Showing posts with label college life. Show all posts
Showing posts with label college life. Show all posts

Sunday, June 11, 2017

Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Bagian 2

To Discover My Self

Kamis pagi di kamar bawah tangga salah satu rumah di Jl. Menteng Atas Selatan III saya bangun agak siang. Terbangun karena bunyi denting notifikasi pesan masuk dari seorang teman. Pesannya tidak panjang tapi ampuh membuyarkan kantuk dan memaksa saya menyiapkan segala macam persyaratan pendaftaran.

Beberapa minggu setelah pesan itu, saya resmi menjadi Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI) Universitas Bakrie periode 2013-2014. BOOM! Saya sendiri benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya anak baru yang semasa SMA tidak pernah ikut organisasi formal apapun tiba-tiba menang pemilu jurusan--meskipun dengan berbagai intrik dan drama di baliknya. Dan inilah milestone yang membentuk saya hingga sekarang. 
Acara Pertama Sebelum Resmi Menjadi Pengurus HMTI
Perjalanan bersama HMTI mengajarkan begitu banyak hal. Meluluhkan dinding tinggi antara saya dan teman-teman adalah satu di antara sekian banyak. Sebagian besar hari saya habiskan bersama mereka. Dari kuliah hingga persiapan program kerja. Dari pagi sampai pagi. Duduk di Student Lounge Luar dari magrib sampai dini hari. Dari mengerjakan tugas kuliah sampai cuma mengobrol tanpa arah dan tertawa sampai lelah. Kemudian kami akan pulang dengan obrolan yang tak ada habisnya di bawah temaram lampu jalanan Epicentrum.

Apa yang saya dapat dari HMTI kemudian membawa saya ingin belajar lebih banyak lagi. Hal serupa pun terulang, beberapa minggu setelah resmi lengser dari kepengurusan, saya dilantik lagi menjadi salah satu anggota komisi Senat Mahasiswa Universitas Bakrie. Siapa sangka anak yang dulunya antipati pada organisasi bisa jadi seperti ini? Haha!
Dalam Proker Kaderisasi
***

Tapi sejujurnya ada sedikit kekecewaan ketika tidak pernah memenangkan satu kompetisi eksternal pun ketika kuliah. Entah kenapa saya tidak seambisius dulu ketika SMA.

Namun, banyak juga yang saya sangat syukuri. Salah satunya adalah kesempatan "to discover myself". Ketika kuliah, saya baru tahu kalau saya sangat suka mengajar. 

Bermula dari menjadi tutor teman teman sekelas menjelang ujian, tutor calon mahasiswa baru kelas karyawan, hingga menjadi asisten praktikum mata kuliah dasar. 

Satu tutorial yang masih sangat diingat sampai sekarang adalah turorial pertama di meeting room Elite Club Epicentrum! Hahaha epic! 

Tutorial Kimia pertama di Elite Club!!!
Kami masih semester 1 kala itu. Dengar-dengar dari senior, mereka biasanya bikin semacam tutorial untuk belajar bersama sebelum ujian. Kami mau melakukan hal yang sama. Cuma karena keterbatasan ruang kampus dan bingung mau belajar di mana, jadilah salah satu teman yang kebetulan adalah member Elite Club meminjam meeting roomnya 2 jam untuk kami belajar! Agak menggelikan memang. Terutama kalau diingat ekspresi mas/mba karyawan Elite Club yang agak bingung tiba-tiba ada rombongan anak-anak dekil yang not belong to there. Dan ya, itu adalah kali pertama saya berdiri sebagai tutor kimia dasar.

Thanks to HMTI yang pada kesempatan-kesempatan setelahnya menyediakan ruang buat tutorial kami jadi tidak usah ke Elite Club lagi haha.
Industrial Expo-Breaking Industrial Limit
***

Di tahun terakhir perkuliahan, saat sudah lepas dengan segala maca urusan organisasi kampus, saya mulai ikut volunteer. Dengan tidak sengaja malah jadi sering mendongeng karena diberi kesempatan oleh Buku Berkaki. Apakah saya bagus dalam mendongeng? Tidak.  Saya cuma senang melakukannya. Dan sebenarnya, ada satu hal yang membuat saya senang mendongeng:
Mendongeng di Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA) Param - Kuningan
Waktu kelas 2 SMP, sekolah saya kedatangan guru Bahasa Indonesia yang mengajar di Australia. Beliau orang Australia. Namanya adalah Pak Neville. Saya tidak tahu persis apa tujuan beliau berada beberapa waktu di sekolah kami. Yang jelas, waktu itu kami akan ikut lomba story telling berbahasa Inggris di kabupaten dan beliau membatu kami mempersiapkannya. Cerita saya waktu itu adalah Tuwung Kuning yang script bahasa inggrisnya punya kakak. Kami berlatih selama 1-2 minggu sampai akhirnya dikabari bahwa lombanya dibatalkan. Sayang sekali. 

