Tuesday, September 13, 2016

Batu Hijau Bootcamp

Meskipun baru beberapa kali membacakan dongeng buat anak-anak, saya rindu mendongeng. Sudah beberapa bulan saya absen di kegiatan-kegiatan Buku Berkaki yang biasanya menjadi media untuk berinteraksi dengan anak kecil. Haha bukan saya suka anak kecil, cuma menikmati masuk dan ikut dalam pikiran-pikiran mereka.

Bulan lalu, setelah lama di rumah cuma liburan dan leyeh-leyeh, akhirnya ada lagi kesempatan main dengan anak-anak kecil lewat kegiatan yang benar-benar tidak terduga: Batu Hijau Bootcamp.

Saya tidak pernah terpikir kalau kami, alumni Newmont Bootcamp dari semua batch akan difasilitasi untuk saling bertemu, mengenal. Umm..bukan cuma bertemu dan mengenal, tapi juga melakukan hal yang lebih bermanfaat: berbagi. 

Batu Hijau Bootcamp adalah perjalanan dari Timur ke barat yang di setiap kota singgahnya para alumni Newmont Bootcamp kota itu akan melakukan aksi sosial bersama. Dimulai dari Sumbawa, Surabaya, Jogja, dan Jakarta. Makin barat, makin ramai. 

Saya mulai ikut dari Jogja. Kami singgah di Yayasan Rumah Belajar Kreatif Kaki Gunung Merapi (YRBK Kagem). Ada puluhan anak-anak usia SD sampai SMP yang aktif datang dan belajar di Kagem. Rata-rata orang tua mereka adalah buruh, referensi jenis pekerjaan yang mereka tahu pun terbatas. Makanya kami diajak kemari untuk berbagi tentang pekerjaan apa yang kami lakukan.

Saya sempat ngobrol dengan beberapa anak-anak di Kagem, katanya mereka suka Kagem karena di sana ada kakak-kakak yang membantu belajar apa saja, ada buku-buku bacaan juga buat mereka. Dari yang saya lihat saat pertama kali menjejak tempat itu ya memang benar, di sana ada kakak-kakak relawan yang rata-rata adalah mahasiswa. Kagem juga punya koleksi buku bacaan untuk walaupun belum banyak. Jalan Kaliurang kilometer 10, masih di kaki Gunung Merapi. Semoga semakin banyak buku yang mereka punya nanti sehingga mereka tak kalah saing dengan teman-temannya di kota besar. Kalau saya ke Jogja lagi, pasti akan mampir ke sana lagi. To drop some books, to read some stories maybe :)
Kalau ada kakak-kakak yang sedang di Jogja, kepo tentang Kagem, mereka punya instagram loh: @kagemjogja.

Hanya sehari di Jogja, perjalanan kami berlanjut menuju Jakarta Selatan. Yayasan Al-Hasyim. Belajar mengetik dan menggambar menggunakan laptop. Yang paling saya ingat di sini adalah seorang anak perempuan kelas 4 atau 5 SD begitu sedih karena pisah kelompok dengan teman sekelasnya. Di kelompok baru ia merasa tidak diterima. Teman-teman kelompok barunya pun memang agak 'susah menerima' anggota baru kelompok mereka ini. Si anak kecil yang sendirian ini awalnya gak mau bicara sama sekali. Saya kira dia bisu selektif *duh, lebay*. Tapi setelah beberapa waktu saya coba ajak bicara, akhirnya dia mau ngobrol sama saya! Seneng! Dia juga bersemangat sekali waktu belajar mengetik namanya. Dan seluruh anggota kelompok ini melakukannya bergiliran :)

***

Senang sekali bisa mengunjungi mereka. Senang sekali berkenalan dengan alumni batches sebelumnya. Senang sekali bisa menjadi bagian kecil dari keluarga Newmont Bootcamp. 

Beberapa momen bisa jadi begitu berpengaruh dalam hidup kita, buat saya momen Newmont Bootcamp adalah salah satunya. 

Berkenalan dan menjadi teman dari orang-orang hebat di bidangnya masing-masing. Melihat dan membaca perspektif mereka. Saya senang, walaupun cuma menjadi tim hore. Mereka menjadi motivasi tersendiri buat saya.


