Thursday, December 31, 2020

2020

Halo! Sejujurnya bingung bagaimana harus memulai tulisan ini dengan baik (re: tidak canggung atau kaku) hehe. Tapi mari kita mulai saja...

Hari ini adalah 31 Desember 2020. Hari terakhir dari tahun yang bagi banyak orang adalah tahun yang kurang bersahabat. Saya lihat di berbagai post sosial media kalau rencana mereka banyak yang harus ditunda atau bahkan dibatalkan, padahal sudah disiapkan dari jauh jauh hari. Tahun ini sepertinya memang berat bagi sebagian besar orang di dunia.

Bukannya mau berbahagia di atas kesusahan orang lain, tapi tahun ini saya cukup beruntung. Boleh dibilang, hidup tidak terdampak sebegitu besar. 

Dan seperti biasa, ini adalah rekap cerita saya di tahun ini.

Pertama: Menyelesaikan kuliah untuk kali kedua.
Highlight ringkasan 2019 kemarin adalah momen saya masuk kuliah lagi dan highlight tahun ini adalah saya lulus. Ada hal yang cukup menarik dari perkuliahan 2020 ini, seperti yang juga dialami semua pelajar di dunia: kuliah online. 

Saya masih ingat, minggu kedua perkuliahan di gedung Business School, kami cuma 5 orang yang hadir. 4 pria dan satu wanita duduk menyebar di ruang kelas berkapasitas 50an orang. Hari itu ada temuan kasus kedua di kampus kami dan semua orang bersiap-siap untuk mengisolasi diri untuk menghindari virus. Jadilah hanya kami berlima yang datang ke kampus hahaha. Minggu berikutnya, kelas dijalankan dalam jaringan. Kuliah online berlanjut hingga saya lulus! Jadi dari 4 term saya kuliah di UNSW, hanya 1 term yang kuliahnya normal.

Kalau boleh jujur, masa isolasi/karantina/lockdown di Sydney adalah waktu yang biasa saja buat saya karena memang terbiasa apa apa sendiri dan tentu saja karena saya socially awkward. Jadi di masa itu, saya agak senang karena apa yang saya lakukan selama ini menjadi hal yang normal bagi semua orang sekarang hahahah~ Tapi selain itu juga karena kehidupan di saya tidak terlalu terdampak (masih bisa pergi pergi dalam radius tertentu untuk belanja/makan, pusat perbelanjaan tutup tidak terlalu lama). Masalah utama di masa itu ya soal semangat belajar yang boleh dibilang agak melempem. Terutama di Term 1 2020. 

Pada akhirnya, dengan semua drama drama kecil perkuliahan dan pergeseran prinsip dari yang biasanya "ambisius mengejar nilai paling bagus" ke "nilai optimal dengan usaha minimal", ternyata semuanya selesai juga. Di target tahun lalu ambisius sekali mau mengejar 4 HD dan pada akhirnya hanya kesampaian 2 :))) Tapi saya senang sekali kok! Dua mata kuliah yang nilainya HD adalah mata kuliah yang saya suka dan kerjakan dengan paling sepenuh hati.

Bonus: masuk tim sim game untuk kampus, ditawari jadi tutor untuk tahun depan. 


Oh ya, karena tadi saya sedikit menyinggung soal target tahun lalu, saya sekalian review ah~
Kemarin itu ada 3 target karir. Updatenya: on progress, tidak bisa bicara banyak. Harapannya sih awal tahun besok ada berita baik he he. 

Soal target senang senang, buyar semua. Blame it to the pandemic! HAHA. Kemarin ya cuma di Sydney, tidak kemana mana and I'm totally okay with that. Kalau dipikir-pikir, sih, I'm not that 'travel person'. Orang road trip dikit udah cape, long flight dikit kepikiran~

Tapi kabar baiknya adalah:

Kedua: menemukan teman teman baru.
Tidak banyak, bisa dihitung jari, tapi saya benar benar mengapresiasi hubungan yang dibangun. Mulai dari teman-teman Indonesia yang saya temui di kampus sampai orang lokal yang saya kenal di komunitas relawan kampus. Mereka membuat kehidupan perkuliahan dalam quarantine menjadi lebih seru dengan segala ritual jajan. 





Ketiga: membuka mata akan nilai-nilai yang penting bagi diri saya.
Personal value mulai saya kenal ketika mengambil mata kuliah Professional Skills & Ethics. Selama perkuliahan berjalan, saya semakin mengenal dan memahami nilai-nilai apa saja yang ternyata sangat penting bagi saya dan bagaimana memperjuangkan nilai tersebut. Saya merasa kalau membawa manfaat bagi orang banyak adalah salah satu hal yang sangat penting dan menjadi pertimbangan untuk membangun karir nanti. Ya, kurang lebih seperti itu. 