Tapi, Pak Neville dengan sangat baik hati meminta kami tetap tampil sehabis upacara bendera. Dan beliau memberikan saya sepaket kamus Indonesia-Inggris. Kamus berharga ratusan ribu yang tidak dipunyai satupun anak di sekolah kami. Rasanya bahagia sekali! 

Hipotesis saya, sih, persiapan lomba story telling inilah yang membuat saya begitu menyukai dongeng. Seperti pembuka jalan, yang baru saya tapaki 8 tahun kemudian.
Membaca cerita di Pojok Cerita Festival Dongeng Indonesia Internasional 2016
Cara mendongeng saya masih amat sangat kacau, tapi saya benar-benar suka mendongeng dan mau belajar lebih banyak lagi! Tahun ini harus ikut workshop dongeng di FDII lah.

***

Setelah 3,5 tahun hiruk pikuk perkuliahan dan ekstra 2 bulan mengerjakan skripsi, saya lulus. Dan, ya, kehidupan setelah lulus ternyata menjadi semakin 'menarik' di bagian 3. 
Wisuda Universitas Bakrie Oktober 2016.



Harapan Indah, 11/06/2017 1:01 PM


P.S.
Laptop saya sempat rusak setelah bagian 2. That's the reason why bagian 3 baru naik sekarang. Thanks to Mas Abba, IT staff BPI yang bantuin bikin lapop saya normal lagi.

P.P.S. Selamat berakhir pekan, selamat berpuasa hari ke-16!

Readmore → Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Bagian 2

Monday, June 5, 2017

Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Bagian 1

Menjejak Jakarta Sendiri untuk Kali Pertama

Jakarta adalah kota yang begitu sering dielu dan keluhkan. Dielukan karena karena 'kemegahannya', dikeluhkan dengan kerasnya perjuangan yang harus ditempuh orang-orang di sini. Berjuang mengatasi segala macam stress. Terkhusus bagi saya, definisi berjuang adalah menjadi tetap waras di tengah kemacetan yang sungguh tidak masuk di akal. Entah bagaimana caranya orang-orang ini tetap menjalani hari dipenuhi kemacetan jalanan setiap hari kerja. Ah, benar benar tak habis pikir. 

Tapi Jakarta tidak melulu soal stress dan kekejaman ibu kota. Sama seperti bagaimana ia membuat jutaan orang rela berjibaku di tengah keruwetan jalan, Jakarta juga entah bagaimana membuat saya jatuh cinta. Meskipun sama sekali tak cinta dengan macetnya.

***
Bandung sedang gerimis sore itu dan saya sedang menunggu taxi pesanan untuk diantarkan ke pool salah satu travel Bandung-Jakarta di daerah Cihampelas. Perasaan saya benar-benar tidak karuan karena taxi yang (sebenarnya baru) dipesan tadi belum juga datang. Khawatir akan ditinggal travel ke Jakarta. 

Kalau dipikir-pikir lagi, waktu itu berani juga ya. Baru beberapa minggu di Bandung dan memutuskan ke Jakarta sendiri naik travel atas 'riset' lewat gugel. Cuma bermodal keyakinan kalau semuanya normal saja. Tidak ada yang harus dipikirkan. (Dan keyakinan semacam inilah yang kemudian tidak jarang membawa saya pergi tanpa arah sendirian :D hahaha).

Kami sampai di Blora lepas waktu Magrib. Saya dijemput sopir dari tempat kerja Pak Boi, paman saya. Anehnya ketika masa-masa awal ke Jakarta, setiap saya akan menumpang tinggal pasti Pak Boi sedang pulang ke Bali. Jadi lah saya selalu hanya dijemput sopir beliau dan diantarkan ke hotel. Sendirian. Cuma di kamar sampai esok pagi turun sarapan dan diantar ke Kuningan untuk ujian masuk Universitas Bakrie. Saya masih ingat sekali bagaimana pak sopir ini begitu baik hati mengantarkan saya sampai lobi kampus. Kalau diingat-ingat sekarang, rasanya lucu, cupu sekali. 2012. 

Sekitar 2 minggu setelah ujian masuk, sebaris kalimat di portal pendaftaran mahasiswa baru menyatakan bahwa saya lulus Jurusan S1 Teknik Industri dengan Beasiswa penuh. Pengumuman kelulusannya kalau tidak salah beberapa hari sebelum Ibu berulang tahun. Beberpa minggu sebelum ujian masuk universitas negeri.

Pengumuman Ujian Masuk UB

Juni 2012, saya pulang ke Bali dengan perasaan yang agak kacau karena sangat tidak yakin bisa lulus di Bandung. Benar saja, I found myself crying a little loud saat pengumuman hasil ujian masuk kampus negeri. Saya tidak lulus yang juga berarti bahwa saya akan kuliah di Jakarta, bukan Bandung. 

Pengumuman Hasil SNMPTN

***
Kali ini saya ke Jakarta untuk daftar ulang dan mencari rumah kost. Sendiri lagi. Dijemput oleh sopir di bandara dan diantarkan ke hotel, sama seperti sebelumnya. I do enjoy that moment of being alone. I really enjoy myself. Seeing things through the windows like a video clip.