Bekasi, 12/09/2016 22:09

Kadek Dwika

Readmore → Batu Hijau Bootcamp

Tuesday, August 9, 2016

Makanan-Makanan Yang Bikin Kangen Kota Singaraja


Pernah denger Singaraja? Belum? 
Baiklahhh, kali ini saya akan bahas sedikit tentang kota kelahiran saya. Singaraja itu kota kecil di utara Bali, ibukota dari Kabupaten Buleleng. Kalau dari Denpasar ke Singaraja masih sekitar 2-3 jam naik mobil. Jauh. Udah kaya Jakarta-Bandung dengan medan Jakarta-Puncak. Mungkin jauhnya jarak juga yang bikin perkembangan Kota Singaraja gak sepesat Denpasar. (FYI, di Singaraja enggak ada gerai fastfood sampai akhirnya KFC baru buka cabang sekitar 2 tahun lalu. Yep. baru 2 tahun lalu. Sampai sekarang belum ada Gramedia. Kafe-kafe kekinian pun baru mulai ramai 2-3 tahun terakhir). Tapi ya itu yang bikin kita Singaraja berasa santai dan hangat.

Meskipun cuma kota kecil, Singaraja ngangenin. Jadi kangen naik motor sore-sore sepanjang Banyuasri-Pantai Penimbangan. Sore-sore mataharinya hangat gitu. Rasanya waktu berjalan lambat hihi. Bikin bahagia. Kangen duduk-duduk di Ex-pelabuhan Buleleng, ngabisin sore, beli es kojong--es krim dengan cone warna putih atau pink versi murah meriah yang dijual pakai sepeda (itu dulu sih waktu umur 4-5 tahun hahahah dan sampai sekarang saya tetep suka pelabuhan). 

Oya, yang gak kalah ngangenin dari Singaraja adalah makanannya!

1. Siobak

Coba deh ketik siobak di google. See?
Yap. Siobak singaraja! Jadi siobak sebenarnya makanan cina yang lahir di Singaraja. FYI Singaraja dulunya adalah kota pelabuhan. Banyak pedagang pendatang awalnya singgah dan akhirnya menetap di sini. Termasuk pedagang cina yang juga membawa kebudayaan mereka termasuk cita rasa makanan. 

Percayalah, siobak is luar biasa delishhhhhh!!! Enak banget! Isinya potongan daging babi (pork belly, 'samsam' dalam bahasa bali), jeroan babi (ati, usus, dll), kerupuk babi, dan disiram dengan saus kental kecoklatan yang rasanya gurih dan sedikit manis. Saya gak pinter sih menceritakan kelezatan makanan. But trust me, this is so GOOD!!!! HARUS DICOBA KALAU MAIN KE SINGARAJA.


Ada satu tempat makan siobak yang terkenal banget di singaraja, namanya Siobak Khe-Lok. Seporsi Rp25.000. 

2. Blayag
Kalau siobak adalah hasil akulturasi, Blayag adalah makanan tradisional khas Buleleng. Blayag itu serumpun dengan gado-gado atau ketoprak, sama sama berbahan dasar ketupat ('tipat' dalam Bahasa Bali). Tapi Blayag punya topping sayur urab, ayam suir, ceker ayam, dan kedelai demgam saus kental yang khas terbuat dari tepung beras dan berbagai rempah. 


Blayag gampang dicari. Bisa di area kuliner Taman Kota Singaraja, Pantai Penimbangan, atau di Desa Penglatan yang memang sudah terkenal dengan Blayagnya (katanya sih asalnya memang dari Penglatan--desa asalnya Ibu!).

3. Es Ancruk
What makes es ancruk so special? Isinya: ancruk. Jadi, ancruk itu adalah bola-bola kenyal dari ketan. Semangkuk es ancruk sebenarnya isinya bukan ancruk doang, tapi juga ada bubur sumsum, hongkue, potongan nangka, dan isian pelengkap lain mirip es campur. Kuahnya pakai santan gitu. Terus ditambahin es. Ah, segeeeerr!! Dan cuma Rp6000! 


Es ancruk adanya sore-sore doang di sengol Telkom atau Kampus Bawah Undiksha (kampus negeri paling gede di singaraja).

***
Sebenarnya masih banyak lagi makanan-makanan khas Singaraja yg enak. Di post ini saya cuma nulis yg disuka dan pernah dicoba aja hihi.
Kalau kamu, kangen apa dari Singaraja? ;)

P.s. Besok pulang lagi! Akan ada lebih banyak post tentang Buleleng dan Singaraja. 

P.p.s. Comment box ternyata bermasalah, enggak muncul :( will fix this soon. Sorry for the inconvenience.

*Photo credit @bekagema on instagram.

