Monday, August 14, 2017

BFLDP 2017: A Personal Point of View

Bakrie Future Leader Development Program (BFLDP) adalah semacam program Management Trainee (MT) yang dirancang selama setahun. BFLDP dijalankan lewat Bakrie Solusi Strategis (BSS) dari proses rekrutmen hingga trainingnya. Program ini sudah dimulai sejak Juni lalu. 
Poster Rekrutment BFLDP 2017
Sekitar bulan maret, grup chat teman-teman kuliah saya agak ramai dengan poster di atas. Sangat menarik waktu itu grup perusahan yang membeasiswai kuliah kami sampai lulus membuka program popular bagi anak baru lulus: Future Leader Program. Waktu itu masih ada dalam masa-masa gencar (sebagian dari) kami mencari kerja karena baru lulus. Banyak teman-teman yang mendaftar, saya juga sebenarnya cukup tergoda. Terus terang saja, ini kan program punya perusahaan induk, pasti kesempatan yang ditawarkan jauh lebih besar, pikir saya waktu itu. Padahal, saya sudah bergabung lebih dulu dengan program MT Bakrie Pipe Industries (BPI) sejak September 2016. Oh jelas, godaannya cuma sebatas ingin, tidak sampai benar-benar mendaftar. (Karena di sisi lain, program MT BPI punya ikatan dinas dan sistem penalti yang tidak memungkinkan saya untuk loncat begitu saja, hehe).

Tanpa disangka-sangka, di bulan Juni saya mendapat email dari pihak HRD BPI dan juga BSS yang isinya kami (MT se-BPI raya) diundang mengikuti Kick-off BFLDP dan otomatis menjadi peserta BFLDP 2017.

Awalnya sih agak kurang ngeh kenapa kami bisa jadi peserta BFLDP dan bingung bedanya dengan program MT yang sudah kami jalani dan akan segera berakhir di akhir Agustus ini. Awalnya agak khawatir, apakah kami yang sudah jalan hampir setahun ini harus mengulang program serupa.

Tapi setelah Kick-off, akhirnya paham juga maksudnya apa.

Jadi, BFLDP sudah ada dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, BFLDP pada tahun-tahun tersebut hanya berfokus untuk memenuhi kebutuhan perusahaan induk kami. Setelah melalui berbagai pertimbangan seperti perlunya hubungan erat antar-unit usaha sedari awal, maka diputuskanlah 2017 menjadi tahun dimana program serupa diseluruh unit dilebur menjadi satu dan dikelola oleh BSS. Ada 24 orang peserta program dari berbagai unit tahun ini yang rata-rata adalah fresh graduate. Adapun unit yang bergabung dalam BFLDP 2017 adalah Bakrie Autoparts, Bakrie Building Industries, Bakrie Indo Infrastructure, dan Bakrie Pipe Industries. Saya dan teman-teman MT BPI yang sedari awal diseleksi dan mengikuti program yang dikelola secara mandiri oleh HRD unit pun jadi diikutkan BFLDP.

Ekspektasi terhadap program ini terkskalasi cukup tinggi pada saat Kick-Off. Ada Pak Irwan Sjarkawi, Preskom Bakrie Brothers. Ada Chief dari tiap unit. Ada pemaparan strategis tentang grup Bakrie ke depannya. To be honest, I never expect they took the program this serious.

Program ini dibagi menjadi beberapa tahap: Personal development training, Inter-unit field visit, in class training for marketing, operations, and finance, dan tentu on the job training. Setiap kuarter akan ada presentasi tentang progress program dan project dan dievaluasi. MT angkatan saya di BPI hanya mengikuti 2 tahap saja: Personal development training dan inter-unit field visit. Ini karena kami sebelumnya sudah mendapatkan materi in class di pabrik oleh manajer masing-masing yang dinilai cukup setara dengan in class training BFLDP (agar tidak dobel).

Saya baru saja menyelesaikan personal development training terakhir Rabu kemarin. And it was higher than my expectation! All of it!

Training pertama yang kami terima setelah kick-off adalah “Effective Self Management”. Materinya dari membangun komunikasi efektif, human relation, mengelola konflik, hingga mengelola waktu. Bagian favorit saya jelas soal komunikasi dan human relation. Saya cukup bermasalah dengan kedua hal tersebut. Percaya atau tidak, training kemarin benar-benar mengajarkan banyak hal dalam membangun human relation dan komunikasi lebih baik. Tentang bagaimana mengenali siapa yang saya hadapi dan bagaimana berkomunikasi dengan orang tersebut. Dulu sih, seringnya terlalu egois dengan ‘bodo amat’. Sekarang jadi lebih peduli dengan detail-detail tentang lawan bicara hehe. Hopefully I can always apply it better and better. Bagian menyenangkan lain tentu saja bisa kabur dari rutinitas pabrik selama 4 hari penuh (1 day kick-off preparation + 1 day kick-off + 2 days training). Saya selalu suka training karena berarti bisa rehat dari urusan pabrik hahaha. Mei kemarin juga saya diberi kesempatan training Production/Operation Planning and Inventory Control di Menteng seminggu penuh, senangnyaaaa.

Personal development training kedua (atau terakhir) adalah tentang Presentation Skill. Ini juga bagus sekali. Trainernya adalah chief HRD BA, Pak Rida Jacobalis. Saya pikir training ini akan jadi “begitu saja” karena sebelumnya saya pernah ikut seminar macam ini di kampus tapi sayang tidak banyak yang didapat. But, hey, ternyata ini beda! Detail sekali, dari anjuran penggunaan visual aids seperti teknis desain presentasi, cara berdiri, cara bicara, cara menjawab pertanyaan, pentingnya pembuka dan penutup presentasi yang berkesan, sampai anjuran grooming. Dulu-dulu saya selalu merasa presentasi saya sudah cukup bagus. Tapi training ini akhirnya bikin kepercayaan diri saya yang ketinggian itu langsung turun drastis. Baru sadar kalau presentasi saya kacau sekali selama ini. Bicaranya terlalu cepat, acak-acakan, kurang terstruktur, kurang detail (karena selalu merasa audience paham apa yang saya bicarakan). Setelah dicekoki latihan dan teori di hari pertama, hari kedua kami dihabiskan untuk presentasi betulan tentang unit masing-masing, satu-per satu. 8 menit presentasi, 2 menit tanya jawab. Dengan penampilan rapih dan wajib improving dari presentasi awal.


