Wednesday, May 9, 2018

Memulai Mei dengan Impulsif

Belakangan masih gini-gini aja. Kayak biasa, banyakan tidurnya daripada ngapa-ngapainnya. Bangun-mandi-kerja-pulang-makan-tidur. Sebulan gak baca apa apa. Tetep beli buku-buku baru tapi cuma ditumpuk. Bosen sebosennya bosen. 

Dan kalau bosen, gue jadi impulsif. Banyak hal yang tiba-tiba gue coba hanya dengan sedikit pemicu.

DETOX
Misal, udah lamaaaaa banget pengen coba detox pake jus. Pernah hampir go-food salah satu merk yang hype buat itu. Tapi gak pernah jadi sampai akhirnya kemarin.


Kemarin bikinnya bener-bener ngikutin si merk yg hype itu. Takaran bahannya nyocok-nyocokin sama yang didapet dari googling (ada di sini). Ada 7 jenis jus yang mesti gue bikin hahahaha! Sejujurnya ini melelahkan sih. Bahannya emang bolak-balik itu lagi, tapi takarannya beda-beda. Habis 2 jam sendiri dari nyiapin bahan sampai jusnya masuk botol. Lain kali kalau mau detox lagi mending bikin 2 jenis aja, dibikin buat 8 botol. 




Oh ya, seniat itu juga sampai beli botol lewat Tokopedia jam 1 siang, dan malemnya jam 9 botolnya nyampe; dianter sama Gojek. Enak banget sih sekarang apa-apa gampang, gak usah ke mana-mana cuma lewat jari. 


Menurut gue sih jusnya enak. Terutama yang warna kuning dan yang pake jahe. Tapi kata Rudi, yang ijo gak enak; baunya kayak bau kulkas awal bulan. 

NGECAT  RAMBUT
Hal impulsif berikutnya yang gue lakuin adalah: ngecat rambut.

Tiba-tiba aja ngerasa kayak, "Duh ngapain ya, bosen, apa lah ya yang bisa bikin beda?"

Dan akhirnya browsing lagi, pulang kerja langsung ke salon. Dan yaudah, sekarang rambut gue diombre ungu dan gue suka. HAHAHA.

Ada hal-hal yang mesti dipikirin sebelum warnain rambut:
1. Bleaching
Buat bikin warnanya keluar, gak bisa langsung rambut ditimpa cat. Rambut mesti di-bleaching dulu 1-3 kali. Gue kemarin cuma dua kali sih. Abis di-bleaching, rambut bakal jadi kasar dan kering gitu. Fragile banget. Huhu jadi sedih. 

Setelah Bleaching Pertama

Setelah Bleaching Kedua
2. Lama
Gue gatau kalau ngewarnain rambut bisa makan waktu selama itu. Dateng sekitar jam 6, pulang jam setengah 10. Ngantuk banget dan bosen. Jadi mending kalo mau warnain rambut ya pas libur dan ada bahan baca atau apalah biar ga bosen.

3. Warna
Sebaiknya ngobrol sama orang salonnya. Karena buat warna-warna cantik nan lucu itu susah. Gue sih kemarin awalnya pengen dapet warna yang agak abu-ungu gitu. Tapi dari awal masnya bilang gak sanggup. Karena guenya yang ngebet banget yang penting diwarnain, yaudah gue iyain apa yang mereka bisa hehehe. Ternyata hasilnya oke juga.

Setelah diwarnain

Under The Morning Sunlight
Sekian. Tulisan ajakadut gue malam ini. Sebenernya ini kayak diary sih, curhat gitu abis ngapain hahha. Makasih ya, udah baca. Selamat istirahat semuanyaaa..

Bekasi,
8 Mei 2018 09.42 pm
Readmore → Memulai Mei dengan Impulsif

Tuesday, February 27, 2018

Cerita Kami di Pinggir Rel Kereta

Aku dan kamu sama sama tinggal di Jakarta. Tapi pernahkah kamu membayangkan rasanya tinggal di sebelah rel kereta? Bising lokomotif tiap waktu, riuh kendaraan yang mengantri di palang pintu lengkap dengan lengking bunyi bel peringatannya, dan tentu saja klakson kereta yang sangat memekakan telinga. Kami hidup persis di pinggir rel itu.