Menteng Atas, 9 Aug 2016
Readmore → Makanan-Makanan Yang Bikin Kangen Kota Singaraja

Thursday, August 4, 2016

How to: Bikin Paspor Baru di Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja

Post kali ini emang cheapy banget. Udah banyak bertebaran post sama dengan isi yang kurang lebih sama karena bikin paspor ya emang prosesnya gitu-gitu aja, udah baku. Tapi saya lagi semangat ngisi blog nih. Jadi beberapa post kedepan isinya adalah recap dari hal-hal yang dilakukan selama liburan 1,5 bulan kemarin. Salah satunya ya tentang pengalaman bikin paspor pertama ini hehehehehe

Saya belum ada rencana ke luar negeri dalam waktu dekat kok. Pengen aja gitu bikin paspor. Kali-kali besok ada tiket super murah ke negara tetangga--yang suka muncul tiba-tiba.

Bikin paspor jaman sekarang itu udah gampang banget! Gak kayak jaman kakak saya kuliah dulu: lama, harus nyelipin lembaran duit di balik map kalau mau cepat. Sekarang kita bisa ngajuin aplikasi secara online dan cuma perlu datang 2 kali ke Kantor Imigrasi (mereka punya x-banner dengan tulisan tersebut loh). Pertama untuk verifikasi berkas, wawancara, dan foto. Terus kedua untuk ngambil paspor yang udah jadi. Kedatangan pertama pun gak makan waktu banyak. Kalau yang dibawa lengkap, kurang dari 45 menit juga juga selesai (dalam kondisi enggak banyak yang antri).

Bagian favorit saya dari improvement proses bikin paspor adalah bisa ngajuin online (untuk Paspor Biasa). Oya, kabar gembira untuk pemegang kartu BNI, bayar biaya pembuatan paspor sekarang bisa via ATM BNI loh!

Jadi, tahap-tahap yang saya lewatin buat bikin paspor di Kanim II Singaraja adalah:

1. Pengajuan Permohonan Paspor Online
Cukup buka website Ditjen Imigrasi (imigrasi.go.id), pilih Paspor Online di bagian Pelayanan Online dan kita akan diarahkan ke satu portal khusus. Di portal itu nanti kita harus isi data-data diri dan sebagainya. Sebaiknya diisi selengkap mungkin walaupun banyak bagian yang enggak ada tanda wajib isinya. Waktu itu saya diminta petugas untuk melengkapi beberapa bagian yang belum diisi (karena ga ada tanda wajib isi waktu mengisi online) dengan pulpen hehehe. Petunjuk pengisian Pra Permohonan Paspor online ada panduannya kok, bisa di-download di portal itu lagngsung.

2. Bayar Biaya Paspor via ATM BNI
Setelah submit pra permohonan paspor, kita akan dapat e-mail yang berisi kode pembayaran. Untuk bayarnya, enggak harus lewat teller. Bisa di ATM, pilih menu Pembayaran, next terus sampai ketemu menu Imigrasi. Habis itu tinggal masukin kode pembayarannya. Udah deh, selesai. Tunggu struknya keluar, yay!

3. Konfirmasi pembayaran dan pilih tanggal kedatangan ke Kanim
Setelah bayar, kita harus konfirmasi pembayaran lewat link yang ada di e-mail tadi. Setelah itu baru deh bisa konfirmasi tanggal kedatangan ke Kanim. Sesaat kemudian akan ada e-mail lagi yang isinya lampiran berkas. Berkas itu diprint dan dibawa ke Kanim sama berkas persyaratan yang lain.

4. Verifikasi berkas, wawancara, dan foto
Untuk berkas yang harus disiapkan yaitu (selengkapnya disini):
1. KTP
2. Kartu Keluarga
3. Akte/Ijazah
4. Struk bukti pembayaran
Semuanya difotokopi selembar. Untuk fotokopi KTP jangan digunting ya, biarin di kertas A4.

Waktu itu saya datang lumayan pagi sekitar jam setengah 10. Pas masuk, lumayan terkesima sama layout dan tampilan bagian dalam kantor baru. Sekarang sudah ada mesin untuk mengambil nomor antrian loh. Kayak di bank gitu hehe. 
Semua berkas (asli dan fotokopi) nanti diserahkan ke petugas untuk diverifikasi. Kita juga akan dikasih selembar surat pernyataan yang harus diisi dengan data diri dan tanda tangan di atas materai 6000. Gak bawa materai? Beli di kantin, harganya 8000. Setelah berkasnya selesai diverifikasi, tinggal tunggu untuk dipanggil wawancara dan foto deh.