A post shared by Kadek Dwika (@yundarani) on
Presentation Day

2 hari setelah training, kebetulan saya mengisi acara untuk orang tua dan calon mahasiswa baru di kampus. Hari itu saya memperhatikan Ibu Ananda, seorang dosen Ilmu Komunikasi dan juga Kepala Bagian Marketing kampus, saat membuka sesi beliau menggunakan menjawab pertanyaan persis seperti yang diajarkan Pak Rida saat training. Listen, Rephrase, Check, Answer, Confirm. Begitu juga saat Pak Boy, dosen Business Information System ketika beliau menjawab pertanyaan. Woahhhh. Tapi ya, ternyata susah untuk secara tertib menjawab pertanyaan dengan metode itu. Saat saya presetasi di depan mereka, tetap saja lupa me-rephrase and check the question dan confirm the answer. Tapi cukup oke lah, hari itu saya berhasil sedikit mengerem kecepatan bicara dan sudah agak lebih detail bicaranya.

Satu lagi manfaat lain dari dileburnya program ini adalah kami jadi tau lebih banyak tentang unit lain yang ada di Grup Bakrie. Selama 9 bulan MT sebelum akhirnya masuk BFLDP, yang saya tahu ya cuma BPI. Saya tahu unit lain hanya sebatas nama perusahaannya saja. Di BFLDP, lewat field visit kami dibawa mengunjungi pabrik-pabrik yang dimiliki oleh unit. Kami diajak melihat langsung proses casting di BA, proses machining di BMC, proses produksi Harflex dan Versa di BBI, dan tentu proses produksi pipa baja di tempat kami. Insight-nya: banyak yang dikerjakan, grup ini adalah satu keluarga yang cukup besar.


Field Visit to Bakrie Autoparts
Dan setelah semua training dan program yang hampir selesai ini, saya berharap semoga tidak sia-sia apa yang mereka investasikan pada saya, sebagaimana juga semoga tidak sia-sia waktu yang saya habiskan di sini.
Wish me luck!

P.S.
Tulisan ini hanyalah sebentuk excitement saya terhadap program yang sedang saya jalani.
P.P.S
Program saya akan berakhir akhir bulan ini. Belum bikin laporan. Sebenarnya sih daripada saya menulis panjang lebar di post ini harusnya saya menulis laporan akhir. Tapi ya, sama seperti permasalahan menulis skripsi, rasanya malas sekali. Ugh.

Harapan Indah, 13 Agustus 2017 10:44 PM


Readmore → BFLDP 2017: A Personal Point of View

Sunday, July 30, 2017

Dari The xx sampai ERK

Konser pertama yang ditonton di tahun 2017: The xx Live in Singapore! Hoaaaah. Saya sudah mendengarkan the xx sejak beberapa tahun lalu. Mungkin ketika awal-awal kuliah, tepatnya lupa. Dari kali pertama suka The xx sampai sekarang pun, saya belum pernah bertemu teman yang juga suka dengan band asal Inggris ini.

Jujur saja, saya bukan fans berat The xx. Tapi memang musik mereka bagus dan saya suka sekali. Kebetulan ada kesempatan mereka manggung di Singapura. Pikir waktu tahu mereka akan muncul di negeri seberang sesederhana “oke, ini alasan bagus buat ke Sg. Berangkat ah.”

Jadilah di awal April, satu tiket dibeli online, tepat di hari dan jam pertama penjualan tiket mereka. Hahaha.


Menonton band kesukaan di negara orang adalah pengalaman baru. Saya sampai venue 15 menit lewat dari jam yang tertera di tiket. Beruntung ternyata yang sedang di panggung masih opening act: Sampha. Setelah menemukan tempat duduk, awalnya agak canggung karena di sebelah kiri dan kanan adalah pasangan. Hahaha! Okay, saya mencoba embracing the ambience. Tapi entah kenapa tetap terasa kurang nyaman. Terlebih, setelah opening act selesai tampil, ada jeda sekitar 30 menit. Mulai tidak sabar.


Oh ya, mungkin saya yang cupu, saya baru tahu kalau di sini orang-orang menonton konser itu sambil minum bir yang memang dijual penyelenggara. Minum bir dan sibuk ngobrol-ngobrol, setidaknya di waktu-waktu awal sebelum The xx keluar. Rasanya seperti band yang sedang main di panggung cuma backsound mereka.


Entah memang tipe konsernya yang seperti itu dan saya yang kurang cocok. Atau mungkin memang konser kemarin kurang bagus. Saya sebenarnya berharap lebih banyak. Sayang sekali aura magis konser yang bikin merinding itu baru bisa dirasakan di akhir ketika mereka mebawakan ‘Angels’. Dan, mereka mainnya singkat sekali Cuma sekitar 1 jam. Huahhhh. Terlalu sebentar.

Dulu waktu nonton TS di Ancol (walaupun saya bahkan bukan pendengar TS dan penontonnya kebanyakan masih bocah), kok rasanya lebih hype ya. Atau waktu konser SHJ (waktu itu saya fangirl!). Beuh, itu lebih gila lagi letupan-letupan kebahagiaan waktu nontonnya.

Tapi saya sih sama sekali tidak menyesal datang ke Sg. Ada cerita tentang perjalanan dan menikmati negara-kota ini dalam waktu kurang dari 8 jam yang malah lebih seru dari cerita soal konser (post terpisah, setelah ini).

***

Omong-omong, saya bukan maniak konser, juga bukan penggemar berat Efek Rumah Kaca. Tapi, lagi lagi memang karena kesempatan yang saya punya cukup bagus, Selasa malam saya nonton the xx, Rabunya saya nonton ERK di Kuningan City. Kebetulan sekali.

Padahal, tiket 'Tiba Tiba Suddenly Konser Again' ERK ini dijual hanya 3 jam sebelum konser langsung di venue. Gila. Mana mungkin saya akan susah payah sebanyak itu buat menonton band yang cuma sekadar saya dengar. 

Saya jadi nonton konser maraton. Macam pencinta musik padahal aslinya cuma mba-mba pabrik yang kebetulan dengar band-band indie, yang dengan konspirasi semesta membuatnya bisa ada di konser-konser hype itu. Bahahahha. Credit to teman kantor yang hobi meracuni saya dengan segala macam selera musiknya dan antri tiket ERK buat kami.

***

Saya datang ke venue langsung dari CGK tanpa ekspektasi apa apa. Pertama memang karena cuma intens mendengarkan 1 album lama ERK saja. Kedua karena album terakhir mereka susah didengarkan. 

Penampilan mereka dibagi menjadi 2 sesi dengan total durasi sekitar hampir 4 jam. Sesi pertama mereka membawakan lebih banyak lagu-lagu di album barunya. Bisa ditebak, saya kurang paham. Tapi karena penontonnya larut sekali, saya jadi menikmati menjadi bagian dari larutan penonton dalam lagu lagu ERK. 