Kali ketiga datang ke Jakarta lagi-lagi sendiri tapi bukan lagi dijemput sopir. Saya memilih taxi sendiri yang ternyata dikibulin. Bandara - Menteng Atas sampai 300 ribu! hahaha.

Di Menteng Atas, saya beruntung sekali dipertemukan dengan pemilik kosan yang perhatian sekali plus penjaga kost yang super baik hati. Opung dan Mba Eci. Empat tahun lebih di Menteng Atas, beberapa kali berniat pindah tapi tidak pernah benar-benar pindah sampai akhirnya saya bekerja di Bekasi. Di kost Opung ini juga saya bertemu dengan teman teman baik hati: Tami dan Yaya. Geng kosan favorit dan satu satunya.


2012, Ulang Tahun Yaya
2017
Menteng Atas amat sangat remarkable. Oh ya, sebenarnya yang membuat saya betah dan cinta Jakarta bukannya benci seperti orang kebanyakan adalah karena definisi Jakarta saya adalah Menteng Atas, Kuningan, dan sekitarnya. Naif sekali. Hidup di Menteng Atas adalah kenyamanan yang langka. Bayangkan saja, kami anak kosan sekitar Mentas hanya perlu jalan kaki ke Epicentrum, Ambasador, atau bahkan Kota Kasablanka (saya sih suka jalan kaki ke sini lewat kuburan karena memang suka jalan kaki). Ibaratnya semuanya begitu mudah dijangkau dari Mentas. Mal, GOR, taman, bioskop. Ke bagian Jakarta yang lain juga tak jauh-jauh amat. Kalau saya punya banyak uang, saya mau punya rumah di Menteng Atas saja lah. Hahaha.

(bersambung ke Bagian 2, besok!)


Harapan Indah, 05/06/2017 20:07


Readmore → Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Bagian 1

Saturday, July 23, 2016

Skripsi: Tentang Melawan 'Mager'



Sehari sebelum pulang ke Bali, saya masih menayakan Surat Keterangan Lulus di loket Biro Administrasi Akademik kampus yang ternyata masih belum ada. Setelah lebaran yang kira-kira sudah hampir sebulan lewat dari waktu saya bikin SKL juga belum ada. Sampai akhirnya kemarin, bangun dari tidur siang, saya dikirimi foto yang bikin senyum ini lewat line oleh Deris.


***
Saya masih ingat drama-drama remeh perjuangan menyelesaikan skripsi. Berjuang mengatasi kemalasan. Malas ke Bekasi buat melengkapi data, malas ngetik penjabaran hasil pengolahan data, malas nyari referensi.

Selain bergulat dengan segala macam kemalasan, ada juga godaan-godaan lain yang gak kalah bikin gagal fokus. Misalnya tawaran buat magang terus lebih senang magang ketimbang beresin draft skripsi. Berlanjut dengan mengkambinghitamkan magang atas kemangkiran saat bimbingan dengan dosen. Magang jadi prioritas karena skripsi rasanya ngebosenin banget.

Ada juga godaan lain yang memang sangat pantas buat menyalip skripsi dari skala prioritas: Newmont Bootcamp! 8 hari ngider di seputaran Tambang Batu Hijau! Kesempatan luar biasa yang memang pantas rasanya dibayar dengan menyisihkan skripsi sebentar. Hehehe.  

Tapi ada hal lain yang gak bisa kita hindari dan secara langsung memaksa buat lagi-lagi meninggalkan skripsi sebentar: sakit. Entah kenapa deh ada drama demam yang gak turun-turun di minggu-minggu saya lagi luar biasa semangat beresin. Sakit yang ujung-ujungnya bikin saya minta pulang ke Bali dah beli tiket 2 kali. Iya, 2 kali, soalnya telat sampai bandara, ketinggalan pesawat, terus nangis di konter check in. Iya, nangis di depan mas-mas yang jaga sampai dia kebingungan harus ngapain hahahahah.

Daaaaaan, setelah semua drama-drama itu, yang akhirnya bikin ngebut ngerjain skripsi adalah pertanyaan dari orang tua. Semacam “Skripsinya gimana dik?” “Kapan sidang dik?” “Gak usah magang aja hari ini, kerjain skripsinya, ibu deh yang bayar uang magangnya”. Akhirnya ngasih deadline sendiri, terus lagi lagi nangis sendiri pas deadline enggak beres juga. Tapi setelah nangis itu skripsinya beneran dikebut dan lulus kok! Hahahaha. Sidang. Deg-degan gila. Terus dibilang lulus. Udah. Gitu aja. Lulus. Tapi belum selesai! Ada revisian!!!! Ada administrasi rempong buat yudisium akkhhhhh.

***
Tiap orang pasti punya cerita skripsinya masing-masing. Punya kesulitannya masing-masing. Dan kesulitan itu gak akan selesai kalau kitanya enggak mau usaha buat menyelesaikan. Skripsian itu soal memaksa diri buat enggak mageran, enggak nyepelein hal-hal kecil tapi yang ternyata penting, dan menjaga diri dari godaan-godaan hahahaha.