Keempat: belajar bahasa Prancis.
Ada dua pemicunya:
1. Nonton Emily in Paris
2. Merasa perlu belajar hal baru
Jadilah saya mendaftar kursus bahasa Prancis di IFI. Nah, salah satu sisi baik dari pandemi kali ini adalah berbagai hal jadi online, termasuk kursus bahasa Prancis ini! Baiknya lagi, jadwalnya pas sekali (pagi waktu Jakarta, siang waktu Sydney). Sebenarnya sih dari dulu saya ingin sekali belajar bahasa asing. Beberapa tahun lalu pernah sampai datang ke Goethe-Institut di Jakarta untuk daftar kursus bahasa Jerman tapi waktu itu slotnya sudah habis. huh. Eh ternyata kesampaiannya belajar bahasa Prancis.
Niatnya sih mau belajar lebih lanjut tahun ini. Mau benar-benar diseriusi. Semoga jadwalnya cocok dengan jadwal kerja nanti.

Ya, kurang lebih itu sih yang bisa saya bagi tentang 2020. 
Sekarang ke bagian menyenangkan berikutnya, membuat harapan-harapan untuk 2021!!

Saya memikirkan apa yang ingin saya lakukan tahun depan sembari menulisnya sekarang. Apa ya..
1. Mengajar. Belajar untuk mengajar, mungkin di kampus lama.
2. Coding. Setidaknya fasih menggunakan R atau Phyton, please. 
3. French. Lulus A1 (yang butuh 90 jam lagi).
4. Menabung dengan konsisten :)
5. Mulai fokus untuk navigasi karir, oke?
6. Nonton konser mooner/albert hammond jr/dualipa, pleaseeeeeeee. finger crossed.
7. Jualan lagi.
8. Membaca: 12 buku.

Oh ya, pengen juga sih nulis olahraga di daftar di atas cuma sepertinya saya belum siap aahahaha.

Oke, sepertinya daftar di atas cukup feasible. hehe. Semoga rencana-rencana 2021 kalian juga seru ya! Entah tercapai atau engga, ya yang penting diusahain dulu hehehehe. 

Selamat tahun baru! 
Readmore → 2020

Sunday, June 28, 2020

Beralih ke Menstrual Cup

Sudah lama sekali tidak menulis untuk blog ini! Banyak hal yang terjadi, termasuk perasaan rendah diri yang mengganggu sekali. Huh. 

Kali ini saya ingin bercerita saja tentang pengalaman berganti dari pembalut konvensional ke menstrual cup (menscup)!

Lunette Menstrual Cup


Sebenarnya sudah lama sekali ingin mencoba pakai menscup, mungkin sejak tahun 2018 setelah membaca Bumi atau Plastik. Tapi saat itu rasanya harga menscup mahal sekali, sekitar 700ribu sampai 1 juta rupiah lebih. Kalau dihitung-hitung dengan harga pembalut di Indonesia, harga setahunnya pun belum sebanding. Sebagai bayangan, harga pembalut yang biasa saya pakai (Laurier Super Slimguard) isi 20 pieces adalah 28.000, sepotongnya berarti 1.400 rupiah. Siklus haid saya berlangsung 4 hari dan dalam sehari ganti pembalut sekitar 3-4 kali. Jadi satu kali masa haid, saya rata-rata menghabiskan 15 x 1.400 = 21.000 atau sebanyak 252.000 setahun. Masih sekitar sepertiga dari harga menscup. Memang sih menscup ini bisa dipakai bertahun-tahun, tapi karena seluruh harganya dibayar di muka, saya jadi bolak-balik pikir-pikir dulu. Terlebih lagi saat itu penjualnya belum banyak di marketplace seperti shopee dan tokopedia. Mau cari toko resminya di Indonesia pun belum ada.

Laurier di situs klikindomaret
Singkat cerita, beberapa bulan setelah pindah ke Sydney, saya mulai melihat-lihat lagi soal menscup. Ada 2 hal yang menarik perhatian. Pertama, pilihan merk yang tersedia beragam sekali dan bisa didapatkan dengan mudah baik melalui situs resmi merknya dan juga lewat Amazon. Kedua, harganya hampir setengah harga di Indonesia! Akhirnya saya putuskan membeli Lunette yang saat itu sedang diskon dengan harga sekitar 400ribu rupiah. Senang sekali!! Oh ya, kalau di sini, harga pembalutnya cukup mahal. Untuk pembalut superslim seperti yang saya gunakan di Indonesia harga per kemasan isi 20 potong adalah AUD5.8 atau sekitar 56.000 rupiah. Jadi pengeluaran untuk pembalut di sini jadi 2 kali lipat! Makanya keputusan beralih ke menscup menjadi semakin bulat.

Libra di situs Coles
Jujur rasanya degdegan sekali ketika pertama kali mencoba. Saya membaca instruksi manualnya berulang kali begitu juga menonton video tutorialnya. Ceritanya juga sempat saya bagikan di instagram. Intinya sih, percobaan pertama tidak langsung lancar. Ada insiden menscup tidak masuk dan jatuh karena tangan terlalu gugup hahaha. Ada perasaan mengganjal karena tangkai menscup belum saya potong. Sampai akhirnya pada satu siklus itu, saya coba bandingkan dengan menggunakan pembalut biasa kembali di hari ke 3 dan 4. 