Nah, sesi kedua mereka mebawakan lagu dari album-album yang dulu memang saya donlot dan dengar dengan frekuensi yang cukup banyak hahaha. I sing along! 

Ada banyak lagu-lagu yang dulu cuma sekadar didengar selewat jadi didengarkan lebih serius setelah konser ini. Saya jadi jatuh cinta dengan 'Melankolia' dan 'Biru'. Padahal dulu mungkin tidak pernah sadar lagu ini ada. 

Ternyata ERK lebih bagus daripada ekspektasi saya. Walaupun dulu (dan sekarang pun kadang masih) sering sinis dengan liriknya.

Ada banyak isu sosial yang mereka angkat, bukan lagu cinta melulu. Seandainya mereka yang mendengarkan bisa lebih serius memaknai lagu-lagunya (bukannya hanya sekedar menyanyi ketika konser), pasti efek baiknya akan bisa lebih besar.

Lagu-lagu mereka bercerita tentang banyak hal. Saya jadi berpikir, apakah mereka yang mendengar benar-benar paham? Atau cuma sekedar membeo (seperti juga saya kemarin-kemarin)?

video credit: Mas Dimas.

Terlepas dari segala skeptisme saya, harus diakui kalau ERK menghasilkan karya-karya bagus. Jika ada kesempatan, rasanya tidak akan berpikir dua kali untuk datang lagi.

***

Random fact:
Karena semalam sebelumnya juga menonton konser, saya jadi memperhatikan perbedaan antara keduanya. Perbedaan the xx kemarin dengan ERK hari ini selain karena skala konser dan tipe venuenya adalah hal-hal yang dilakukan penonton saat menunggu konser dimulai. Di sg kemarin, orang-orang minum bir dan ngobrol di dalam venue (gate sudah dibuka sejam sebelum konser dimulai). Di jkt, orang-orang merokok dan ngobrol di luar (karena gate baru dibuka sesaat sebelum konser dimulai). 

***

Menonton konser memang cuma kebutuhan tersier. Bukan hal mandatory dilakukan agar bisa bertahan hidup. Tapi, menonton konser adalah salah satu hal menyenangkan yang bisa dikerjakan untuk lebih menikmati hidup. Sama seperti travelling, atau menonton bioskop. 

Sudah datang ke konser apa tahun ini?

Bekasi, 29 Juli 2017 10.57 PM
Readmore → Dari The xx sampai ERK

Tuesday, July 11, 2017

Jadi Anak Pabrik 101

Disclaimer: tulisan ini sepenuhnya dari pengalaman saya bekerja di salah satu pabrik milik perusahaan Indonesia dan tidak dijamin keakuratannya dengan yang terjadi di pabrik lain.

Dosen saya dulu waktu awal-awal kuliah pernah bilang "Jangan sampai lulusan Teknik Industri tidak mau kerja di pabrik, maunya di kantoran saja". Perkataan beliau ini merujuk pada kenyataan lulusan sarjana TI sekarang banyaknya mau kerja yang terlihat prestisius di gedung-gedung megah, tidak mau berkotor-kotor menyentuh pabrik.


Memang sih, pabrik itu kesannya selalu panas, kotor, dan kurang keren. Apalagi buat perempuan. Di awal interview pekerjaan ini pun saya ditanyakan hal yang sama menyangkut gender saya, dimana tempat kerja saya ini persentase wanitanya (sepertinya) tidak sampai 10 persen. Mereka menanyakan keseriusan dan kesanggupan saya akan bekerja di area yang mayoritas lelaki. Mungkin saat itu mereka mengkhawatirkan saya. Terlebih apabila nanti diberikan tanggung jawab yang lebih besar untuk mengurus tim yang isinya laki-laki seumuran bapak saya. Hahaha. Pertanyaan yang benar-benar di luar pemikiran ketika interview. 

But, hey, it's been 10 months dan ternyata hidup di pabrik tidak buruk sama sekali kok. Jauh dari semua kekhawatiran orang-orang. I'm a fresh grad majoring in Industrial Engineering, female, 23 yo, 154 cm and I'm enjoying my life as a worker in a steel pipe factory.

1. Jam Kerja Teratur Mirip Sekolah 
Jam masuk kerja: 07.30
Jam istirahat: 12.00 - 13.00
Jam pulang: 16.30
Taukah kamu kalau di pabrik ada sirine yang bunyi di jam-jam tersebut? Yap, persis seperti bel di jam-jam sekolah.

Ada hal menarik dari pattern jam kerja ini. Di tempat kerja saya, jarak parkir motor karyawan dengan pos-pos kerja dan kantor itu lumayan jauh. Butuh hampir 5 menit jalan kaki melewati hamparan area lapang. Kalau kita sampai sebelum 7.27, orang-orang masih ramai lalu-lalang entah baru datang, habis dari pos absen, atau sedang berjalan dari parkiran. Pokoknya ramai orang saling sapa dan salaman. Tapi lewat pukul 7.27, dijamin lapangan sudah sepi. Kalaupun ada yang lewat cuma ada dua kemungkinan: baru mau pulang setelah lembur/shift 3 atau terlambat datang. Ini membuat saya sebisa mungkin akan datang sebelum jam sepi dimulai. Cuma, ya, kalau malas menyerang, saya juga masih sering datang terlambat (sampai saat ini rekor maksimal 10 menit).  

Sedangkan di jam pulang, dari jam 4-an hawa-hawanya sudah terasa. Mesin-mesin mulai berhenti meraung, orang-orang mulai berberes. Jam setengah 5 waktu sirine pulang menyala, orang sudah siap keluar dari kantor atau pos kerjanya. Bahkan banyak juga yang sudah standby di pos absen masing masing dengan motor terparkir berjejer di sebelahnya. Hahaha. Bukan untuk ditiru yaaa. 
Jam Kerja BPI
Jadi jam 5, (office) pabrik dipastikan sudah sepi. Beda sekali dengan di gedung-gedung perkantoran yang sampai larut malam juga banyak lampunya masih menyala. Kalau kamu workaholic dan suka pulang telat, ini juga gampang sekali ketahuannya.

Buat orang-orang yang suka kerja dengan jam fleksibel, kerja di pabrik sangat tidak disarankan.

2. Makan Siang Gratis
Saya selalu suka makan siang gratis. Pertama karena tidak perlu ribet memikirkan harus makan apa dan dimana. Kedua karena ini bikin hemat. Kalau makan diluar (apalagi ke mal ala karyawan di gedung-gedung tinggi) pasti habis banyak, tergoda beli ini itu yang lain lain.