Di kasus saya kemarin, ada sedikit masalah dengan sistem onlinenya. Data-data saya belum masuk ke sistem yang ada di Kanim padahal data tersebut wajib ada untuk proses selanjutnya (tanda tangan biodata dan print tanda teruma). Untungnya petugas di Kanim II Singaraja baik dan sepertinya bertekad tetap menjaga performa pelayanan. Saya tidak harus datang lagi untuk tanda tangan biodata dan mengambil tanda terima--yang kalau terjadi berarti saya ke Kanim sebanyak lebih dari 2 kali, tidak sesuai X-Banner di kantor mereka haha. Mereka memberi kebijakan untuk langsung tanda tangan biodata saat pengambilan paspor saja. Hore! Sekitar jam setengah 11 saya sudah bisa pulang.

5. Pengambilan paspor
Jadi, pembuatan paspor itu 3 hari. Pasti jadi. Saya datang pertama ke Kanim hari Selasa, jadi saya datang lagi hari Jumat untuk ambil si Paspor pertama hihi.

So here it is:

Berurusan dengan birokrasi gak pernah semudah ini :)

Menteng Atas, 4 Aug 2016
Readmore → How to: Bikin Paspor Baru di Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja

Saturday, July 23, 2016

Skripsi: Tentang Melawan 'Mager'



Sehari sebelum pulang ke Bali, saya masih menayakan Surat Keterangan Lulus di loket Biro Administrasi Akademik kampus yang ternyata masih belum ada. Setelah lebaran yang kira-kira sudah hampir sebulan lewat dari waktu saya bikin SKL juga belum ada. Sampai akhirnya kemarin, bangun dari tidur siang, saya dikirimi foto yang bikin senyum ini lewat line oleh Deris.


***
Saya masih ingat drama-drama remeh perjuangan menyelesaikan skripsi. Berjuang mengatasi kemalasan. Malas ke Bekasi buat melengkapi data, malas ngetik penjabaran hasil pengolahan data, malas nyari referensi.

Selain bergulat dengan segala macam kemalasan, ada juga godaan-godaan lain yang gak kalah bikin gagal fokus. Misalnya tawaran buat magang terus lebih senang magang ketimbang beresin draft skripsi. Berlanjut dengan mengkambinghitamkan magang atas kemangkiran saat bimbingan dengan dosen. Magang jadi prioritas karena skripsi rasanya ngebosenin banget.

Ada juga godaan lain yang memang sangat pantas buat menyalip skripsi dari skala prioritas: Newmont Bootcamp! 8 hari ngider di seputaran Tambang Batu Hijau! Kesempatan luar biasa yang memang pantas rasanya dibayar dengan menyisihkan skripsi sebentar. Hehehe.  

Tapi ada hal lain yang gak bisa kita hindari dan secara langsung memaksa buat lagi-lagi meninggalkan skripsi sebentar: sakit. Entah kenapa deh ada drama demam yang gak turun-turun di minggu-minggu saya lagi luar biasa semangat beresin. Sakit yang ujung-ujungnya bikin saya minta pulang ke Bali dah beli tiket 2 kali. Iya, 2 kali, soalnya telat sampai bandara, ketinggalan pesawat, terus nangis di konter check in. Iya, nangis di depan mas-mas yang jaga sampai dia kebingungan harus ngapain hahahahah.

Daaaaaan, setelah semua drama-drama itu, yang akhirnya bikin ngebut ngerjain skripsi adalah pertanyaan dari orang tua. Semacam “Skripsinya gimana dik?” “Kapan sidang dik?” “Gak usah magang aja hari ini, kerjain skripsinya, ibu deh yang bayar uang magangnya”. Akhirnya ngasih deadline sendiri, terus lagi lagi nangis sendiri pas deadline enggak beres juga. Tapi setelah nangis itu skripsinya beneran dikebut dan lulus kok! Hahahaha. Sidang. Deg-degan gila. Terus dibilang lulus. Udah. Gitu aja. Lulus. Tapi belum selesai! Ada revisian!!!! Ada administrasi rempong buat yudisium akkhhhhh.

***
Tiap orang pasti punya cerita skripsinya masing-masing. Punya kesulitannya masing-masing. Dan kesulitan itu gak akan selesai kalau kitanya enggak mau usaha buat menyelesaikan. Skripsian itu soal memaksa diri buat enggak mageran, enggak nyepelein hal-hal kecil tapi yang ternyata penting, dan menjaga diri dari godaan-godaan hahahaha.

Dan tiap orang juga punya alasannya sendiri buat procrastinating. Bisa jadi karena punya kerjaan lain yang lebih promising, acceptable kok alasannya. Tapi kalau skripsinya ditunda gegara males, duh, mending buru-buru balik ke jalan yang benar deh. Hehehe

Ngomong-ngomong soal kelulusan, apa kabar teman teman Teknik Industri Univ Bakrie 2012? Skripsinya sehat? Ehehehehe

Teruntuk teman-teman TI Univ Bakrie 2012, buruan sidang!!!! Bentar lagi deadline yudisium woyyy!!