Rumahku begitu essential. Ku buka pintu dan langsung berhadapan dengan jalanan. Jalan ini hanya muat untuk satu mobil ukuran sedang. Pagar hijau membatasi jalan dengan rel kereta; pemandanganku setiap hari. Lupakan halaman rumah atau taman, aku punya sepanjang jalan untuk main bola dan berlarian.
---
Kau masih cukup beruntung di sana. Rumahmu masih bisa dijangkau matahari. Mari main ke tempatku. Aku juga tinggal di pinggir rel kereta. Pagar yang membatasiku dan rel bukan besi-besi yang dicat hijau. Namun beton-beton precast yang disusun beberapa lapis. Salah satu dinding rumahku, ya, beton itu. Jadi tiap kali kereta melintas, rumahku pun akan bergetar. Depan rumahku adalah gang sempit, hanya muat untuk satu motor. Siang tak pernah terang di sini. Remang. Bayangkan jika hujan.
 ---
Bersyukurlah kalian yang masih punya jalan di depan rumah. Jalan satu satunya untuk ke rumahku adalah dengan menyebrangi rel Jakarta Kota - Kampung Bandan. Kami semua harus pandai menghafal jam-jam kereta lewat, di rel sebelah kiri atau kanan. Kemana-mana kami harus lewat lubang di tembok beton precast dekat stasiun.

---
Bagaimana dengan rumahmu? Aku dengar kau punya halaman belakang untuk main sepeda dan tempat kakakmu menanam bunga. Katanya juga dekat rumahmu ada lapangan bola. Apa benar jalan ke rumahmu dijaga satpam? Ah sungguh tidak asik, anak-anak pasti tidak boleh berisik.

Main-mainlah ke tempat kami. Di sini seru juga. Mungkin kita bisa main bola atau layangan di petak bekas rumah yang kemarin terbakar.




Readmore → Cerita Kami di Pinggir Rel Kereta

Tuesday, February 6, 2018

Menjelang Sore

Tenggorokannya tercekat. Sesuatu seakan mau meleleh dari sudut matanya. Apa ini? Sedih kah? Entahlah. Hari ini semuanya buyar. Dunia yang selama dua puluh tahun lebih ia kenal ternyata tidak pernah seperti yang ia pikir selama ini.

Ia sadar soal paradoks, namun tidak pernah terbayang bahwa segalanya begitu paradoks. Bahkan orang-orang yang ia percaya, bahkan dirinya sendiri.

Dan ya, ia mulai meragukan hidup. Ketika integritas adalah kelangkaan. Ketika melakukan hal baik malah diteriaki bodoh dan sok idealis.

Manusia itu aneh, pikirnya. Mereka selalu mencecar anak-anak dengan kata-kata agar mereka selalu berbuat baik dan jujur. Namun ketika mereka tumbuh menjadi anak yang jujur, malah diteriaki bodoh dan diajarkan menyeleweng. Apa maunya mereka?

Apakah sebenarnya hidup di dunia ini bukan soal menjadi baik dan jujur seperti yang mereka bilang sejak kita kanak-kanak? Apakah kata-kata mereka sebenarnya hanya ucapan tanpa makna namun kita menganggapnya terlalu serius?

Apakah sebenarnya hidup itu seperti bermain video games dan memakai cheat codes adalah kebutuhan si pemain? Tunggu...kebutuhan atau candu?

Tapi jika iya hidup seperti video games, bukan kah akan lebih bangga jika kita bisa menang tanpa kecurangan? Atau...tanpa kecurangan kita tak akan pernah menang?

Tapi, apakah hidup soal menang atau kalah?

Entahlah.

Ia mulai menghela napas, memelankan ketukan jari-jarinya pada tombol di papan ketik yang mulai mengusik rekan sebelah. Meletakkan kaca matanya sembarangan, menyender pada kursi.

Ke mana ia akan pulang hari ini?
Readmore → Menjelang Sore

Friday, February 2, 2018

Suatu Sore

Hari-harinya terasa begitu sepi belakangan. Entah kapan terakhir kali ia menerima telefon yang menanyakan kabar. Kalau ada yang menelfon, pasti urusan pekerjaan atau telemarketing asuransi. Ia baru sadar sudah lama tak mendengar omelan kalau ia terlambat makan atau mandi, atau ketika ia menghabiskan hari-hari di kamar saja. Ia rindu. 

Terduduk di teras kamar, tak acuh pandangannya pada anak-anak kompleks yang sedang bertanding futsal di lapangan kesayangan mereka. Riuh sorakan ketika gol memaksanya untuk sedikit menaruh perhatian untuk beberapa saat.

Kemudian ia kembali lagi pada lamunannya. Sudah berapa lama ia sesepi ini? Ia mulai menyangsingkan keberadaan kehidupan sosialnya. Adakah? Bukan salah siapa-siapa, karena memang dialah yang tak berusaha membuat lingkaran baru.

Jika ia hilang hari ini, akankah ada yang sadar bahwa sesuatu terjadi padanya di hari yang sama?