Makanan di pabrik tempat saya kerja sekarang standar, sih, tapi menurut saya cukup. Kalau di TMMIN kemarin waktu magang, makanannya lebih variatif. Ada dua set menu yang bisa dipilih setiap hari. Beda lagi kalau di Newmont, makan siangnya di box dan isinya luar biasa banyak (porsi tambang).

Selain hemat uang, makan siang gratis di pabrik juga berarti hemat waktu. Habis makan bisa istirahat, orang juga biasanya memanfaatkan sisa waktu istirahat untuk tidur.

3. Seragam Kerja
Sebagian orang berpendapat pakai seragam kerja adalah mimpi buruk karena mereka jadi tidak bisa tampil cetar. Nah, bagi kalian yang berpendapat sama, pabrik jelas bukan tempat kerja yang cocok. Kalau saya sih senang pakai seragam. Alasannya sama seperti alasan suka makan siang gratis: tidak perlu ribet memikirkan besok mau pakai apa dan hemat karena tidak usah beli baju kerja. 

Seragam kerja saya sekarang mirip seragam guru. Lucu deh hahaha. 

Ohya, seperti ada kebijakan tidak tertulis untuk para pekerja perempuan di sini. Kami seperti diizinkan tidak pakai seragam walaupun di buku Perjanjian Kerja Sama (PKB) semua karyawan wajib mengenakan seragam.

Catatan: tidak ada pekerja perempuan di mill.

4. Jumat: Jam Kerja Singkat
Kami wajib senam pagi di hari Jumat pukul 07.30-08.00. Perusahaan mendatangkan instruktur senam ke pabrik dan senamnya diadakan di lapangan. Kalau tidak mood senam, bisa juga main basket atau bulu tangkis atau tenis meja di hall seberang. Kalau tidak mood juga (beberapa orang) kadang kami di depan komputer saja hahaha.

Istirahat di hari Jumat juga lebih cepat (11.30) untuk memberikan waktu tambahan bagi mereka yang menjalankan sholat Jumat. Masuknya tetap pukul 13.00. Pulangnya tetap 16.30, jadi di hari Jumat kami cuma kerja 7 jam :D Ohya, ini sangat tergantung kebijakan masing-masing pabrik. Ada juga yang yam pulangnya dimundurkan 30 menit untuk mengganti tambahan waktu Jumatan.

5. Bonus Jadi Perempuan di Pabrik yang Mayoritas Laki-Laki
Bulan puasa kemarin, DKM pabrik mengadakan buka puasa bersama di Masjid. Ketika datang, setiap orang akan mengambil takjil langsung di meja yang sudah disediakan panitia. Nah, kalau kami para perampuan, takjilnya diantarkan ke tempat duduk. Jadi tidak usah susah-susah antri. Yayyy.

Begitu juga waktu pembagian SHU Koperasi. Para perempuan mendapat kemudahan untuk lagi lagi menghindari keruwetan antri. Kami boleh ambil duluan hehe.

Kalau hari-hari kerja biasa, orang-orang juga cenderung akan membantu perempuan untuk hal-hal yang membutuhkan fisik yang kuat. Bukan karena kami tidak mampu, tapi ya namanya laki-laki biasanya selalu ingin bisa helpful buat perempuan. Semacam insting mereka lah. 

***
Di balik segala macam keteraturan pabrik, sebenarnya sih banyak ketidakpastian di dalamnya. Sangat banyak malah hahaha. Mungkin akan saya ceritakan kemudian. Oh ya, kalau kamu punya pertanyaan seputar kerja di pabrik, boleh tinggal pertanyaan di kolom komentar. Nanti akan coba saya bahas di post-post selanjutnya :D

Bekasi 11 Juli 2017 3.59 pm

  

 
Readmore → Jadi Anak Pabrik 101

Thursday, June 15, 2017

Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Bagian 3 - Akhir

On Hold

Couple hours before my flight leaving for home, I got an interview with an area manager of a multinational beverage company in Jakarta Selatan. It was my first user interview! 
  
Karena deg-degan menunggu interview, akhirnya saya googling dan menemukan satu thread panjang tentang posisi tersebut. Isinya kurang lebih tentang ekspektasi para peserta seleksi yang jauh dari bayangan. Banyak di antara mereka sepertinya berpikir bahwa menempati posisi itu berarti akan bekerja sebagai karyawan elit di kantor megah. Mereka langsung goyah ketika belum apa-apa ditanyai soal kepemilikan atas SIM C. Dan ya, ketika masuk ruangan, si user langsung tembak dengan kalimat "Sebelum saya mulai interview, saya mau kasih tahu kamu sesuatu dulu. Soalnya sayang saja kalau sudah lama-lama interview tapi ternyata kamu tidak mau pekerjaan ini." 

Beliau menanyakan soal SIM C persis seperti yang dibahas di thread, beliau juga menanyakan soal masuk kerja saat akhir pekan, menanyakan soal jam kerja yang mulai pagi-pagi sekali dan pulang akan terlambat, datang ke toko-toko. Sejujurnya pertanyaan-pertanyaan itu sedikit bikin gentar, tapi entah kenapa rasanya juga bersemangat sekali. Membayangkan diri harus bersusah payah panas-panasan dari toko ke toko naik motor sendiri, Gila! Jika saya menceritakannya kembali beberapa tahun kemudian pasti keren! Hahaha naif sekali, memang. 

Setelah obrolan tentang calon pekerjaan, sebenarnya saya dan bapak pewawancara lebih banyak ngobrol tentang hal lain: Bali, karena kami berdua berasal dari pulau yang sama. Satu hal yang sangat saya ingat dari obrolan itu adalah "kamu harus punya pilihan kamu sendiri". Kalimat ini muncul setelah saya bicara soal sebagian besar hal-hal saya jalani sebenarnya agar sesuai dengan harapan ibu saya. Karena saya, bagaimanapun menyebalkan kelakuan saya di rumah, saya sayang sekali dengan ibu. Pasti kalian juga begitu :)

***
Salah satu bagian dari rute Dps-rumah harus melewati bukit dan perkebunan cengkeh di sisi jalannya, masih 30 menit dari rumah. Di area ini sinyal susah sekali, kalaupun ada kualitasnya tidak bagus. Dan entah kenapa telfon dari HRD CCAI harus datang di tempat seperti ini. Telfonnya tidak terdengar jelas dan bahkan terputus sebelum informasinya bisa ditangkap. Ah, rasanya agak panik juga. 

Beberapa menit setelah sampai rumah, handphone berdering lagi, nomor yang sama. Seorang laki-laki di ujung telepon kembali mengenalkan diri dan mulai menjelaskan benefit yang akan didapat setelah menandatangani kontrak. Sebagai first job-er, saya bersemangat sekali! I will pay my own bills! ahaha. 