Saya sendiri menganggap urusan skripsi teman sekelas ini jadi agak personal. Soalnya mereka udah seperti keluarga yang emang sedari awal mimpinya wisuda sama-sama Oktober nanti. Soalnya kami cuma ber-24 dari awal masuk sekelas terus, rata-rata dari rantauan dan gak punya siapa-siapa di Jakarta.

Semangat ya kalian!!!!

Busungbiu, 23 Juli 2016.
Readmore → Skripsi: Tentang Melawan 'Mager'

Tuesday, June 14, 2016

3 Months Internship Summary

Saya tidak pernah menyangka magang akan jadi pengalaman yang begitu menyenangkan. Hingga akhirnya hari ini saya tahu, jika kita magang di tempat yang tepat maka magang tidak akan berakhir sekadar dengan laporan untuk disetor ke kampus.

3 bulan terakhir saya harus pergi-pulang Menteng Atas-Sunter dari Senin-Jumat pukul 07.15-16.15. Yap, saya jadi anak magang! Akhirnya jadi anak magang sungguhan! (mengingat waktu kerja praktik rasanya saya useless begitu cuma ngeliatin orang kerja). 

**Kenapa masuknya pagi amat?
Soalnya saya magang di Divisi Engineering salah satu perusahaan otomotif yang jam kerjanya mengikuti jam kerja plant jadi kerjanya lebih efisien (enggak tunggu-tungguan sama plant).

Magang kali ini pun benar-benar tanpa motivasi khusus semacam buat tugas kuliah. Motivasinya ya sesederhana di semester 8 kemarin banyak waktu luang karena skripsi sudah setengah jadi, daripada guling-guling doang di kosan mending magang (bisa belajar dan dibayar!). 

Awal-awal magang, saya sempat mencoba struggle naik TransJakarta tapi ternyata enggak kuat (2 jam!), akhirnya naik motor (waktu tempuh sekitar 40 menit) sampai magangnya selesai hahaha. Oya, ini juga pengalaman pertama naik motor sendiri di Jakarta dan trayeknya langsung ke Sunter. Jalanan ke sunter itu searah dengan Pelabuhan Tanjung Priok, jadi ya...bisa dibayangkan kalau saingan pemotor pemula seperti saya adalah long vehicle macem trailer yang ngangkut mobil/motor, truk tangki BBM yang GEDE dan kendaraan monster sejenis deh ya. Berat emang persaingannya. Awal-awal naik motor pernah nyasar terus nabrak mobil orang dari belakang sampe jatoh hehe. Awal-awal cuma berani di kiri eh makin kesini udah berani nyelip-nyelip bahkan diantara long vehicle yang lagi melaju. Tsahhhh. hahahah. Menteng Atas - Sunter rasanya jadi gak berat-berat amat.

Kerjaan saya selama magang adalah assisting Mba Isyana to get done all technical administration matters in Engineering Division (ED) semisal urusan travel proposal, settlement, employee attendance, monthly overtime report, dan sebagainya. Kadang ketika orang-orang di ED nanya jurusan saya, mereka wondering kok bisa bisanya magang di Engineering Administration (EA) yang kayaknya enggak nyambung haha. Well, terlepas dari nyambung enggaknya jurusan dan posisi magang saya, I am really grateful buat kesempatan magang ini. Here are the reasons:

- Dapet Mba Isyana as a Mentor/User
Dari Mba Isyana, saya belajar kalau jadi baik dan helpful itu bukan berarti enggak tegas. Menurut saya, Mba Is selalu helpful ke semua member ED, tapi beliau di saat yang sama juga bisa menjaga buat segala pekerjaannya itu tetap tertib. Helpful bukan berarti breaking the rule. Whereas dulu, saya malah suka neglecting rules yang menurut saya remeh. hehehe. Oya, karena kerja sama beliau juga bikin saya semakin ngeh buat kerja secara sistematis dan tracing the root cause of a problem. Di sisi lain, Mba Is juga orangnya santai. Saya jadi gampang izin buat ke kampus atau interview sana sini. Supportive banget. Somehow, she became one of my role models.