Sebagian cerita di instagram story saya

Ada beberapa hal yang ingin saya garis bawahi dari pengalaman 2 siklus menggunakan menstrual cup:

1. Seperti tidak sedang menstruasi. It's a freedom!

Sejujurnya ini melampaui ekspektasi. Tidak pernah terbayang kalau menggunakan menscup bisa sebegitu mentransformasi pengalaman menstruasi dari yang awalnya riweh harus berganti pembalut tiap beberapa jam sekali dan menghadapi lembab serta bau menjadi sangat ringkas. 

Menghadapi masalah penggunaan pembalut konvensional yang sama setiap bulan selama belasan tahun ya jadinya terbiasa. Namun, ketika menggunakan menstrual cup, duh, benar deh, rasanya sampai lupa kalau sedang haid. Tidak ada keribetan-keribetan harus sering ganti. Tidak ada perasaan 'mengganjal' karena lembab dan bau di bawah. Rasanya tidak pernah sebebas ini!! Percayalah, ini tidak dilebih-lebihkan. Bagi saya, rasanya mirip seperti mendapatkan kebebasan karena dulu, setiap bulan, saya harus menambah beban pikiran atas siklus menstruasi semacam "duh belum ganti pembalut, lembab" atau "duh lagi deras banget ya flow darahnya" dan pikiran pikiran 'kecil' lain yang sebenarnya mengganggu tapi kita tidak sadari karena sudah 'terbiasa'. Ketika memakai menscup, awalnya saya heran, "eh ini sedang haid? kok tidak berasa?". Aktivitas mengosongkan cup pun cukup ringkas karena sekalian mandi. Atau kalau sedang banyak, saya mengosongkan maksimum 3 kali di hari pertama saja. 

Sampai sampai terpikir, kenapa ya baru tahu sekarang? Jadi tiba tiba terpikir juga, ratusan tahun peradaban manusia modern, kenapa ya inovasi produk menstruasi minim sekali? Dan ketika ada, kenapa mahal sekali? Seumur-umur, di rak toko-toko di Indonesia, pilihan produk menstruasi yang saya lihat ya cuma pembalut itu. (Ini secara umum, ya. Bukan toko-toko high-end di pusat perbelanjaan kota-kota besar). Mungkin ya karena itu yang paling terjangkau untuk pasar kita. Tapi...masa iya setega itu dibiarkan terus menerus? Masa iya tidak ada yang menyadari keribetan menstruasi ini? 

2. Skill baru, butuh latihan

Seperti yang disebutkan di atas, percobaan pertama menggunakan menscup tidak langsung lancar. Waktu itu sempat 2-3 kali percobaan sebelum benar benar terpasang dengan baik. Namun, seperti juga skill lain dalam hidup, setelah berlatih beberapa kali, di siklus mens kedua, saya mulai paham trik trik yang bisa diterapkan. Awalnya, saya mesti menarik nafas panjang dan mensugesti diri untuk rileks, kemudian sedikit bersandar agar bisa pasang dengan lancar. Saat siklus kedua, karena sudah tidak terlalu khawatir, 'ritual'-nya jadi jauh lebih cepat. Selain itu, teknik melipat menstrual cup yang paling cocok juga sudah diketahui dari beberapa percoban siklus sebelumnya. Jadi ya tinggal lipat, tarik napas, kemudian menuntun cup masuk dan terpasang dengan baik. Begitu juga saat melepaskan, awal-awal rasanya gugup sekali karena agak risih kontak langsung antara jari dan bagian dalam vagina. Tapi setelah itu ya ketemu sendiri cara termudahnya. Kalau saya sih dengan menarik batang menscup perlahan (back and forth) sampai dasar menscup bisa di-pinch dengan ibu jari dan telunjuk. Setelah itu tinggal ditarik pelan. Pesannya, sih, tidak apa kalau pengalaman pertamanya kurang menyenangkan, please try again until you master it :)

3. Mengenali vagina sendiri

Saya kira saya paham betul bagaimana vagina saya sampai ketika mencoba menscup, ternyata saya salah! Sedikit-banyak perasaan takut dan gugup muncul saat harus meletakan tangan di bagian bawah sana, meraba, memastikan apakah cup sudah terpasang baik. Perasaannya muncul mungkin karena saya mengira bagian itu 'fragile' dan takut akan bikin sakit atau semacamnya. Tapiiii, setelah semua percobaan-percobaan itu, saya baru benar-benar paham kalau vagina sama sekali tidak se-'fragile' itu. Hahaha. Ya buktinya saja perempuan melahirkan, dijahit, dan baik baik saja!! Nah setelah itu, karena sudah mengecek sendiri ya jadi tahu dan tidak canggung atau takut lagi.

4. Manfaat tambahan: lebih ramah untuk lingkungan

Banyak orang beralih ke menscup karena poin ini sebagai alasan utama. Mungkin banyak yang sudah tahu kalau pembalut konvensional tidak bisa didaur ulang sehingga menjadi sampah yang sangat susah terurai (baca: How tampons and pads became so unsustainable). Namun, bagi saya ini lebih seperti manfaat tambahan saja karena poin utama adalah kenyamanan saat digunakan. 