Seperti biasa, untuk hal-hal seperti ini harus dibicarakan dengan ibu bapak. Karena sebenarnya saya juga sedang menunggu hasil interview di tempat lain yang posisinya mirip: management trainee.

Ketika bercerita tentang gambaran pekerjaan di CCAI, bisa dipastikan ibu membayangkan dan tidak mau anaknya angkat-angkat krat minuman dari toko ke toko walalupun itu adalah bagian dari program. Walaupun entah kenapa anaknya bersemangat sekali. Dan ya, karena pertimbangan ibu, saya merelakan tawarannya. "Nothing to lose. Seumpama nanti tidak lulus interview satunya juga tidak apa, berarti saya belum cocok dan tinggal cari lagi yang pas."

***
Saya dapat telfon lagi! Kali ini dari Dinda. Kami kenal setahun lalu (kala itu). Dia sedang magang dan saya kerja praktik di tempat yang sama. Teman makan siang. Dinda sudah lulus duluan dan sekarang sedang menelfon sebagai staf HRD yang mengabarkan berita baik: BOD interview di Bakrie Tower Lt. 7 hari Selasa. Dia menelfon hari Jumat siang, saya masih di Bali. Duh.

Tapi beruntung, interviewnya bisa dijadwalkan kembali setelah lebaran. Dan interview kali ini tidak santai seperti sebelumnya. Interviewernya pun banyak, yang belakangan saya baru tahu bahwa mereka adalah Chief HRD, Chief Logistics, dan GM Plant. Maklum, saat interview saya tidak bisa mengingat nama dan posisi mereka. Mengingat nama di awal pertemuan adalah kelemahan. 

Interview bersama BOD sebenarnya agak membuat kehilangan semangat. Jawaban-jawaban yang saya berikan rasanya kurang sesuai dengan ekspektasi mereka. Terutama pertanyaan seputar masalah diangkat dalam skripsi. Interview yang diakhiri dengan "Sebenarnya jawaban yang saya harapkan adalah ...." dari seorang chief. Jatuh berkeping-keping. Rasanya waktu itu ingin ditelan bumi saja. 

***
Awal September, sudah tidak tehitung berapa kali menjejak ke pabrik ini. Kerja praktik, skripsi, seleksi-seleksi MT. Kali ini saya datang sebagai anak baru! Ada 4 orang termasuk saya. Perempuan sendiri. Tiba-tiba saya teringat pertanyaan salah satu manajer ketika interview pertama: "kenapa kami harus memilih kamu yang, maaf, bukannya bagaimana, tapi kamu perempuan, di pabrik. kenapa kami harus memilih kamu?" 

Awalnya kami berempat, dibulan kedua jadi berlima. Foto diambil di SEAPI, Lampung.
Dan inilah bulan kesepuluh saya di Bakrie Pipe Industries :)


Bekasi, 15/6/2017 10:21 


Readmore → Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Bagian 3 - Akhir

Sunday, June 11, 2017

Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Bagian 2

To Discover My Self

Kamis pagi di kamar bawah tangga salah satu rumah di Jl. Menteng Atas Selatan III saya bangun agak siang. Terbangun karena bunyi denting notifikasi pesan masuk dari seorang teman. Pesannya tidak panjang tapi ampuh membuyarkan kantuk dan memaksa saya menyiapkan segala macam persyaratan pendaftaran.

Beberapa minggu setelah pesan itu, saya resmi menjadi Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI) Universitas Bakrie periode 2013-2014. BOOM! Saya sendiri benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya anak baru yang semasa SMA tidak pernah ikut organisasi formal apapun tiba-tiba menang pemilu jurusan--meskipun dengan berbagai intrik dan drama di baliknya. Dan inilah milestone yang membentuk saya hingga sekarang. 
Acara Pertama Sebelum Resmi Menjadi Pengurus HMTI
Perjalanan bersama HMTI mengajarkan begitu banyak hal. Meluluhkan dinding tinggi antara saya dan teman-teman adalah satu di antara sekian banyak. Sebagian besar hari saya habiskan bersama mereka. Dari kuliah hingga persiapan program kerja. Dari pagi sampai pagi. Duduk di Student Lounge Luar dari magrib sampai dini hari. Dari mengerjakan tugas kuliah sampai cuma mengobrol tanpa arah dan tertawa sampai lelah. Kemudian kami akan pulang dengan obrolan yang tak ada habisnya di bawah temaram lampu jalanan Epicentrum.

Apa yang saya dapat dari HMTI kemudian membawa saya ingin belajar lebih banyak lagi. Hal serupa pun terulang, beberapa minggu setelah resmi lengser dari kepengurusan, saya dilantik lagi menjadi salah satu anggota komisi Senat Mahasiswa Universitas Bakrie. Siapa sangka anak yang dulunya antipati pada organisasi bisa jadi seperti ini? Haha!
Dalam Proker Kaderisasi
***

Tapi sejujurnya ada sedikit kekecewaan ketika tidak pernah memenangkan satu kompetisi eksternal pun ketika kuliah. Entah kenapa saya tidak seambisius dulu ketika SMA.

Namun, banyak juga yang saya sangat syukuri. Salah satunya adalah kesempatan "to discover myself". Ketika kuliah, saya baru tahu kalau saya sangat suka mengajar. 

Bermula dari menjadi tutor teman teman sekelas menjelang ujian, tutor calon mahasiswa baru kelas karyawan, hingga menjadi asisten praktikum mata kuliah dasar. 

Satu tutorial yang masih sangat diingat sampai sekarang adalah turorial pertama di meeting room Elite Club Epicentrum! Hahaha epic! 

Tutorial Kimia pertama di Elite Club!!!
Kami masih semester 1 kala itu. Dengar-dengar dari senior, mereka biasanya bikin semacam tutorial untuk belajar bersama sebelum ujian. Kami mau melakukan hal yang sama. Cuma karena keterbatasan ruang kampus dan bingung mau belajar di mana, jadilah salah satu teman yang kebetulan adalah member Elite Club meminjam meeting roomnya 2 jam untuk kami belajar! Agak menggelikan memang. Terutama kalau diingat ekspresi mas/mba karyawan Elite Club yang agak bingung tiba-tiba ada rombongan anak-anak dekil yang not belong to there. Dan ya, itu adalah kali pertama saya berdiri sebagai tutor kimia dasar.