- Engineering Div punya atmosfer kerja yang menyenangkan
Saya lumayan sering jalan-jalan ke divisi lain buat anter dokumen ini itu dan lagi lagi menurut saya, ruangan ED auranya beda. Enggak riweh atau kaku. Everyone is very kind, ramah, dan respect & appreciate each other (bahkan farewell anak magang itu diumumin dan dikasih waktu buat short speech yang didenger se-divisi). Oya, di ED juga saya melihat bagaimana orang-orangnya mengucapkan tolong dan terima kasih enggak sekadar buat formalitas tapi beneran tulus gitu, semacam sudah jadi budaya yang gak sekadar dibibir. Di ED juga mungkin karena mayoritas laki-laki, enggak terlalu baperan orangnya wkwk.

- Bisa lihat orang-orang penting kerja dan kenalan sama mereka
Well, mereka seringnya meeting sih. Meeting all day. Habis meeting terus meeting lagi sampai kayaknya waktunya habis di meeting. Terus pernah satu kali salah satu designer mobilnya ngerjain sedikit designnya di meja sebelah saya. Woah! Berasa kayak anak kecil ketemu ultraman! wkwk norak sih. tapi ya... sama kayak waktu pertama kali liat haul truck di Batu Hijau dehh.

(to be continued) 

***

Saya sangat-sangat bersyukur 3 bulan ini dihabiskan di tempat yang tepat. Semoga ini bisa jadi bekal buat saya kerja nanti. hihi.

Terima kasih Mba Isyana, Pak Dedy, Bu Hanna, Pak Samsul, Mas Aji, Mba Wiwid, Mba Ratna, Mas Andre, Pak Ari, Vindy!

See you in the next opportunity! :)





Readmore → 3 Months Internship Summary

Wednesday, March 9, 2016

Copper Production 101

"Everything in life that is not grown must come from the ground" - The KIN Catalyst

The world needs mining. What would it be our world without mining? No copper for wire, no steel for construction, no cement for building houses, no gold for computer chips, and so many more things we wouldn't have without mining. Our daily life with mining industries is so close yet so far. We use its final product everyday but we never know its journey from ground to our house.

Today we use cellphone, laptop, watch TV, lamps everywhere and all of them are needing conductor to connect to electricity source. The problem is conductor are hid deep beneath the ground. It takes deep enough digging till you reach it. That's why we need mining. However, from mining we cannot obtain pure gold, copper, iron, etc as needed to be the conductor but we obtain ore instead. Mining is only a start for other processes to produce the cables we use everywhere till we become so used to it and barely notice it. 

This post will be about processes involved in producing our home electricity cables from the ground. I collected the information mostly from the explanation i got while participating in Newmont Sustainable Mining Bootcamp with addition of some googled information as cited.

Mining Process

Land with rich mineral content such as copper or gold or other minerals usually found in a remote area. Indonesia is one lucky country that has many minerals deposit beneath its land and sea. One of the deposit was found in west part of Sumbawa Island which later they called it Batu Hijau mine. Batu Hijau mine is a porphyry copper deposit with gold and silver as associated minerals. Every tonne of processed ores generates an average of 4.87 kilograms of copper and 0.37 grams of gold.

When they firstly found copper in Batu Hijau, that area was just a land covered by trees. In order to run the operation, they clear the land from its trees. Top soil, the fertile layer of land, is pared then placed in for some time and will be re-used for reclamation.

Mining Process (source: PTNNT)
After land clearing, they prepared for drilling and blasting which makes the rocks crumble. Rocks then carried based on its copper content (high, medium, low, or waste). High copper content ore will go directly through crusher. Medium and low copper content ore will be placed in stockpile and the rest without copper content will be placed in the waste dump. Ore in stockpile also will be processed later.


Ore Processing

This process aim to obtain concentrate from ore. Ore firstly crushed into smaller pieces and then enter the grinding process till it become a very small particles. Then the valuable minerals are separated from the rocks that have no economical value through flotation processes. Flotation produced side waste called Tailing which isn't harmful and placed in deep sea water.

Ore Processing (source: PTNNT)

The valuable mineral gained from flotation process then go through dewatering process which decrease the water level to 8-9% to what we called concentrate. Concentrate shipped to the smelter which then process it to be anothere semi finished materials.

Copper Concentrate Processing

Concentate from PTNNT shipped to PT Smelting in Gresik and other companies abroad. Here the concentrate go through several advance processes to become copper cathode as it's main product. Copper cathode is the main material to produce copper rod and wire.
Copper Concentrate Processing (source: PT Smelting)
Side product from smelting such as copper slag, anode slime, copper telluride, gypsum, and sulfuric acid will be sold to other companies to be used as a material for producing cement, fertilizer, etc.