Sebagai penutup (yang lagi-lagi agak nanggung), saya bisa bilang kalau keribetan berlatih di awal sangat remeh kalau dibandingkan dengan kebebasan yang didapat dari pakai menscup. So, I think you should give it a try. Semoga tulisan ini bisa jadi tambahan untuk kalian yang sedang menimbang-nimbang untuk beralih :) 

Adios!

----------

Sebagian ditulis di kampus kemudian dilanjutkan di kamar kosan. 
Kingsford, 28 June 2020 23.22

Readmore → Beralih ke Menstrual Cup

Sunday, December 29, 2019

2019: Sekali Menjadi Mahasiswa

2019 adalah tahun yang unik karena beberapa hal baru yang cukup signifikan terjadi di tahun ini. Mulai dari jalan-jalan ke Oman, magang di start-up, dan akhirnya berangkat ke Sydney untuk kuliah S2. Oh ya, 2019 saya masih suka menang giveaway! Sekali di awal tahun, voucher belanja dari Sensatia Botanicals. Kemudian sekali lagi di akhir tahun, give away hari ibu dari The Body Shop Indonesia hahahahah. Keberuntungan saya masih berlaku!!
Quadrangle, taken during my first weeks of T3 in UNSW
Highlight utamanya tentu saja pada bagian sekali lagi menjadi mahasiswa dan kali ini di luar negeri. Bagi saya, hal ini kadang masih terasa tidak nyata. Tidak pernah terbayangkan kalau saya akan kuliah S2 secepat ini, di luar negeri pula. Ah, gila sekali. Tapi sejujurnya lebih gila lagi perjuangan bertahan melewati trimester akademik pertama saya di UNSW. Meskipun kami sudah dibekali dengan sangat cukup saat Pre-Departure Training, mengalami semuanya secara langsung tetap saja sensasinya berbeda. He he. Saya berencana menulis detail cara-cara bertahan melewati trimester akademik pertama sebagai mahasiswa S2 pada post terpisah nanti. 

Akhirnya setelah semua drama personal dan akademis juga ketakutan berlebihan akan kegagalan akademis, saya berhasil melewati trimester akademik pertama sebagai mahasiswa Master of Commerce! Cukup senang, sih, meskipun tidak terlalu bangga juga karena pencapaiannya juga biasa saja. Terutama karena setelah menyelesaikan ujian akhir, saya merasa seharusnya bisa mengusahakan lebih banyak untuk hasil yang lebih memuaskan. Tapi seperti kata Bapak dan Ibu saya, ini cukup bagus sebagai permulaan dan saya pun berjanji untuk lebih bekerja lebih keras pada trimester-trimester berikutnya. 

Dengan alasan di atas, salah satu resolusi 2020 saya adalah: 
1.  Lulus dengan outstanding, mengejar High Distinction pada minimum 4 dari 6 sisa mata kuliah, untuk menantang batas diri. 
Ini cukup beralasan karena tahun 2019 saya cukup santai, memang sih hasilnya cukup baik saja, tapi rasanya ada yang kurang saat sampai di penghujung. Kurang bergelora he he.

Tidak heran sih, lihat saja resolusi 2019 kemarin, sangat...tidak seru, tidak menantang.

"Karena 2019 adalah chapter baru hidup, saya berharap 
1. Keberangkatan ke AU bisa berjalan lancar -- alhamdulillah lancar meskipun drama. tapi kenapa saya menulis ini sebagai resolusi ya? Aneh
2. Menjadi master students yang aktif dan outstanding (learn a lot of new skills in programming, to be a communicative student, get a cool internship) -- I did an internship in Waste4Change -- before I started my study -- and that's cool! Tapi no programming skills earned yet and still not that communicative although my group members said that I'm friendly :))
3. Membuat banyak koneksi baru!! -- i made some good connection, but still not as many as I expected. But then, i started to understand that I'm an introvert ._.
4. Strawsellate bisa jalan sendiri -- nah, i closed it down. this is the hardest part of 2019!! Ditutup karena Strawsellate terlalu kecil untuk diurus orang lain dan saya sayang sekali seperti anak sendiri. Jadi tidak mau sembarang titip.
5. Nonton banyak konser! --> Disiplin secara finansial: mulai menabung. (Update 13/1/2019) -- cuma nonton Rich Brian di Sydney, sudah mulai menabung meskipun masih sedikit.
6. Ke NZ -- pindah jadi akhir tahun ini.
7. Laptop baru -- sebenarnya bingung kenapa nulis ini di resolusi, padahal kan memang sudah jelas-jelas direncanakan dalam daftar belanja. 
8. Membuat program yang bermanfaat untuk kampung -- hehe, belum"
Selain soal akademis, di tahun 2020 saya mesti kembali memikirkan persiapan karir. Jika semuanya lancar, Desember 2020 akan menjadi akhir perkuliahan saya. Setelah itu saya akan kembali ke Indonesia untuk bekerja--setidaknya ini yang saya pikirkan saat ini. Meskipun tidak menutup diri juga untuk kemungkinan bekerja di negara lain (jika ada). Untuk saat ini, saya masih fokus pada tawaran kembali ke perusahaan lama dan juga untuk menjadi dosen. Saya berharap bisa melakukan keduanya secara bersamaan. Apakah mungkin? Tidak tahu juga sih, belum ada ancang-ancang resmi he he. 

