader Program. Waktu itu masih ada dalam masa-masa gencar (sebagian dari) kami mencari kerja karena baru lulus. Banyak teman-teman yang mendaftar, saya juga sebenarnya cukup tergoda. Terus terang saja, ini kan program punya perusahaan induk, pasti kesempatan yang ditawarkan jauh lebih besar, pikir saya waktu itu. Padahal, saya sudah bergabung lebih dulu dengan program MT Bakrie Pipe Industries (BPI) sejak September 2016. Oh jelas, godaannya cuma sebatas ingin, tidak sampai benar-benar mendaftar. (Karena di sisi lain, program MT BPI punya ikatan dinas dan sistem penalti yang tidak memungkinkan saya untuk loncat begitu saja, hehe).

Tanpa disangka-sangka, di bulan Juni saya mendapat email dari pihak HRD BPI dan juga BSS yang isinya kami (MT se-BPI raya) diundang mengikuti Kick-off BFLDP dan otomatis menjadi peserta BFLDP 2017.

Awalnya sih agak kurang ngeh kenapa kami bisa jadi peserta BFLDP dan bingung bedanya dengan program MT yang sudah kami jalani dan akan segera berakhir di akhir Agustus ini. Awalnya agak khawatir, apakah kami yang sudah jalan hampir setahun ini harus mengulang program serupa.

Tapi setelah Kick-off, akhirnya paham juga maksudnya apa.

Jadi, BFLDP sudah ada dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, BFLDP pada tahun-tahun tersebut hanya berfokus untuk memenuhi kebutuhan perusahaan induk kami. Setelah melalui berbagai pertimbangan seperti perlunya hubungan erat antar-unit usaha sedari awal, maka diputuskanlah 2017 menjadi tahun dimana program serupa diseluruh unit dilebur menjadi satu dan dikelola oleh BSS. Ada 24 orang peserta program dari berbagai unit tahun ini yang rata-rata adalah fresh graduate. Adapun unit yang bergabung dalam BFLDP 2017 adalah Bakrie Autoparts, Bakrie Building Industries, Bakrie Indo Infrastructure, dan Bakrie Pipe Industries. Saya dan teman-teman MT BPI yang sedari awal diseleksi dan mengikuti program yang dikelola secara mandiri oleh HRD unit pun jadi diikutkan BFLDP.

Ekspektasi terhadap program ini terkskalasi cukup tinggi pada saat Kick-Off. Ada Pak Irwan Sjarkawi, Preskom Bakrie Brothers. Ada Chief dari tiap unit. Ada pemaparan strategis tentang grup Bakrie ke depannya. To be honest, I never expect they took the program this serious.

Program ini dibagi menjadi beberapa tahap: Personal development training, Inter-unit field visit, in class training for marketing, operations, and finance, dan tentu on the job training. Setiap kuarter akan ada presentasi tentang progress program dan project dan dievaluasi. MT angkatan saya di BPI hanya mengikuti 2 tahap saja: Personal development training dan inter-unit field visit. Ini karena kami sebelumnya sudah mendapatkan materi in class di pabrik oleh manajer masing-masing yang dinilai cukup setara dengan in class training BFLDP (agar tidak dobel).

Saya baru saja menyelesaikan personal development training terakhir Rabu kemarin. And it was higher than my expectation! All of it!

Training pertama yang kami terima setelah kick-off adalah “Effective Self Management”. Materinya dari membangun komunikasi efektif, human relation, mengelola konflik, hingga mengelola waktu. Bagian favorit saya jelas soal komunikasi dan human relation. Saya cukup bermasalah dengan kedua hal tersebut. Percaya atau tidak, training kemarin benar-benar mengajarkan banyak hal dalam membangun human relation dan komunikasi lebih baik. Tentang bagaimana mengenali siapa yang saya hadapi dan bagaimana berkomunikasi dengan orang tersebut. Dulu sih, seringnya terlalu egois dengan ‘bodo amat’. Sekarang jadi lebih peduli dengan detail-detail tentang lawan bicara hehe. Hopefully I can always apply it better and better. Bagian menyenangkan lain tentu saja bisa kabur dari rutinitas pabrik selama 4 hari penuh (1 day kick-off preparation + 1 day kick-off + 2 days training). Saya selalu suka training karena berarti bisa rehat dari urusan pabrik hahaha. Mei kemarin juga saya diberi kesempatan training Production/Operation Planning and Inventory Control di Menteng seminggu penuh, senangnyaaaa.