Copper Rod and Copper Wire Processing

Copper cathode melted using a certain-process-i-will-not-explain-in-detail and then go through continuous casting and rolling processes to form the desirable specification.
Continuous casting and rolling (source: kaktur.ru)
Copper Rod Packed
Source: kaktur.ru
To produce a copper wire we use at home, the copper rod has to enter the drawing process till the diameter meets the specification. It will be covered using isolator such as pvc or else depends on the its function. After going through some testing steps, it will be delivered to warehouses and retailers. Some electronics company will buy it B2B to complete their product. Some other companies will buy it to install electricity in their construction project of building hospital or school or mall or airport or military base, or any construction. While we you usually buy it from the retailer or maybe online nowdays.

Tada! Your copper wire has arrived!

Now you know that you depend a huge part of your life in mining industries.
Readmore → Copper Production 101

Tuesday, March 8, 2016

Mosaic of Stories Collected Around PTNNT

It was on my early college life that Kak Bayu told me some stories about PT Newmont Nusa Tenggara. Nope, he didn't worked in that company but he knew many stories about life inside PTNNT and life around the mining ring. Some of them are "The company pay high for photographers to take a picture of a small village like Maluk!" or "They have school inside" or "Maluk is expensive, I remembered which place has the most reasonable price to eat" or "It's very hot there more over in Concentrator. When we decide who will be in Condentrator, duh..." or "I sleep inside a container!" or "They label the menu, healthy or unhealthy. You choose". Some other story are about beautiful beaches around there like Tropical Beach or Maluk Beach and the story about 'bule-bule' love to surf there. And his story was a trigger to my eager to visit PTNNT.

When I went there as a participant of Newmont Sustainable Mining Bootcamp, I am very excited to see what Kak Bayu has told me before. About the company, about living around, and about the beaches.

***
I met Pak Budi and Bli Gede. Photographer and Videographer of PTNNT. I didn't asked how high the company pay them but well, at least i found that it's true PTNNT really hire professional photographers! The first company that their core business isn't entertainment related and hire professional photographers i knew was PTNNT. 

On the 2nd or 3rd day of the Bootcamp, Melo, Afi, and I accidentally had breakfast in the same table with 2 teachers of Buin Batu school, a school for employees' kids who lived in the Town Site. This is also the first time I knew that teached can work for a mining company! (Under the school name of course). They told me a little about the school. It was elementary school and junior high with total of 700s students (if I wasn't mistaken). One of them also showed us how to smuggle bread out from the mess hall (since it's forbidden, there're sign written on the exit door but i didn't capture it) hahaha. 
Entrance of Tambora Mess Hall
***
When we (Group 2 of Newmont Bootcamp) stayed at Bapak Arifin's house in Maluk, I found that Maluk is expensive like Kak Bayu told me. Bapak Arifin owns 'kos-kosan' which priced 1.5 mio per room per month. Whoa! That room has a bathroom inside, no air conditioner. My room in Menteng Atas, South Jakarta priced as the same with bathroom and air cond inside. Can you imagine that? Maluk has same expensive 'kosan' price as Jakarta! Whereas in my hometown, Singaraja (Bali) which is technically a city, much more crowded than Maluk and even has KFC, one big university, some cute cafes, more concrete building, but without mining of course, 'kosan' like that is only 400-500 K. Well, as I learned in product development class, price can be also determined by purchasing power of the targeted customer. And targeted customers of 'kosan' in Maluk are those comers who work for PTNNT who got living allowance if they are not living in the townsite (another info from Kak Bayu :p). And the allowance is much higher compare to price of 'kosan'. So, ya, they will take it of course.
Maluk in The Morning From Pak Arifin's House
But it's not only the 'kosan', i found that price of a pair of sandals is nearly 2 times higher there. A pair of sandal I used to buy for 30 K is priced 65K there. After some bargaining, i pay for 50K.  I knew that because I bought one. Someone took mine when I was changing my clothes in a public toilet in Maluk Beach after swimming and then I bought the new one in a shop right under Pak Arifin's House. (I think that was his place too, rented to be used as a shop hmm Pak Arifin must be very rich hehehe).
Maluk in The Morning...(2)
***
We arrived in the Town Site when it's dark already so we just jump to our room because we're all very tired after those air-land-water-land long trip to reach this place. I did not notice how was the our building until the next morning. Our room was made from stacked container box. Pak Khun, a participant of Bootcamp describe it as "Sederhana, fungsional, gak kalah dengan hotel budget."