Dengan ini, resolusi karir 2020 saya adalah:
2.  Mendapatkan pekerjaan baru
3. Bekerja untuk perusahan/organisasi yang menghargai -- atau setidaknya tidak bertentangan -- dengan nilai-nilai pribadi saya.
4. Mendapat tawaran mengajar di kampus secara resmi.

Selanjutnya urusan senang senang. Tidak muluk-muluk, resolusi jalan-jalan 2020:
5. Mengunjungi pantai-pantai cantik di Sydney dan mengambil foto setiap pantai yang saya kunjungi. Akan dibuat kolasenya di akhir tahun 2020.
6. Mengunjungi pulau Tasmania.
7. Menghadiahi diri dengan liburan ke New Zealand setelah kelulusan.

Sepertinya itu saja sih resolusi 2020 saya. Saya berusaha untuk membuatnya se-achievable-yet-still challenging mungkin. Oh ya, resolusi tahunan ini memang rutin saya post setiap tahun sedari 2016 dan rasanya ini sangat membantu mengingat apa yang dilakukan sepanjang tahun yang lalu dan apa yang ingin dicapai selanjutnya. Iya, sebagai pengingat untuk tahun tahun berikutnya juga. 

Oh ya, kali ini saya juga tidak bercerita banyak soal tahun ini karena memang sebagian besar isinya soal kuliah lagi (dan sudah saya tulis beberapa post soal itu).

Selamat tahun baru 2020! Semoga kamu juga bersemangat menyambut 2020 ya :)
Readmore → 2019: Sekali Menjadi Mahasiswa

Wednesday, October 30, 2019

Minggu Ketujuh

Saya sedang duduk di salah satu bangku taman depan gedung E19. Minggu-minggu belakangan rasanya jauh membaik. Terutama urusan mood yang sekarang sudah tidak gloomy terus hehe. Oh ya, ini adalah minggu ketujuh perkuliahan. Dari 3 mata kuliah yang saya ambil pada term ini, 2 di antaranya sudah melewati tahap pengumpulan tugas individu dan satunya sudah UTS. 

Saya sempat khawatir sekali dengan UTS kemarin, takut tidak lulus. Bukan, bukan soal malu, tapi lebih kepada ketakutan kalau sampai gagal, gimana saya bayar biaya untuk ngulang? Hahaha, tentu saja ketakutan ini tidak beralasan. Saya datang ke student contact officer untuk menanyakan ini dan beliau bilang saya tidak perlu khawatir soal biaya, semua sudah diperhitungkan. Saat hasil UTS keluar, nyatanya juga nilai saya tidak buruk buruk amat, hehe. Ketakutan berlebihan dan panik tanpa alasan yang kuat adalah dua hal yang sampai saat ini masih jadi masalah. Tapi tidak apa sih, toh belakangan sudah lebih bisa mengendalikan diri dengan mendatangi orang yang tepat untuk diajak bicara soal masalah-masalah terkait. 

Kalau hasil essay pertama kemarin tidak heran juga nilainya 'hanya' segitu karena saya sudah berekspektasi dari awal juga berkaca dari essay sebelumnya saat IAP. Saya tahu betul dimana kelemahan tulisannya, tapi masih belum berhasil mengatasi. Salah satunya ya karena belakangan masih suka mengerjakan tugas di menit-menit terakhir. Yang satu ini susah sekali untuk dicari jalan keluar. 

Essay kedua.. belum tahu, tapi sepertinya akan 11 12 lah dengan yang pertama. Apakah kecewa? Tidak sama sekali. Sejujurnya pola pikir semenjak IAP cukup banyak berubah. Soal kuliah untuk apa dan tujuan yang mau dicapai apa, bukan lagi nilai tinggi. Lagi pula saya sadar kemampuan menulis dalam bahasa Inggris saya memang tidak sebagus itu. Pilihan kata terbatas, alur logisnya masih banyak lubang. Jadi yang saya lakukan belakangan ya sebisa mungkin memahami materi yang disampaikan di setiap sesi kuliah, meskipun ketika harus menulis untuk menjawab masalah pada essay, jawaban saya belum bisa tersampaikan dengan baik hehe. Iya, iya, terdengar denial. 

Selepas minggu kelima, kami mulai masuk dalam tugas kelompok. Nah, ini menarik sekali. Berkat tugas kelompok ini saya baru tahu bahwa masalah komunikasi karena beda latar belakang bahasa bisa menjadi masalah yang cukup menantang. Jadi ceritanya di semua kelompok saya, semua anggotanya berasal dari latar belakang pekerjaan, pendidikan, dan negara yang berbeda. Di salah satu kelompok tersebut isinya adalah saya, seorang dari Malaysia, seorang dari Cina, dan seorang dari India. Masing masing dari kami berbicara bahasa Inggris dengan aksen berbeda dan tidak jarang I lost in translation!!! Hahahahah. Teman India saya berbicara saaaangat cepat dan biasanya ngegas, jadi terdengar seperti marah marah terus. Teman yang dari Cina ini pelafalan katanya masih sangat chinese. Kemudian saya, sering kehilangan kata bahasa Inggris dan berhenti ditengah-tengah kalimat. Beruntung si teman Malaysia berhasil menengahi semua diskusi kami yang bisa dibilang cukup berantakan hahaha. Saya rasa sih ini bukan soal lafal dan logat saja, tapi juga soal budaya kami yang berbeda dalam menyampaikan sesuatu sehingga ketika berbicara bahasa Inggris, yang kami tangkap pun tidak sama. Sempat saya ribut karena hanya karena salah paham maksud satu pertanyaan yang diajukan. Saya ngotot dengan jawaban saya, dia ngotot itu bukan jawabannya. Untungnya ya ditengahi orang Malaysia tadi. HAHAHA akhirnya saya paham pertanyaan dan jawaban ini tidak singkron.