Personal development training kedua (atau terakhir) adalah tentang Presentation Skill. Ini juga bagus sekali. Trainernya adalah chief HRD BA, Pak Rida Jacobalis. Saya pikir training ini akan jadi “begitu saja” karena sebelumnya saya pernah ikut seminar macam ini di kampus tapi sayang tidak banyak yang didapat. But, hey, ternyata ini beda! Detail sekali, dari anjuran penggunaan visual aids seperti teknis desain presentasi, cara berdiri, cara bicara, cara menjawab pertanyaan, pentingnya pembuka dan penutup presentasi yang berkesan, sampai anjuran grooming. Dulu-dulu saya selalu merasa presentasi saya sudah cukup bagus. Tapi training ini akhirnya bikin kepercayaan diri saya yang ketinggian itu langsung turun drastis. Baru sadar kalau presentasi saya kacau sekali selama ini. Bicaranya terlalu cepat, acak-acakan, kurang terstruktur, kurang detail (karena selalu merasa audience paham apa yang saya bicarakan). Setelah dicekoki latihan dan teori di hari pertama, hari kedua kami dihabiskan untuk presentasi betulan tentang unit masing-masing, satu-per satu. 8 menit presentasi, 2 menit tanya jawab. Dengan penampilan rapih dan wajib improving dari presentasi awal.


A post shared by Kadek Dwika (@yundarani) on
Presentation Day

2 hari setelah training, kebetulan saya mengisi acara untuk orang tua dan calon mahasiswa baru di kampus. Hari itu saya memperhatikan Ibu Ananda, seorang dosen Ilmu Komunikasi dan juga Kepala Bagian Marketing kampus, saat membuka sesi beliau menggunakan menjawab pertanyaan persis seperti yang diajarkan Pak Rida saat training. Listen, Rephrase, Check, Answer, Confirm. Begitu juga saat Pak Boy, dosen Business Information System ketika beliau menjawab pertanyaan. Woahhhh. Tapi ya, ternyata susah untuk secara tertib menjawab pertanyaan dengan metode itu. Saat saya presetasi di depan mereka, tetap saja lupa me-rephrase and check the question dan confirm the answer. Tapi cukup oke lah, hari itu saya berhasil sedikit mengerem kecepatan bicara dan sudah agak lebih detail bicaranya.

Satu lagi manfaat lain dari dileburnya program ini adalah kami jadi tau lebih banyak tentang unit lain yang ada di Grup Bakrie. Selama 9 bulan MT sebelum akhirnya masuk BFLDP, yang saya tahu ya cuma BPI. Saya tahu unit lain hanya sebatas nama perusahaannya saja. Di BFLDP, lewat field visit kami dibawa mengunjungi pabrik-pabrik yang dimiliki oleh unit. Kami diajak melihat langsung proses casting di BA, proses machining di BMC, proses produksi Harflex dan Versa di BBI, dan tentu proses produksi pipa baja di tempat kami. Insight-nya: banyak yang dikerjakan, grup ini adalah satu keluarga yang cukup besar.


Field Visit to Bakrie Autoparts
Dan setelah semua training dan program yang hampir selesai ini, saya berharap semoga tidak sia-sia apa yang mereka investasikan pada saya, sebagaimana juga semoga tidak sia-sia waktu yang saya habiskan di sini.
Wish me luck!

P.S.
Tulisan ini hanyalah sebentuk excitement saya terhadap program yang sedang saya jalani.
P.P.S
Program saya akan berakhir akhir bulan ini. Belum bikin laporan. Sebenarnya sih daripada saya menulis panjang lebar di post ini harusnya saya menulis laporan akhir. Tapi ya, sama seperti permasalahan menulis skripsi, rasanya malas sekali. Ugh.

Harapan Indah, 13 Agustus 2017 10:44 PM


Readmore → BFLDP 2017: A Personal Point of View

Thursday, June 15, 2017

Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Bagian 3 - Akhir

On Hold

Couple hours before my flight leaving for home, I got an interview with an area manager of a multinational beverage company in Jakarta Selatan. It was my first user interview! 
  