Dan tiap orang juga punya alasannya sendiri buat procrastinating. Bisa jadi karena punya kerjaan lain yang lebih promising, acceptable kok alasannya. Tapi kalau skripsinya ditunda gegara males, duh, mending buru-buru balik ke jalan yang benar deh. Hehehe

Ngomong-ngomong soal kelulusan, apa kabar teman teman Teknik Industri Univ Bakrie 2012? Skripsinya sehat? Ehehehehe

Teruntuk teman-teman TI Univ Bakrie 2012, buruan sidang!!!! Bentar lagi deadline yudisium woyyy!!

Saya sendiri menganggap urusan skripsi teman sekelas ini jadi agak personal. Soalnya mereka udah seperti keluarga yang emang sedari awal mimpinya wisuda sama-sama Oktober nanti. Soalnya kami cuma ber-24 dari awal masuk sekelas terus, rata-rata dari rantauan dan gak punya siapa-siapa di Jakarta.

Semangat ya kalian!!!!

Busungbiu, 23 Juli 2016.
Readmore → Skripsi: Tentang Melawan 'Mager'

Tuesday, December 29, 2015

Snorkeling di Menjangan

Jadi begini toh rasanya dikejar deadline tulisan. Well, sebenarya gak ada yang ngejar saya sih. Cuma target ngelarin urusan blog ini adalah prasyarat buat bisa mulai mengerjakan task yang lain seperti proposal tugas akhir dan juga tugas-tugas kuliah lainnya. Hahaha.

Okay, let’s start!

Tulisan saya kali ini adalah tentang #latepost Snorkeling di Menjangan, Bali tahun 2014 kemarin.

Kenapa baru naik?
Karena waktu itu itinerary liburan panjang, gak sampat jadi nulis keburu lupa, cuma sempat post post lucu di sosmed aja hahaha. Tapi gara-gara Mega kemarin habis snorkeling di Pemuteran (sister spot Menjangan yang tapi jauhhhh lebih bagus menjangan) terus ngirimin foto-foto underwaternya, saya jadi gatel kepingin post. Pengen pamer kalau di Menjangan lebih bagus lagi dan Mega wajib kesana. Sama saya. Hahaha.

Nah, buat membuktikan kalau Menjangan itu benar-benar surga buat snorkeling (terutama buat beginner macam saya, yang baru pertama kali snorkeling), nih saya kasih foto-fotonya. Foto ini diambil sama guide kami dengan kamera sewaan. Nyewanya di mereka juga haha.



Udah kebelet pengen ke Menjangan?

Hahahha. Tapi sayangnya bulan-bulan segini tuh musim hujan, jadi kurang disarankan. Paling baik ya pas summer. Mulai Juni sampai September. Atau pas enggak hujan deh intinya. Tau lah ya sekarang musim hujan sudah berubah, dia datang dan pergi sesuka hati gak lagi pakai jadwal.

Waktu itu kami pergi ber 5, total habis sejutaan. Bisa dilihat di gambar kuitansinya. Yang paling mahal ya sewa perahunya, makanya kalo kesini rame-rame, jadi lebih murah. Kalau enggak salah, perahunya bisa muat 8-10 orang loh! Jadi jauh lebih murah kan.
Kuitansi (terbilangnya salah, kami nambah life jacket soalya hehe)

Walaupun bisa dibilang agak mahal kalau dibandingin snorkeling yang cuma modal sewa snorkel Rp25.000 dan langsung nyemplung ke laut, ya bisa liat sendiri lah viewnya gimana. Bahagia lah di dalem sini. Saya dengan bodohnya nyoba nangkepin ikan ikan yang seliweran di sekitar saya, tapi ya, enggak bisa, ikannya lebih pandai renang.

Wika berusaha menggenggam ikan
Oya, ngomong-ngomong soal renang, saya gak bisa berenang kok. 2 teman perempuan saya yang lain juga gak bisa. Makanya di kuitansi ada sewa 3 pelampung. Nah pelampung itu menjaga kami tetap di permukaan tapi bisa tetep menikmati indahnya bawah laut Menjangan~
Jadi kalau pada enggak bisa renang, ga usah khawatir! Kita sama kok ;)
Tapi saya bertekad buat belajar renang. Mega ngutang janji buat ngajarin saya renang. HAHAHAHA

How to get there?

Ada beberapa tempat buat sewa kapal dan perintilan snorkeling. Yang paling mudah dijangkau itu adalah yang di pinggir jalan raja Gilimanuk-Singaraja. Gampang kok nemunya, luruuus aja ikutin jalan dari singaraja ke arah Gilimanuk. Tempatnya masih lurusan lagi dari Pura Pulaki. Nanti di kanan jalan ada deh itu papan tandanya.