Belum lagi dengan dua grup yang lain nanti... we'll see. 

Apa lagi ya..

Tidak sabar untuk segera sampai di minggu kesepuluh, mengakhiri term pertama saya di UNSW kemudian liburan musim panas!
Readmore → Minggu Ketujuh

Monday, October 7, 2019

Belum Tidur

Saya belum bisa tidur. Sudah pukul 01.53 pagi waktu Sydney. Harusnya sudah tidur dari tadi karena besok ada banyak rencana. Pergi ke pusat kota, pekerjaan pekerjaan rumah, hingga tugas tugas kuliah.

Ini minggu kesepuluh saya di Kingsford. Sudah selesai Introductory Academic Program, sudah masuk minggu ke-4 perkuliahan, sudah submit tugas pertama yang diketik dengan susah payah karena motivasinya susah sekali terkumpul, sudah tidak dingin lagi di sini, sudah ke Auburn jadi ralawan konservasi, tapi masih kadang sedih karena beberapa hal yang sama. hehe.

Setiap kali orang bilang,"udahlah, banyak yang lain, kok." Jawaban saya masih konsisten, "waktu kalian dulu selesai memangnya langsung bisa lupa? kan saya baru dua bulan." Begitu kira-kira pembelaan saya. hehe.

Hari ini memutuskan menulis karena rasanya butuh bercerita tapi harus diakui kalau umur 25 itu teman teman di sekitar kita juga sedang susah susahnya dengan masalah masing masing. Jadi rasanya tidak adil saja kalau saya merengek minta didengarkan dan di-"puk-puk"

Oh ya, saya akhir pekan kemarin saya melakukan beberapa hal kecil yang ternyata bikin punya arah baru! Ada dua hal sebenarnya. Pertama, mulai mengirim kode kepada dosen saya di kampus lama untuk bisa diajak mengajar. hehe. 

Sebenarnya ini benar-benar tidak direncanakan sih. Jadi Jumat kemarin dosen di salah satu mata kuliah saya mengingatkan tentang pentingnya online presence bukan hanya di linkedin, tapi juga di sosial media lainnya. Beliau bilang soal biarkan orang tahu tentang dirimu sebatas yang kamu rasa nyaman dengan itu. Misalnya kalau kamu suka kucing ya, gak masalah kamu post foto kucing dan suka bahas kucing di instagram atau twittermu. (iya, ini mungkin hal yang semua orang tahu. tapi saya beberapa waktu belakangan cukup tertutup di media sosial karena takut orang lain--yang tidak saya kenal--tahu sisi lain diri saya). Kemudian di sesi tutorial, tutornya mengemukakan kalau sebenarnya komunikasi itu lebih mudah ketika kamu mengenal dirimu sebagaimana juga orang lain mengenal kamu. Authenticity. Gak ada yang salah dengan itu, bahkan di banyak kasus malah membantu.

Kemudian malamnya, entah karena angin apa, saya mengirim pesan pada rekan kerja di tempat lama. Kami tidak terhubung di instagram, tapi saya kirim direct message lewat instagram. Dia bilang, "kamu bener di australia kan dwika?" Kalimat itu membuat saya berpikir lagi, sepertinya ada yang salah ya dengan branding saya hahaha. Saya putuskan untuk upload 1 foto di feed dengan caption seadanya dengan tujuan mau mengabarkan saja kalau saya sudah di sini. naif sekali haha.

Foto tanpa intensi lebih ini ternyata menjadi tempat bagi saya dan ibu dosen di tempat lama untuk menyapa dan berbincang. Siapa sangka setelah beberapa minggu lalu saya berucap "gimana ya caranya ngode biar diajak ngajar?" ke seorang teman dekat, tiba tiba yang beliau yang muncul duluan!! Ajaib sekali.

Saya memang berencana mengajar di kampus lama sejak beberapa minggu belakangan. Tujuan hidup seperti diacak-acak. Belakangan saya bermimpi untuk menjadi pengajar paruh waktu dan tetap bekerja sebagai mba mba pabrik untuk beberapa waktu (sekalian menghabiskan sisa kontrak).

Kedua, mengirim lamaran magang ke perusahaan event untuk musim panas nanti. Saya juga sedikit bingung kenapa doyan sekali magang. Sebelum berangkat kemarin magang di Waste4Change lah, ini sekarang liburan musim panas 2 bulan juga mau dibuat magang. Tapi bukan tanpa sebab kok! Saya memang berniat belajar soal event karena mau bikin sendiri satu hari nanti, setelah lulus kuliah, mungkin. 