I remembered that every morning I left the room I always turned off the AC but in the evening I came back there the AC was always turned back. Then I realized that maybe it is because the rooms are made from container box which is made from metal. If the AC turned off, when we're back it will be as hot as hell and produce smell like an old sock. I came up with this thought after noticing an unused room left with the door closed but the window stayed opened...or maybe the window opened because the last person used it forget to close it? Nah, it's just my theory~ The point is that the room made of container. Offices building also made temporal with material that look alike the metal sheet used for container. No concrete as I noticed.
Our Rooms, T3
***
In this paragraph I should end this post beautifully so people will come again to read follow through. But unfortunately, I am just a bad-skilled-for-making-a-good-ending-amateur-blogger. So, ya, i left the post here. Next post will be about the sexy beaches. 

Have a nice day!

Menteng Atas, 08.03.16

Kadek Dwika
Readmore → Mosaic of Stories Collected Around PTNNT

Wednesday, March 2, 2016

Back in Days: Kindness and Happiness

Dua hari yang lalu, hujan yang cukup deras baru saja reda di selatan Jakarta. Saya pergi ke warung dekat kosan tanpa payung. Pulangnya, saya berjalan kaki tepat di belakang dua bocah kecil dan payung-payung lebar mereka yang sudah terlipat. Kemudian mereka berhenti di depan warung makan. Kurang lebih yang mereka bicarakan adalah menu apa yang enak dan akan mereka pesan. Saya pun berlalu, tersenyum, bahagia. 

I dont have the picture of that two little boys, here is two little turtle facing the wild world for the first time :)

Potongan cerita dua bocah kecil sore itu membawa saya pada ingatan tentang bagaimana hal-hal kecil bisa dengan sangat mudah membuat kita bersyukur dan bahkan merasa bahagia. 

Melihat dua bocah itu memilih makanan enak yang mereka inginkan dengan uang hasil dari berkah hujan, buat saya itu membahagiakan. It makes me smile till i went sleeping.

Ada juga cerita hujan lain yang membawa saya pada rasa syukur yang amat sangat. Cerita hujan di penghujung tahun 2015 ketika kami merayakan tahun baru di sebuah mall di Serpong dan hampir tidak bisa pulang karena jalanan macet, tanpa taxi atau angkutan apapun yang bisa kami tumpangi. Beruntung, amat sangat beruntung, seorang security membantu mencarikan kami tumpangan, meminjamkan password wifi--sinyal provider saya jelek banget disana--agar kami bisa pesan taxi/ojek online, tapi tetap tidak berhasil hingga akhirnya beliau sendiri (dan beberapa temannya) yang mengantarkan kami langsung. Meminjami saya jaket karena hujan yang semakin deras. Tanpa dibayar. Mengantarkan kami selamat sampai tujuan tanpa kurang satu apapun. Tanpa mencoba menggoda kami sedikitpun. I felt so grateful that night, gak ngerti lagi apa jadinya kalau gak ada mereka.

Kebaikan bukan cuma tentang apa yang kita dapat, tapi juga apa yang kita lakukan. Keduanya bisa membuat saya tersenyum dan senang. Ada euphoria tersendiri yang entah apa namanya.

Waktu itu saya sedang duduk di student lounge kampus. Dua orang perempuan di sebelah saya--sepertinya angkatan bawah--berbicara dengan suara direndahkan, dia butuh pembalut. Saya tergelitik, rasanya ingin saja memberikan apa yang ia butuhkan dan kebetulan saya punya. Awalnya ragu, I was thinking like what if they think I am weird, silently listening to their conversation. Pada akhirnya I asked her to reconfirm if she need it and i gave one for her. She said thanks. And that made me happy. My first simple action of helping to stranger in campus. 

Back in days, I was waiting for a bus but no bus is coming. Then I asked a security why I can't find the bus there. Beliau bilang rute bus yang menuju arah tujuan saya tidak lewat jalan itu, saya harus jalan cukup jauh kalau mau dapat busnya. Beliau juga tidak lupa menunjukan arah yang harus saya lalui. Setelah berjalan beberapa menit, seorang petugas dari kantor itu ada yang kebetulan searah dengan saya, mengendarai motor, menghampiri dan menawari saya tumpangan ke tempat menunggu bus. I didn't know him. He didn't know me. But he kindly offered me a little yet meaningful help. That kindness I got that day has encouraged me to do the action in paragraph before.

We don't need to know each other to help each other.

Doing kindness is not only about helping others, it is also about helping ourselves. 

Helping ourselves to feel the compassion, to achieve happiness.

Everyone wants to be happy, no?

Well, although each of us might defined happiness differently, I think there is an universal definition of happiness beside the one we defined: the feeling we got after doing, getting, or watching kindness. No, I don't feel like it's the right definition. Just conclude it yourself :)


Menteng Atas, 02/03/2016

Kadek Dwika 
Readmore → Back in Days: Kindness and Happiness