Setelah parkir, dateng deh ke loket. Bilang ke penjaganya mau sewa apa aja. Oya, disini gak usah tawar-tawar lagi karena sudah dikelola pihak setempat. Tarifnya sudah ditentukan. Setelah bayar, lanjut deh ambil alat-alatnya sesuai ukuran kita.

Me! Hahahha
Daaaaan, we’re ready to sail! Hahahaha. Selama kita snorkeling itu ditemenin seorang guide lokal. Sebelum turun, kita juga dikasih briefing singkat tentang how-to-this-and-that-nya kok. Jujur, 30 menit pertama saya habiskan untuk beradaptasi dengan snorkel dan caranya napas biar nyaman hahahaha. Baru sejam selanjutnya bisa kesana-kemari ala ala berenang wkwk. Kita boleh snorkeling disini sampai tepar eh 3 jam deh kata guidenya. Tapi saya baru satu setengah jam udah naik lagi ke perahu. Lelah~ hahahaha

Hi!
Secara keseluruhan, I really recommend you guys to try this spot!!!!

Bagus banget.

Semoga saya punya kesempatan lagi buat snorkeling di spot-spot bagus lain. Bunaken? Hehehehe.

Menteng Atas, 29 Desember 2015
Kadek Dwika

Readmore → Snorkeling di Menjangan

Monday, June 15, 2015

Semester 6: When Life Just Started to be More Interesting

Sebenarnya pengen tulis “…When life just started to be more complicated.”

Sebenarnya juga sih, semester 6 ini justru lebih banyak habis untuk tidur dan bukannya sibuk-sibuk cari tempat kerja praktik (KP).

Bukan karena saya tidak memikirkan KP, lebih karena saya terlalu percaya diri.

Percaya diri yang pada akhirnya saya sadar dihancurkan oleh hal-hal remeh semacam salah tulis tahun pengajuan kerja praktik yang harusnya “2015” malahan tertulis “2014”. (Tapi pasti itu bukan satu-satunya faktor yang bikin saya gak pernah dapet email balasan, sih.)

Dan pada (sepertinya bukan) akhirnya, saya memutuskan melanggar berbagai konstrain KP yang sudah dibikin di akhir tahun kemarin. Jadilah saya apply di salah satu perusahaan Bakrie. Sudah  dapat mentor, tinggal ketemu pihak HRD.

Tiba-tiba, dosen membuka kesempatan untuk kami bisa ambil bagian (tentunya dengan seleksi dulu) dalam sebuah proyek BUMN. Kabarnya, kami akan diberikan kompensasi setara lulusan S1.
Pertama kali info itu disebarkan oleh ketua kelas sih, saya dengan mantap bilang “enggak ah, aku mau pulang aja J”.  Apalagi tiket pulang tanggal 2 Juli 2015 sudah di tangan saya sehari sebelumnya.

Tapi percakapan dengan kakak saya bisa mengubah segalanya. Percakapan ringan yang ujung-ujungnya ya menyadarkan bahwa saya terlalu manja belakangan ini. Bahwa saya sudah dewasa tapi sikapnya sama sekali belum dewasa. Bahwa saya harus belajar untuk menjadi dewasa, suka atau tidak suka.

Jadilah akhirnya CV dan transkrip akademik saya dikirimkan ke email ketua kelas.

Kemudian malah bingung lagi.

Yakin? Kalau keterima, nanti yakin mau diambil? Mending pulang.. Galungan di rumah… KP di Bakrie aja.. Nanti skripsinya lanjut hasil KP, sekalian.

Terus nelfon Bangkit. Hasil pembicaraannya: at the end of the day, you will regret something that you didn’t do rather than something you’ve tried and failed.

Sampai sekarang masih belum jelas. Berkasnya mau ditarik aja atau dibiarin. Besok harus nelfon bapak deh.

Ternyata, bukan cuma soal kuliah yang getting more interesting. Love live juga. Di akhir semester 6, saya harus KP dan Mega harus kuliah kerja nyata (KKN). Padahal sudah banyak sekali hal yang kami mau lakukan liburan nanti. Jalan-jalan, jajan lucu, main ke pantai, dan banyak daftar panjang couple things lainnya.

Sayang sekali, ketika bertukar jadwal, kami baru sadar kalau kami bahkan hampir tidak mungkin bertemu. Mega akan KKN selama satu setengah bulan di Desa Payangan, Bali mulai tanggal 1 Juli. Sedangkan saya, (dengan rencana awal KP di Bakrie) akan pulang tanggal 2 Juli dan balik lagi untuk KP tanggal 18 Juli atau (jike KP di proyek dari dosen) tidak pulang sama sekali.

Buat saya, this is torturing me :'(

Well, ya, life is getting more interesting di akhir semester 6.

Walaupun saya banyak tidur.

Good night J
Readmore → Semester 6: When Life Just Started to be More Interesting

Monday, May 25, 2015

Icarus

"Icarus is flying too close to the sun
Icarus's life, it has only just begun
This is how it feels to take a fall
Icarus is flying towards an early grave"

Read more: Bastille - Icarus Lyrics | MetroLyrics 

Itu potongan lagu yang tadi pagi saya gugling maksudnya apa. Bagus. Saya jadi tau sedikit soal Icarus. 