Sempat terpikir juga untuk tetap tinggal di Sydney selama musim panas jadi casual worker. Lumayan untuk tambah-tambah jajan. Tapi...karena saya ternyata juga oportunis, pikirannya berubah menjadi "mumpung ada kesempatan dan safety net, kenapa tidak mengerjakan hal yang kamu suka dan memang ingin coba?"

Tapi sebenarnya sih harapannya agak tipis. Saya tidak terlalu yakin email-email itu akan dibalas. Apalagi dengan kondisi tidak punya portofolio kreatif. Tapi siapa tahu? Ya, kan? Setidaknya sudah mencoba. Mana tahu saya beruntung dan Sarah Deshita mau berbaik hati membolehkan saya magang di Ismaya Live. Amin!

Ceritanya itu saja sih. Saya jadi lebih semangat buat cepat-cepat menyelesaikan kuliah sekarang. Cepat lulus, pulang dan mengejar semua hal hal menyenangkan.

Oh ya, daylight saving time sudah dimulai sejak kemarin pagi. Jam di sini jadi lebih cepat 1 jam. Beda waktu Jakarta-Sydney jadi 4 jam. Menyebalkan sekali. Waktu adalah fana teman teman!! hahaha

Selamat istirahat semua. 

Kingsford, 7 Oct 2019 02.32


Readmore → Belum Tidur

Friday, August 23, 2019

Dua Minggu di Kingsford

Ini akan menjadi tulisan yang sangat acak. Ngalor-ngidul. Kemana-mana. Saya tidak yakin apa tujuan kali ini sebenarnya. Mungkin hanya sebagai pengingat tentang perasaan yang saya alami pada dua minggu pertama di Kingsford, NSW.

Tidak banyak hal yang terjadi dua minggu ini meskipun banyak hal-hal baru yang saya lihat dan coba. Mulai dari naik bus sendirian, salah naik bus sampai nyasar di malam sedingin 12 derajat dan sepi, minum langsung dari keran, kedinginan subuh-subuh, hingga semua makanan di kampus yang porsinya adalah 2-3 kali porsi normal saya.

Di titik ini, ada banyak sekali potongan pikiran di kepala. Namun sayang, semua enggan saya elaborasi lebih lanjut. Pikiran-pikiran yang sering muncul belakangan ini:

1. Some things are better left unspoken
Hal ini berlaku untuk banyak hal. Mulai dari perasaan-perasaan mengganjal yang bikin sesak kalau dibahas, hingga curhatan-curahatan remeh yang sangat menghabiskan waktu dan tidak produktif. Pada akhirnya untuk hal seperti ini lebih baik ditinggal saja jauh jauh dalam hati, disumpal dengan lagu-lagu dari playlist pilihan spotify sambil duduk memandang keluar jendela bus. Dibicarakan atau tidak, tetap tidak ada solusinya. Meskipun saya adalah pendengar setia lagu Utarakan - Banda Neira, saya juga adalah penganut paham some things are better left unspoken sejak kuliah. hehe.


2. Saya kurang mengapresiasi musisi dan penulis novel kesukaan
Waktu-waktu di sini banyak dihabiskan sambil memutar playlist lagu-lagu yang sedari dulu saya suka maupun lagu yang baru saya dengar lagi dan kagumi belakangan. Banyak lagu yang para penciptanya buat berhasil membawa saya berpindah dari suasana hati yang kacau menjadi lebih tenang. Beberapa yang lain menemani sedih agar semakin dihayati. Ada juga menemani saya hingga tertidur atau sekadar didengarkan sembari berjalan menyusuri tangga dari ruang-ruang kelas hingga rumah. Lagu-lagu yang mereka ciptakan sangat berpengaruh dalam hari-hari saya. 

Rasanya sangat tidak adil jika saya hanya mendapat manfaat saja. Apa yang sudah saya lakukan sebagai balasan? Tidak banyak. Barang satu dua album yang dibeli dulu. Beberapa tiket konser yang bisa saya tebus. Selebihnya hanya mendengarkan rilisan digital mereka. Saya merasa bersalah. Karya mereka sangat bermakna tapi saya hanya mendengar. Saya merasa kurang menghargai proses kreatif mereka. Tahun-tahun dan hari hari yang mereka habiskan hingga berhasil keluar dengan lagu yang membuat saya memikirkan ulang berbagai hal. 

Begitu juga dengan buku buku yang mengubah pandangan hidup! Saya yakin sekali hanya orang-orang jenius yang mampu menghasilkan karya yang begitu kuat untuk pembaca/pendengarnya. Aneh sekali selama ini hanya berfokus pada karya mereka, tanpa pernah benar benar mencoba mengapresiasi mereka sebagai pembuatnya. Berapa gelas kopi yang mereka teguk untuk lembar lembar itu? Berapa juta kali mereka merasa gagal dan ingin berhenti? Seandainya mereka berhenti... untungnya tidak. 