Karena deg-degan menunggu interview, akhirnya saya googling dan menemukan satu thread panjang tentang posisi tersebut. Isinya kurang lebih tentang ekspektasi para peserta seleksi yang jauh dari bayangan. Banyak di antara mereka sepertinya berpikir bahwa menempati posisi itu berarti akan bekerja sebagai karyawan elit di kantor megah. Mereka langsung goyah ketika belum apa-apa ditanyai soal kepemilikan atas SIM C. Dan ya, ketika masuk ruangan, si user langsung tembak dengan kalimat "Sebelum saya mulai interview, saya mau kasih tahu kamu sesuatu dulu. Soalnya sayang saja kalau sudah lama-lama interview tapi ternyata kamu tidak mau pekerjaan ini." 

Beliau menanyakan soal SIM C persis seperti yang dibahas di thread, beliau juga menanyakan soal masuk kerja saat akhir pekan, menanyakan soal jam kerja yang mulai pagi-pagi sekali dan pulang akan terlambat, datang ke toko-toko. Sejujurnya pertanyaan-pertanyaan itu sedikit bikin gentar, tapi entah kenapa rasanya juga bersemangat sekali. Membayangkan diri harus bersusah payah panas-panasan dari toko ke toko naik motor sendiri, Gila! Jika saya menceritakannya kembali beberapa tahun kemudian pasti keren! Hahaha naif sekali, memang. 

Setelah obrolan tentang calon pekerjaan, sebenarnya saya dan bapak pewawancara lebih banyak ngobrol tentang hal lain: Bali, karena kami berdua berasal dari pulau yang sama. Satu hal yang sangat saya ingat dari obrolan itu adalah "kamu harus punya pilihan kamu sendiri". Kalimat ini muncul setelah saya bicara soal sebagian besar hal-hal saya jalani sebenarnya agar sesuai dengan harapan ibu saya. Karena saya, bagaimanapun menyebalkan kelakuan saya di rumah, saya sayang sekali dengan ibu. Pasti kalian juga begitu :)

***
Salah satu bagian dari rute Dps-rumah harus melewati bukit dan perkebunan cengkeh di sisi jalannya, masih 30 menit dari rumah. Di area ini sinyal susah sekali, kalaupun ada kualitasnya tidak bagus. Dan entah kenapa telfon dari HRD CCAI harus datang di tempat seperti ini. Telfonnya tidak terdengar jelas dan bahkan terputus sebelum informasinya bisa ditangkap. Ah, rasanya agak panik juga. 

Beberapa menit setelah sampai rumah, handphone berdering lagi, nomor yang sama. Seorang laki-laki di ujung telepon kembali mengenalkan diri dan mulai menjelaskan benefit yang akan didapat setelah menandatangani kontrak. Sebagai first job-er, saya bersemangat sekali! I will pay my own bills! ahaha. 

Seperti biasa, untuk hal-hal seperti ini harus dibicarakan dengan ibu bapak. Karena sebenarnya saya juga sedang menunggu hasil interview di tempat lain yang posisinya mirip: management trainee.

Ketika bercerita tentang gambaran pekerjaan di CCAI, bisa dipastikan ibu membayangkan dan tidak mau anaknya angkat-angkat krat minuman dari toko ke toko walalupun itu adalah bagian dari program. Walaupun entah kenapa anaknya bersemangat sekali. Dan ya, karena pertimbangan ibu, saya merelakan tawarannya. "Nothing to lose. Seumpama nanti tidak lulus interview satunya juga tidak apa, berarti saya belum cocok dan tinggal cari lagi yang pas."

***
Saya dapat telfon lagi! Kali ini dari Dinda. Kami kenal setahun lalu (kala itu). Dia sedang magang dan saya kerja praktik di tempat yang sama. Teman makan siang. Dinda sudah lulus duluan dan sekarang sedang menelfon sebagai staf HRD yang mengabarkan berita baik: BOD interview di Bakrie Tower Lt. 7 hari Selasa. Dia menelfon hari Jumat siang, saya masih di Bali. Duh.

Tapi beruntung, interviewnya bisa dijadwalkan kembali setelah lebaran. Dan interview kali ini tidak santai seperti sebelumnya. Interviewernya pun banyak, yang belakangan saya baru tahu bahwa mereka adalah Chief HRD, Chief Logistics, dan GM Plant. Maklum, saat interview saya tidak bisa mengingat nama dan posisi mereka. Mengingat nama di awal pertemuan adalah kelemahan. 