Tapi sebenarnya sih, tadinya, mau bahas GrabTaxi yang baru saya cobain kemarin. 

Ya, apa daya pikiran lagi agak kacau.

Pusing.

Mau Sidang Pertanggungjawaban a.k.a. SPJ ormawa kampus starting from this evening sampai 2 minggu kedepan. 

Sidangnya belum mulai, lelahnya udah berasa hahaha stupid.

Sebentar lagi Mei habis. New life started soon!

i need hugssss lol.

Ah, sudahlah, nanti aja balik lagi. 

I love you

Mega!

:p
Readmore → Icarus

Tuesday, January 13, 2015

I Demand Food!

Hari ini adalah 6 hari sebelum keberangkatan saya untuk main ke Yogyakarta. Besok saya masih harus ujian sampai Jumat. Masih ada 5 mata kuliah dan seperti biasa, jenuh. Karena di semester  5 ini ada 9 mat akuliah yang saya isi di KRS, jadilah terseok-seok begini kalau sudah musim ujian. Bukan karena susahnya, tapi karena kuantitasnya. Banyak sekali ujian yang harus dihadapi hahaha.

Ngomong-ngomong soal ujian, dunia penerbangan komersial negara ini juga sedang diuji, atau lebih spesifik lagi yang ingin saya bicarakan adalah Bapak Ignasius Jonan, Menteri Perhubungan Republik Indonesia. Setelah kecelakaan yang dialami salah satu pesawat Airasia, Pak Menteri disorot media untuk berbagai hal. Banyak sekali berita tentang beliau marah-marah karena pilot penerbangan pesawat yang jatuh itu tidak melakukan face-to-face weather briefing, atau berita tentang kebijakan Kementerian Perhubungan mengenai penghapusan tiket pesawat murah.

Banyak sekali orang yang langsung menghujat beliau atas dua berita yang saya sebutkan tadi. Tapi, alangkah baiknya kalau kita tidak semerta-merta berpikiran negatif pada beliau atau siapaun yang tengah diserang oleh pemberitaan yang kurang baik. Harus disadari bahwa selalu ada dua sisi dari suatu hal, baik dan buruk, menyenangkan dan kurang menyenangkan, dan lain sebagainya.

Tindakan marah-marah Pak Menteri ada benarnya kalau kita berkaca pada Jepang. Dosen saya senang sekali menceritakan pengalamannya selama beliau kuliah di Jepang. Salah satunya adalah di sana sangat dibudayakan untuk meyakinkan bahwa sesuatu telah dilakukan. Misalnya, ketika mematikan lampu di kelas, seseorang juga harus menyebutkan bahwa lampu itu mati sehingga tidak ada lagi kejadian di tengah jalan dia bimbang apakah lampunya sudah dimatikan atau belum. Atau cerita tentang petugas yang harus menyebutkan warna lampu yang menyala bukan hanya memencet tombolnya saja.

Mungkin begitu pula dengan para pilot yang sudah seharusnya menghadiri brifing cuaca sebelum berangkat. Tujuan diadakannya briefing cuaca mungkin adalah untuk meyakinkan mengenai prakiraan cuaca yang akan dihadapi penerbang yang tidak cukup hanya sekedar melihat rekap data cuaca online.

Untuk berita kedua, bisa jadi benar kebijakan itu prematur. Saya sendiri sebagai mahasiswa rantauan yang moda transportasi utama untuk pulang kampung adalah pesawat terbang tentu merasa agak berat jika tidak ada lagi tarif promo. Apalagi para backpacker di luar sana yang memang sangat mengandalkan tiket promo untuk mewujudkan rencana jalan-jalan mereka. Tapi sekali lagi, selalu ada sisi yang lain yang harus juga dilihat. Mungkin Kementerian Perhubungan punya pertimbangan yang lebih matang tentang kebijakan ini. Saya juga belum baca lebih jauh.

Saya sendiri bukan orang yang mengikuti setiap potong berita yang dirilis oleh media  karena saya agak kesal dengan pemberitaan media yang sering kali tidak berimbang, hanya ingin menjual berita. Tapi pesan moralnya adalah sebelum kita terlalu jauh membenarkan ataupun menyalahkan sesuatu, ada baiknya kita lihat sisi lainnya. Selalu ada sisi yang lain. Selain itu, kalau memang hati sudah bulat untuk memihak, pastikan kalau bukti atau setidaknya analisis sudah cukup. Jangan hanya karena membaca suatu artikel yang isinya opini penulis semua lantas kita langsung terpengaruh tanpa punya analisis sendiri. Analisis yang kita buat juga jangan melulu bawa hati dan emosi, silakan tools analisis yang anda dapat semasa sekolah atau kuliah dipergunakan. Bisa yang sesederhana 5W1H dan 5Whys, atau tools analisis lain yang lebih wahid lagi. Jika analisisnya sudah terstruktur, tempat untuk pengaruh berlebih dari hati dan emosi bisa dikurangi hehe.