3. 
(to be continued)
Readmore → Dua Minggu di Kingsford

Thursday, August 15, 2019

Dua Puluh Lima

Setahun lalu menulis Dua Puluh Empat sambil setengah menangis di Duta Bumi, Bekasi. Malam ini Dua Puluh Lima ditulis dari Kingsford, NSW. Kali ini tidak menangis, walaupun tadi juga sempat terbawa suasana melankolis karena entah kenapa, bagi saya, pergantian umur menjadi titik yang cukup sedih. Pikiran-pikiran soal hal-hal yang tidak berlaku sesuai harapan selalu datang di tanggal ini. 

Mungkin sebenarnya sih sekarang mengetik tanpa menangis juga karena baru saja menyempatkan mandi air hangat. Jadi sedihnya sudah hanyut bersama air sabun dan bilasan hehe.

Sebenarnya juga tadi sempat bicara di telepon, menangis sedikit, tanpa terdengar menangis, berusaha mengalihkan pembicaraan dan dengan nada baik baik saja.

Terlihat dan terdengar baik baik saja adalah hal yang beberapa waktu terakhir menjadi pilihan saya.

Dua Puluh Empat saya memilih diam dan ujungnya meledak.

Dua Puluh Lima, saya memilih menerima keadaan dan bersikap baik baik saja. Masih menangis, tapi sudah sangat mendorong ledakan agar tidak dekat-dekat.

Jika harus diberi tag, Dua Puluh Lima adalah Pengalihan.

Mengalihkan pikiran sedih pada hal lain agar tidak berlarut. Mengalihkan pembicaraan dari topik-topik yang bikin sesak hati. Mencoba memikirkan hal mendesak seperti bagaimana agar lulus kuliah di akhir 2020 dengan nilai bagus dan pekerjaan baru (atau mungkin usaha baru?).

Walaupun sebenarnya susah juga. Seringnya lebih banyak waktu dikonsumsi untuk menganalisis kejadian yang sama berkali-kali, berharap mendapat petunjuk baru. Walaupun sebelah hati sudah merelakan sepenuhnya. 

Dua Puluh Lima. Seperempat abad.

Kalaupun hidup bisa ditebak, persiapan matang pun kadang tidak cukup untuk menghadapi apa yang akan datang. 

Semoga tahun depan saya menulis Dua Puluh Enam dengan tawa dan suka cita.

Lebih penting lagi, semoga masih ada umur dan sehat untuk menulis Dua Puluh Enam.


Kingsford, 15 Agustus 2019 23.45
Readmore → Dua Puluh Lima

Monday, August 12, 2019

Tanpa Judul

Patah hati memang selalu sedih, tapi jadi lebih sedih lagi ketika waktunya tepat semalam sebelum keberangkatan ke benua seberang. Sebenarnya hari itu rasanya tidak nyata, jadi bingung juga untuk menangis kencang kencang. Cuma sedikit. Kemudian mencoba kembali kepada kenyataan untuk harus bersiap siap berangkat. Memasang muka baik baik saja biar semua tenang. Dan berhasil.

Kingsford Smith Airport cukup dingin pagi itu, tapi masih tertahankan meskipun hanya pakai hoodie biasa. Semua yang harus dilakukan hari itu juga terselesaikan. Mengurus ketibaan, pergi ke bank, dan segala hal soal perkampusan. Kemudian pulang ke kamar sewaan di seberang universitas.

Melewati satu hari dengan baik rupanya tidak semerta-merta berarti perasaan sudah baik baik saja. Kombinasi adaptasi di lingkungan asing dengan bahasa yang berbeda dan perkara patah hati, harus diakui ini menyebalkan. Malas keluar kamar, malas bertemu manusia lain. Pergi hanya seperlunya, jika harus inspeksi kamar lain. Selebihnya bersembunyi di balik dua lapis selimut untuk mengakali dinginnya Kingsford yang kadang sampai 10 derajat rasa 7 derajat di malam hari.

Kupikir aku sudah baik baik saja hari ini. Tapi rasanya tetap aneh. Argh.
---

tiga belas dua delapan.
sebenarnya hari ini lebih hangat dari beberapa hari sebelumnya. jalanan di kingsford tetap saja sepi. hanya mobil-mobil yang ramai parkir di bahu jalan. tempat ini tidak terlihat seperti kota besar, apalagi hiruk pikuk seperti Jakarta.

namun lain di kampus, ramai orang lalu lalang. rasanya sedikit aneh bahwa lebih banyak mahasiswa cina dan mereka bercakap dengan bahasa cina di sepanjang jalan dan sudut-sudut kampus. benar ini sydney?

bahkan penunggu lantai atas kamar yang saya sewa pun dua orang cina. eh, atau korea?

duduk di serambi kampus ternyata cukup menenangkan. melihat orang lalu lalang, memperhatikan mereka yang berbaring di hijau rumput quadrangle untuk menyerap panas matahari.

angin baru saja berhembus lagi, begitu juga dengan dingin yang sekarang menangkap telapak tangan saya. tapi tetap harus disyukuri bahwa angin tidak segalak kemarin. hari ini dia lebih tenang. mungkin ia paham.


Readmore → Tanpa Judul