Thanks to HMTI yang pada kesempatan-kesempatan setelahnya menyediakan ruang buat tutorial kami jadi tidak usah ke Elite Club lagi haha.
Industrial Expo-Breaking Industrial Limit
***

Di tahun terakhir perkuliahan, saat sudah lepas dengan segala maca urusan organisasi kampus, saya mulai ikut volunteer. Dengan tidak sengaja malah jadi sering mendongeng karena diberi kesempatan oleh Buku Berkaki. Apakah saya bagus dalam mendongeng? Tidak.  Saya cuma senang melakukannya. Dan sebenarnya, ada satu hal yang membuat saya senang mendongeng:
Mendongeng di Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA) Param - Kuningan
Waktu kelas 2 SMP, sekolah saya kedatangan guru Bahasa Indonesia yang mengajar di Australia. Beliau orang Australia. Namanya adalah Pak Neville. Saya tidak tahu persis apa tujuan beliau berada beberapa waktu di sekolah kami. Yang jelas, waktu itu kami akan ikut lomba story telling berbahasa Inggris di kabupaten dan beliau membatu kami mempersiapkannya. Cerita saya waktu itu adalah Tuwung Kuning yang script bahasa inggrisnya punya kakak. Kami berlatih selama 1-2 minggu sampai akhirnya dikabari bahwa lombanya dibatalkan. Sayang sekali. 

Tapi, Pak Neville dengan sangat baik hati meminta kami tetap tampil sehabis upacara bendera. Dan beliau memberikan saya sepaket kamus Indonesia-Inggris. Kamus berharga ratusan ribu yang tidak dipunyai satupun anak di sekolah kami. Rasanya bahagia sekali! 

Hipotesis saya, sih, persiapan lomba story telling inilah yang membuat saya begitu menyukai dongeng. Seperti pembuka jalan, yang baru saya tapaki 8 tahun kemudian.
Membaca cerita di Pojok Cerita Festival Dongeng Indonesia Internasional 2016
Cara mendongeng saya masih amat sangat kacau, tapi saya benar-benar suka mendongeng dan mau belajar lebih banyak lagi! Tahun ini harus ikut workshop dongeng di FDII lah.

***

Setelah 3,5 tahun hiruk pikuk perkuliahan dan ekstra 2 bulan mengerjakan skripsi, saya lulus. Dan, ya, kehidupan setelah lulus ternyata menjadi semakin 'menarik' di bagian 3. 
Wisuda Universitas Bakrie Oktober 2016.



Harapan Indah, 11/06/2017 1:01 PM


P.S.
Laptop saya sempat rusak setelah bagian 2. That's the reason why bagian 3 baru naik sekarang. Thanks to Mas Abba, IT staff BPI yang bantuin bikin lapop saya normal lagi.

P.P.S. Selamat berakhir pekan, selamat berpuasa hari ke-16!

Readmore → Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Bagian 2

Monday, June 5, 2017

Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Bagian 1

Menjejak Jakarta Sendiri untuk Kali Pertama

Jakarta adalah kota yang begitu sering dielu dan keluhkan. Dielukan karena karena 'kemegahannya', dikeluhkan dengan kerasnya perjuangan yang harus ditempuh orang-orang di sini. Berjuang mengatasi segala macam stress. Terkhusus bagi saya, definisi berjuang adalah menjadi tetap waras di tengah kemacetan yang sungguh tidak masuk di akal. Entah bagaimana caranya orang-orang ini tetap menjalani hari dipenuhi kemacetan jalanan setiap hari kerja. Ah, benar benar tak habis pikir. 

Tapi Jakarta tidak melulu soal stress dan kekejaman ibu kota. Sama seperti bagaimana ia membuat jutaan orang rela berjibaku di tengah keruwetan jalan, Jakarta juga entah bagaimana membuat saya jatuh cinta. Meskipun sama sekali tak cinta dengan macetnya.

***
Bandung sedang gerimis sore itu dan saya sedang menunggu taxi pesanan untuk diantarkan ke pool salah satu travel Bandung-Jakarta di daerah Cihampelas. Perasaan saya benar-benar tidak karuan karena taxi yang (sebenarnya baru) dipesan tadi belum juga datang. Khawatir akan ditinggal travel ke Jakarta. 

Kalau dipikir-pikir lagi, waktu itu berani juga ya. Baru beberapa minggu di Bandung dan memutuskan ke Jakarta sendiri naik travel atas 'riset' lewat gugel. Cuma bermodal keyakinan kalau semuanya normal saja. Tidak ada yang harus dipikirkan. (Dan keyakinan semacam inilah yang kemudian tidak jarang membawa saya pergi tanpa arah sendirian :D hahaha).

Kami sampai di Blora lepas waktu Magrib. Saya dijemput sopir dari tempat kerja Pak Boi, paman saya. Anehnya ketika masa-masa awal ke Jakarta, setiap saya akan menumpang tinggal pasti Pak Boi sedang pulang ke Bali. Jadi lah saya selalu hanya dijemput sopir beliau dan diantarkan ke hotel. Sendirian. Cuma di kamar sampai esok pagi turun sarapan dan diantar ke Kuningan untuk ujian masuk Universitas Bakrie. Saya masih ingat sekali bagaimana pak sopir ini begitu baik hati mengantarkan saya sampai lobi kampus. Kalau diingat-ingat sekarang, rasanya lucu, cupu sekali. 2012. 

Sekitar 2 minggu setelah ujian masuk, sebaris kalimat di portal pendaftaran mahasiswa baru menyatakan bahwa saya lulus Jurusan S1 Teknik Industri dengan Beasiswa penuh. Pengumuman kelulusannya kalau tidak salah beberapa hari sebelum Ibu berulang tahun. Beberpa minggu sebelum ujian masuk universitas negeri.

Pengumuman Ujian Masuk UB

Juni 2012, saya pulang ke Bali dengan perasaan yang agak kacau karena sangat tidak yakin bisa lulus di Bandung. Benar saja, I found myself crying a little loud saat pengumuman hasil ujian masuk kampus negeri. Saya tidak lulus yang juga berarti bahwa saya akan kuliah di Jakarta, bukan Bandung. 

Pengumuman Hasil SNMPTN

***
Kali ini saya ke Jakarta untuk daftar ulang dan mencari rumah kost. Sendiri lagi. Dijemput oleh sopir di bandara dan diantarkan ke hotel, sama seperti sebelumnya. I do enjoy that moment of being alone. I really enjoy myself. Seeing things through the windows like a video clip.

Kali ketiga datang ke Jakarta lagi-lagi sendiri tapi bukan lagi dijemput sopir. Saya memilih taxi sendiri yang ternyata dikibulin. Bandara - Menteng Atas sampai 300 ribu! hahaha.