Harus disadari bahwa setiap suara kita akan memberi pengaruh pada arah suatu berita karena di jaman yang sosial media sudah menjadi asupan informasi bagi sebagian besar orang ini, setiap informasi yang kita bagikan bisa membawa dampak berkali lipat tanpa kita sadari. Maka dari itu, pintar pintarlah memilih informasi yang akan kita dukung dan sebarkan.

Selamat malam J

Note: Judul di atas tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi tulisan ini. Saya memberi judul seperti itu semata-mata karena saya sedang sangat ingin ngemil sebelum menulis. hehehe
Readmore → I Demand Food!

Thursday, December 4, 2014

Belajar Ikhlas

Dulu, guru agama saya waktu SMP pernah menceritakan tentang tingkat keikhlasan seseorang. Menurut cerita beliau, ada 4 tingkatan keikhlasan seseorang -- saya hanya ingat 3 diantaranya.
1. Orang yang menyalahkan orang lain atas hal yang terjadi padanya
2. Orang yang menyalahkan diri sendiri atas hal yang terjadi padanya
3. Orang yang menerima bahwa setiap hal yang terjadi adalah karena itu harus terjadi -- selain juga karma tentunya.

Paling baik tentu mereka yang tidak menyalahkan baik orang lain maupun dirinya sendiri atas apa yang terjadi, melainkan menerima semuanya sebagai hal yang harus terjadi.

Contoh umum masalah keikhlasan di atas adalah kekecewaan. Kecewa biasanya terjadi karena kita punya harapan yang lebih tinggi daripada yang kita terima. Ketika seseorang bilang kalau kita membuatnya kecewa, bukan hal yang tepat untuk kita menyalahkan diri sendiri. Jangan salahkan orang lain saat dia tidak bisa memenuhi harapan kita. Ingat, kita yang memilih untuk menaruh harapan pada mereka. Jadi saat kita kecewa, salahnya tidak pernah sepenuhnya ada pada orang lain, sebagian juga ada pada kita.

Saya menulis ini untuk seorang teman yang sedang berpikir kalau dia sudah sangat mengecewakan seseorang dan tidak pernah sadar bahwa yang dia lakukan tidak seburuk itu. Untuk seorang teman yang terperangkap paradigma bahwa kekecewaan disebabkan hanya oleh aksi di satu pihak, paradigma bahwa 'korbannya' sangat lemah dan tidak berdaya dan tidak seharusnya dikecewakan. Untuk seorang teman yang lupa kalau setiap orang adalah pengambil keputusan untuk setiap tindakan yang diambilnya--termasuk tidakan untuk bertaruh harapan.

Every single thing that happen to us is just a lesson to make us better.
Life will be much happier if we can let go either the good or bad thing that passing by. Basically, they're passing by just to see if we're alive or not :D

Good night!
Readmore → Belajar Ikhlas

Monday, November 17, 2014

Saturday Soccer

Malam minggu kemarin (15/11) adalah kali pertama saya nonton pertandingan sepak bola secara langsung di stadion. Senangnya lagi, pertandingan pertama yang saya tonton adalah Tim Nasional (Timnas) Indonesia yang sedang uji coba dengan timnas Syria. 

I think i am quite lucky. Tiket pertandingan kemarin dibayari Kak Bayu. Oya, tiketnya saya beli online pakai kartu kredit kakak saya. Teman nonton saya, junior saya waktu SMA, dengan baik hati rela gak jadi rapat dan nonton konser paduan suara di kampusnya hehe. 
Booking confirmation e-mail yang harus ditukar menjadi tiket
Tiket Pertandingan
Dari Epicentrum, Kuningan saya naik Trans Jakarta, transit di Dukuh Atas, kemudian lanjut ke arah Blok M dan turun di halte Gelora Bung Karno (GBK). Di halte Dukuh Atas saya sudah bertemu dengan beberapa suporter timnas--which I recognized from the shirt they wore, red jersey. Rasanya senang sekali, saya sudah bikin plan di kepala: nanti kalo sampai GBK saya masih takut tukar tiket sendirian, saya mau ngikut abang-abang ini saja. hahahaha. 

Turun dari halte GBK, benar saya mengikuti mereka karena sebenarnya saya gak tahu pintu 1 atau 12 itu dimana, tempat tukar tiket dimana juga saya gak tahu. Untungnya, selalu ada bapak bapak security yang bisa bantu kita di tempat publik. Setelah dikasih petunjuk arah sama bapak security tadi, saya langsung ke arah Pintu 9 di Kantor Liga Pendidikan Indonesia. Saya kira petugas tiket tidak akan ada ramah ramahnya, jutek, galak dan sebagainya. Tapi ternyata semuanya salah, panitia penyelenggaranya ramah ramah semua. Mirip seperti tukar tiket buat nonton konser pelayanannya, tapi tanpa antrian panjang.