Interview bersama BOD sebenarnya agak membuat kehilangan semangat. Jawaban-jawaban yang saya berikan rasanya kurang sesuai dengan ekspektasi mereka. Terutama pertanyaan seputar masalah diangkat dalam skripsi. Interview yang diakhiri dengan "Sebenarnya jawaban yang saya harapkan adalah ...." dari seorang chief. Jatuh berkeping-keping. Rasanya waktu itu ingin ditelan bumi saja. 

***
Awal September, sudah tidak tehitung berapa kali menjejak ke pabrik ini. Kerja praktik, skripsi, seleksi-seleksi MT. Kali ini saya datang sebagai anak baru! Ada 4 orang termasuk saya. Perempuan sendiri. Tiba-tiba saya teringat pertanyaan salah satu manajer ketika interview pertama: "kenapa kami harus memilih kamu yang, maaf, bukannya bagaimana, tapi kamu perempuan, di pabrik. kenapa kami harus memilih kamu?" 

Awalnya kami berempat, dibulan kedua jadi berlima. Foto diambil di SEAPI, Lampung.
Dan inilah bulan kesepuluh saya di Bakrie Pipe Industries :)


Bekasi, 15/6/2017 10:21 


Readmore → Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Bagian 3 - Akhir

Monday, June 5, 2017

Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Intro

Tulisan ini bersifat personal, flashback, cerita tentang perjalanan yang membawa saya mengetik dari sebuah ruang tak luas di sudut Harapan Indah, Bekasi saat ini.

Dimulai dari pagi yang normal di ruang TV rumah. Pagi-pagi biasanya TV sudah dinyalakan ibu untuk membangunkan kami. Sering kali ketika bangun, ibu sudah berangkat. Saya biasanya akan memulai hari dengan duduk di depan TV yang sedari tadi mengoceh sendiri. Sembarang menonton tapi tak benar-benar memperhatikan. 

Hari itu tanpa sengaja sebuah iklan dengan durasi kurang dari 30 detik diputar. Hanya tulisan statis di layar ANTV. Iklan yang 3 tahun kemudian membawa saya kuliah di Jakarta.

Iklan itu lebih mirip pengumuman. Pengumuman tentang beasiswa Sarjana (S-1) penuh dari sebuah kampus swasta di Jakarta. Kampus yang menyandang nama salah satu keluarga kaya raya Indonesia.

***
Dan sampailah saya pada masa kelas 3 SMA. Masa ketika kami semua galau menentukan akan masuk kampus mana. Ketar-ketir kalau kalau tidak diterima di kampus yang diinginkan. 

Begitu pula saya. 

Saya masih ingat dengan iklan yang dilihat cuma sekali 3 tahun lalu. Berkat bantuan google, saya sampai pada laman universitas tersebut. Kemudian menjadikannya sebagai Rencana B. 

Ternyata saya lulus ujian masuk dengan beasiswa penuh di Jurusan Teknik Industri. Jurusan yang sama dengan Rencana A. 

Ternyata, saya tidak lulus Rencana A. 

*** 
4 Tahun kemudian saya lulus sebagai Sarjana Teknik, dihadiahi gelar Lulusan Terbaik Jurusan Teknik Industri dan predikat Cumlaude.

Dan, ya, sebulan sebelum diwisuda, saya baru saja mulai bekerja di salah satu perusahaan milik keluarga dengan nama yang sama dengan kampus saya. Keluarga yang mendirikan yayasan yang menguliahkan saya gratis: Kelompok Bakrie.

***
Bulan ini adalah bulan kesepuluh saya sebagai Management Trainee di perusahaan tersebut. Sebenarnya ada banyaaaak sekali yang ingin dibagi, saking banyaknya sampai bingung harus mulai dari mana. 

Maka, anggaplah ini sebagai intro. 

Beberapa post ke depan adalah cerita-cerita saya di Universitas Bakrie dan Bakrie Pipe Industries. 

Oh ya, biasanya yang muncul pertama di benak orang ketika tahu saya berasal dari kampus yang namanya sama dengan perusahaan saya bekerja adalah "langsung disalurkan ke perusahaan ya?". Langsung saja saya jawab di sini, jawabannya: tidak. Saya memulai semua prosesnya dari awal seperti pencari kerja lain. Nanti saya ceritakan lebih lanjut yaaa..

***
I'm overwhelmed tapi harus tidur karena besok pagi harus menempuh rute yang berat: Bekasi-Jakarta hahaha.  


Harapan Indah, 05/06/2017 0:47
Readmore → Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Intro