Di Menteng Atas, saya beruntung sekali dipertemukan dengan pemilik kosan yang perhatian sekali plus penjaga kost yang super baik hati. Opung dan Mba Eci. Empat tahun lebih di Menteng Atas, beberapa kali berniat pindah tapi tidak pernah benar-benar pindah sampai akhirnya saya bekerja di Bekasi. Di kost Opung ini juga saya bertemu dengan teman teman baik hati: Tami dan Yaya. Geng kosan favorit dan satu satunya.


2012, Ulang Tahun Yaya
2017
Menteng Atas amat sangat remarkable. Oh ya, sebenarnya yang membuat saya betah dan cinta Jakarta bukannya benci seperti orang kebanyakan adalah karena definisi Jakarta saya adalah Menteng Atas, Kuningan, dan sekitarnya. Naif sekali. Hidup di Menteng Atas adalah kenyamanan yang langka. Bayangkan saja, kami anak kosan sekitar Mentas hanya perlu jalan kaki ke Epicentrum, Ambasador, atau bahkan Kota Kasablanka (saya sih suka jalan kaki ke sini lewat kuburan karena memang suka jalan kaki). Ibaratnya semuanya begitu mudah dijangkau dari Mentas. Mal, GOR, taman, bioskop. Ke bagian Jakarta yang lain juga tak jauh-jauh amat. Kalau saya punya banyak uang, saya mau punya rumah di Menteng Atas saja lah. Hahaha.

(bersambung ke Bagian 2, besok!)


Harapan Indah, 05/06/2017 20:07


Readmore → Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Bagian 1

Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Intro

Tulisan ini bersifat personal, flashback, cerita tentang perjalanan yang membawa saya mengetik dari sebuah ruang tak luas di sudut Harapan Indah, Bekasi saat ini.

Dimulai dari pagi yang normal di ruang TV rumah. Pagi-pagi biasanya TV sudah dinyalakan ibu untuk membangunkan kami. Sering kali ketika bangun, ibu sudah berangkat. Saya biasanya akan memulai hari dengan duduk di depan TV yang sedari tadi mengoceh sendiri. Sembarang menonton tapi tak benar-benar memperhatikan. 

Hari itu tanpa sengaja sebuah iklan dengan durasi kurang dari 30 detik diputar. Hanya tulisan statis di layar ANTV. Iklan yang 3 tahun kemudian membawa saya kuliah di Jakarta.

Iklan itu lebih mirip pengumuman. Pengumuman tentang beasiswa Sarjana (S-1) penuh dari sebuah kampus swasta di Jakarta. Kampus yang menyandang nama salah satu keluarga kaya raya Indonesia.

***
Dan sampailah saya pada masa kelas 3 SMA. Masa ketika kami semua galau menentukan akan masuk kampus mana. Ketar-ketir kalau kalau tidak diterima di kampus yang diinginkan. 

Begitu pula saya. 

Saya masih ingat dengan iklan yang dilihat cuma sekali 3 tahun lalu. Berkat bantuan google, saya sampai pada laman universitas tersebut. Kemudian menjadikannya sebagai Rencana B. 

Ternyata saya lulus ujian masuk dengan beasiswa penuh di Jurusan Teknik Industri. Jurusan yang sama dengan Rencana A. 

Ternyata, saya tidak lulus Rencana A. 

*** 
4 Tahun kemudian saya lulus sebagai Sarjana Teknik, dihadiahi gelar Lulusan Terbaik Jurusan Teknik Industri dan predikat Cumlaude.

Dan, ya, sebulan sebelum diwisuda, saya baru saja mulai bekerja di salah satu perusahaan milik keluarga dengan nama yang sama dengan kampus saya. Keluarga yang mendirikan yayasan yang menguliahkan saya gratis: Kelompok Bakrie.

***
Bulan ini adalah bulan kesepuluh saya sebagai Management Trainee di perusahaan tersebut. Sebenarnya ada banyaaaak sekali yang ingin dibagi, saking banyaknya sampai bingung harus mulai dari mana. 

Maka, anggaplah ini sebagai intro. 

Beberapa post ke depan adalah cerita-cerita saya di Universitas Bakrie dan Bakrie Pipe Industries. 

Oh ya, biasanya yang muncul pertama di benak orang ketika tahu saya berasal dari kampus yang namanya sama dengan perusahaan saya bekerja adalah "langsung disalurkan ke perusahaan ya?". Langsung saja saya jawab di sini, jawabannya: tidak. Saya memulai semua prosesnya dari awal seperti pencari kerja lain. Nanti saya ceritakan lebih lanjut yaaa..

***
I'm overwhelmed tapi harus tidur karena besok pagi harus menempuh rute yang berat: Bekasi-Jakarta hahaha.  


Harapan Indah, 05/06/2017 0:47
Readmore → Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Intro

Wednesday, May 24, 2017

May for Movies


Belakangan, film yang ditonton Wika lebih variatif. Dari film Jepang, musical, thriller, drama juga. Nah, here is the recap of some remarkable movies I watched till last week.

BECK (2010)
Ceritanya tentang Koyuki, anak SMA, hidup membosankan, sering dirisak di sekolah. Hidupnya berubah setelah secara tidak sengaja bertemu dengan Beck dan pemiliknya yang adalah gitaris hebat. Koyuki belajar main gitar, mereka mulai bikin band yang jadi berlima. Kalau dipikir-pikir sekarang, sebenarnya ceritanya simpel, tentang mereka bikin band dari 0 sampai bisa tampil di festival musik rock terbesar di Jepang. Banyak intrik internal dan dramanya. Tapi kemarin waktu nonton rasanya seru gitu. Ya, emang film-film Jepang aneh tapi menarik. Banyak detail-detail remeh tapi malah jadi sentuhan yang bikin 2.5 jam tidak terasa lama. Ah, i found the right words: filmnya mainin perasaan banget.

Lesson learned: industri musik mainstream banyak modal ternyata sejahat itu sama anak baru idealis.