Sensasi nonton timnas di GBK sangat terasa walaupun stadion tidak penuh, mungkin karena ini pertama kali saya nonton. Kalau stadionnya penuh, pasti magical banget itu suasananya terutama pas singing national anthem, Indonesia Raya. 

Ini beberapa foto yang sempat saya ambil dengan handphone saya. Kualitasnya memang jauh dari bagus, tapi ya sudah lah, yang penting saya punya bukti sudah habis nonton hehehe. Saya pasti akan nonton lagi. Entah laga timnas lagi, final ISL, atau mungkin bahkan World Cup. Semoga ada kesempatan :D

Semangat untuk Timnas Indonesia! Walalupun kemarin uji coba kalah 2-0, semoga bisa perform lebih baik di AFF nanti. IN-DO-NE-SIA!!


Menyanyikan Indonesia Raya


Stadion Gelora Bung Karno





Readmore → Saturday Soccer

Saturday, January 5, 2013

Matur Piuning

This photo was taken around 5 months ago in my Sanggah Merajan (a family temple). This ritual was done to tell my ancestors that I will be far away from home to continue my study here in Jakarta. Well, that is a common ritual a Balinese Hindu does before they leave their homeland for several long time.
We did this after doing Galungan ceremony.

The woman beside me is Ibu, my mom. She is beautiful, i know B)


Readmore → Matur Piuning

Tuesday, January 1, 2013

How Easy Our Life Today

i just bought a t-shirt online. ya. i did online shopping on the very first date of 2013. suddenly I realize, how easy our life today is.

lemme tel you the chronology, i just woke up around 9 and still on the bed until 12. when i left my bed, i turned on the lamp and my laptop. i open my web browser, automatically signed in into twitter. watching the timelines running. the only onlineshop I follow just retweeting others online shops tweet. i attracted, i clicked on their websites. i found t-shirt. i wanted it. i look for the FAQ page on the upper right of the website. i found their contact to order. i texted the number, they confirmed. they ask me to transfer the money before 4 p.m. i'm too lazy to walk to the ATM. and i've forgotten my BNI internet banking password since the first time i established the account -__- and fortunately, there is still BNI SMS Banking. ya, i did the trx in seconds. i confirm my payment to the online shop. they confirmed again that they already received it and the stuff will be shipped tomorrow because today is holiday of course. New Year~

last week i also did this. in the middle of the night. actually it was 1 a.m. I did online shopping, and did the transfer at that night (or morning) too. the system made it possible to automatically calculate how much i should pay include the shipping fee, gak kayak online ship yang barusan--well actually mostly the online shop use this system. and online shop yang aku cerita di awal aja yang aku tau transaksinya lewat sms--and the stuff arrived two days later. no, it was one day later because the night (or morning) i made the transaction could not counted as the day before. i mean the date already over. and the transfer was trough internet banking. 

see? how easy our life today!

I'd like to say THANK YOU VERY MUCH to my MOM, my SISTER, dan also DAD for being that very kind to me giving me that amount of money every month. I am so grateful. Gak semua orang punya kesempatan buat bisa hidup semudah ini. Terimakasih banyak :) I promise i will pay it back. In my way, of course. 
Readmore → How Easy Our Life Today

Wednesday, December 26, 2012

Good Post to Read

Jadi ceritanya hari ini saya memutuskan untuk beristirahat sejenak dari tugas-tugas. Saya pun membuka-buka kembali alamat blog lama yang sering saya akses dulu. Saya selalu senang membaca postingan-posting an ini. Menurut saya, hal seperti inilah yang harusnya bisa ditulis seorang mahasiswa. Bukan hal-hal random seperti yang sering saya luapkan di blog ini. Namun berhubung kemampuan menulis saya belum sebagus itu, saya akan share link tulisan tersebut. Ini dia...

  1. http://engineeringmanagementitb.tumblr.com/post/6023381375/matematika-dan-engineering-kita-hanya-tinggal
  2. http://engineeringmanagementitb.tumblr.com/post/1703330506/epidemi-mri-harus-kita-yang-memulai
  3. http://engineeringmanagementitb.tumblr.com/post/5771861910/buruh-dan-kapitalis-industri-mungkinkah-hidup-bahagia
I admit it, dulu saya ingin sekali meneruskan pendidikan disana, di jurusan itu. Tapi sepertinya jalan saya bukanlah disana. 
Tapi, bukan berarti saya menyesali keputusan saya untuk mengambil jalan yang ini. Bahkan saya yakin, tujuan saya akan tercapai through this path :)
Readmore → Good Post to Read

Sunday, November 18, 2012

Sungha Jung Live in Jakarta

thank you for the awesome night, for those lovely smiles, for shaking my hand and signing my whole stuffs, . Take some rest. I love you!
Scrapbook from INDOJSH







An accidental handshake XD



VIPP- Gita, Mija, Wika (me)



Irony. with Jung Sungha's Original Autograph

Perfect Blue. with Jung Sungha's Original Autograph

The e-Ticket
Readmore → Sungha Jung Live in Jakarta