CONFESSION (2010)
Ini film menarik banget. Twistnya gila. Plotnya dibuat dalam potongan-potongan sudut pandang masing masing karakter. Ketika pindah dari sudut pandang satu ke yang lain akan ada semacam pekikan "Ih, gila! Ini film apaan sih". Inti ceritanya itu cuma satu, tentang Shuya Watanabe, anak yang ditinggal mamanya dan berusaha buat mendapatkan perhatian dan membuktikan dia bisa jadi anak pintar yang mamanya mau. Jadilah dia mulai bikin eksperimen-eksperimen 'jahat' dengan tujuan bisa diliput media dan mamanya sadar dia ada. Percobaannya sampai makan korban nyawa anak guru di sekolah. Nah, ini bikin cerita jadi kemana-mana. Di film ini ada sudut pandang si Shuya, Naoki, guru sekolahnya, mamanya Naoki, dan teman sekolah yang suka sama Shuya. Some lives taken worthlessly in this movie. Sedih banget. Walaupun banyak sedihnya, ada satu scene giliran Naoki yang sangat lucu. Ketika Naoki bercerita kalau sebenarnya dia cuma mau berteman dengan Shuya dan mau membuktikan kalau dia teman yang bisa diandalkan. Dia sampai jadi tidak waras setelah tahu kalau gurunya (yang anaknya mereka bunuh) memasukkan darah mengandung virus HIV ke kotak susunya dan Shuya. Ketidakwarasannya ketika dilihat dari sudut pandang orang lain itu menyedihkan, tapi ketika dilihat dari sudut pandang dia malah bikin ketawa paraaaah, but it ended sadly. Harus nonton sendiri lah ini.

Lesson learned: 1. be aware of someone's childhood scars. 2. When you see things from many other perspectives, things could be very different.

HANGOVER (2009, 2011)
Komedi, konyol banget, ketawa sampai sakit perut. Kedua seri ini cerita soal pesta bujang gone wrong. Kegilaanya sih hampir semuanya gara-gara Alan. He's innocently-annoying-but-absolutely-bikin-ngakak. Kelakuan mereka di Vegas (1) dan Thailand (2) benar-benar hiburan yang super menggelikan. Oh ya, banyak explicit content.

Lesson learned: gak usah ajak teman kayak Alan kalau gak mau pesta bujangnya gone wild.

THE INTERN (2015)
Tentang program magang senior yang ditujukan untuk para lansia di perusahaan startup online. Tentang si Jules yang mulai kewalahan mengurus startup dan keluarganya. Lewat Ben, dia akhirnya belajar banyak hal. Ben tipikal orang tua yang baik banget! Dia bahkan bisa dekat sama anaknya Jules. Ah, such a very warm movie. Bagian favorit waktu Jules bantu Ben bikin Facebook, dari sana Jules yang awalnya tidak pernah menyempatkan waktu mengenal Ben akhirnya bisa tahu lebih banyak soal Ben. Menurut saya sih, bagian ini briliant banget. Effortlessly beautiful scene.

PARFUME: STORY OF MURDER (2006)
"...a 2006 German period psychological crime thriller film", quoted from Wikipedia. Saya sih gak mau kalau disuruh nonton sendiri, sama takutnya seperti nonton Criminal Minds sendirian. Ini tentang Grenouille yang punya penciuman yang sangat tajam. Dia bahkan bisa mendeskripsikan apa yang ada di dalam sungai yang jaraknya belasan meter dari tempatnya berbaring. Dia belajar dari seorang ahli parfum untuk bisa mengekstrak bau dan mempertahankannya. Dan akhirnya terobsesi untuk mengekstrak bau manusia ke dalam racikan parfum yang terdiri dari belasan elemen. Paling sedih ketika dia membunuh gadis terakhir untuk elemen parfumnya, padahal gadis itu sudah dijagain mati-matian sama papanya (Alan Rickman). 

Pada akhirnya parfum rampung dan bikin sekota telanjang. Gila. Creepy banget. Endingnya juga creepy. Saya masih gak habis pikir gimana bisa si penulis novel bisa-bisanya bikin cerita ini. Grenouille sama sekali tidak punya sense of guilty while killing. Tujuan dia cuma mau bikin parfum bau surga, setelah itu udah. Dia gak pakai parfum itu untuk tujuan apapun. Malah disiram ke tubuhnya sampai dia hilang ditelan kerumunan orang yang melihat dia seperti malaikat.

Lesson learned: (ummm, can't think about it. Saya memekik ngeri sepanjang film.)

NOWHERE BOY (2009)
Film biografi John Lennon semasa muda. Drama pertama yang bikin kami nagis deras di bagian-bagian akhir. Lennon disayang banget sama Mimi dan ternyata ibu kandungnya tinggal beberapa gak jauh dari rumahnya. Ibu kandungnya ngenalin Lennon sama alat musik, dia juga belajar main semacam alat musik petik mirip gitar tapi entah namanya apa dan akhirnya belajar gitar juga. Dibeliin gitar sama Mimi tapi belakangan Mimi kesal dan gitarnya dijual. Gitar dibeli lagi dari uang minta sama ibu kandungnya. Jealous sama Paul karena main gitar lebih jago pakai pick juga. Dan yang bikin filmnya seru juga banyak performance mereka nyanyi dan ngeband, asik banget.

Lesson learned: orang-orang hebat/terkenal rata-rata emang satu circle dari dulunya (atau at least circle mereka bersinggungan/beririsan).

LEON: THE PROFESSIONAL (1994)
Bermula dari Alt-J. Beberapa waktu kemarin saya keranjingan Alt-J sampai download semua albumnya termasuk yang lama-lama dan unpublished. Leon adalah salah satu lagu yang gak dipublish di album komersial mereka, tapi saya suka sekali dan kepo mau lihat live performance untuk lagu itu lewat youtube. Dan yang muncul adalah potongan film Leon. Dari situ saya baru tahu kalo Leon dan Mathilda adalah dua lagu dengan base satu film lawas. Ah, makin makin lah amazed sama Alt-J.

Film ini sendiri mirip banget sama Logan (2017). Bedanya, Leon dan Mathilda bukan x-men. Mereka tetanggan. Leon professional killer or "cleaner", Mathilda anak perempuan 13 tahun yang papanya bisnis dope dan satu ketika bermasalah sama agen DEA yang jahat. 

Leon akhirnya ngejagain Mathilda sampai akhirnya cuma Mathilda yang selamat. Bagian paling diinget adalah waktu Leon udah mau mati, dia ngasih ring granat ke tangan si agen DEA dan bilang "this is from Mathilda" which is lirik lagu Mathilda yang dibikin Alt-J. Ya, now I know. Ohya, Mathilda juga bilang "I love you, Leon" beberapa kali dan jadi lirik lagu Leon juga.

After-movie thought: Leon tahun 1994, sepertinya ada beberapa film yang mirip sama film ini. Baik plot maupun karakternya. Cerita Leon-Mathilda mirip Logan, karakter villain-nya mirip Valentine di Kingsman tanpa kegilaan teknologi dan motifnya jg agak beda sih.


Menurut kamu, Wika harus nonton apa lagi? :)

P.S. thank you to the person who handpicked these movies and spent much time to watch it with me. Wika demands more movies :p


Harapan Indah, 25/05/2017 1:09 pm.

Readmore → May for Movies