Readmore → Suatu Sore

Tuesday, January 23, 2018

Suatu Pagi

Pukul 8.30 pagi. Dia sedang menuang bumbu pop mie ke dalam wadah sambil menerawang kosong ke jendela yang mengarah selasar gedung tengah. Tak ada yang lewat, tapi ia memang tidak mengharapkan siapapun. Pikirannya melayang di sela riuh obrolan bapak-bapak ruang sebelah. Sekelebat pikirannya berkelana ke sore hari kemarin, saat akhirnya dia bicara pada bos. Ia terbayang soal apa yang mungkin ada di pikiran si bos. Perempuan berbadan kecil dari pulau yang indah tiba-tiba mendamparkan diri di kota kecil yang sesak dengan pabrik dan polusi. Apa maunya? Dan pertanyaan itu segera berubah menjadi pertanyaannya sendiri.

Masih menerawang menembus jendela transparan yang berseberangan langsung dengan ruangan seorang manager dengan jendelanya selalu bertutup rapat oleh tirai. Pikiran lain menghampirinya. Seolah tiba-tiba ia paham mengapa dirinya di tempat ini. Benarkah?

Belum sempat ia menjustifikasi alasan-alasan soal kenapa ia di sini, si bos masuk ke ruangan. Beliau bicara soal pekerjaan, meminta penjabaran rencana produksi setahun ke depan untuk disiapkan karena ini adalah awal tahun. Tangan si bos masih memegang gagang pintu yang setengah menutup ketika ia keluar, tapi ia tahan dan kembali masuk. Kali ini beliau bicara hal lain, soal obrolan mereka kemarin. Ternyata si bos cukup cepat menangkap maksud 'kekosongan' yang ia utarakan. Namun, ditolak mentah-mentah oleh atasan langsung anak ini. "Pekerjaan dia sudah banyak, jangan semua pekerjaan dibebankan ke dia."

Ia geming di kursinya, menatap kedua atasan beradu alasan, tersenyum masam.

Ya, pada akhirnya pekerjaan tambahan tidak jadi dibebankan. 

Bekasi, 23.01.2018 10.38
Readmore → Suatu Pagi

Friday, January 12, 2018

Self Note 2018: Definisi Ulang

Ada banyak hal di dunia yang definisinya sudah baku. Terpaku. Semua orang merujuk pada satu definisi tersebut. Benar, salah. Baik, buruk. Cantik, tidak cantik. Pintar, bodoh. Di satu sisi definisi baku menjadi penting karena alangkah repotnya kita kalau semua hal dianggap relatif dan kita tidak bisa berpegang pada satu dasar solid atas pemahaman bersama.

Tapi untuk beberapa hal, apakah definisi itu harus dipaksa sama?

Hingga kuliah, definisi anak baik versi saya adalah mereka yang selalu mengerjakan tugas, ulangan dengan nilai yang bagus, memperhatikan guru, tidak bermain-main sepanjang pelajaran. Menjadi yang terbaik atau yang paling pintar di kelas adalah tujuan utamanya. Kalau ada yang menyimpang, tidak mau tahu, berarti anak itu bukan anak baik. Tidak serius. Titik.

Pintar itu apa sih? Apakah pintar hanya berarti nilaimu paling tinggi sekelas? Apa pentingnya dapat nilai paling tinggi kalau ternyata kamu tidak menyukai materi tersebut atau bahkan kamu tidak pernah paham dengan gunanya buat dirimu? Kalau kamu ternyata cuma bisa membual di kertas jawaban ujian tapi pada kenyataannya menggerakkan diri untuk berlaku seideal itu adalah ujian yang sebenarnya. Kenapa kemarin hanya terpaku dengan sekolah dan hal-hal yang didefinisikan sebagai hal-hal baik versi orang-orang?  

Rephrase. Redefine. Dua hal mendasar yang dilupakan. Setelah bernapas hampir 24 tahun, hari ini saya mendefinisikan kembali pintar sebagai mampu mengenali diri dan melakukan hal-hal yang kita butuhkan dengan baik. Semisal ketika mengenali diri yang inginnya jadi peneliti, makan lahaplah semua buku-buku sains di perpustakaan sekolah, mulailah dari pelajaran pelajaran sains di sekolah. Tapi ketika menurutmu kau hanya butuh hal-hal umum dari sains, buat apa buang-buang tenaga untuk dapat nilai 100 di ulangan Fisika? Celakanya, kau tak pernah benar-benar tahu apa yang kau inginkan. Seperti aku yang hanya ikut arus kompetisi, tidak mau malu mendapatkan nilai hanya sebatas lulus. Sampai-sampai menghabiskan banyak jam demi belajar Fisika dan pada akhirnya melupakan hal-hal yang aku sukai. Atau lebih miris lagi, sampai bahkan kau tidak punya waktu mencari tahu apa yang kau suka (?). 


Bekasi 12.01.2017 11.11
Readmore → Self Note 2018: Definisi Ulang

Friday, January 5, 2018

Hi!

In the mood of Lauv, Jaymes Young, and Oh Wonder.

"I could be somewhere chillin' on the beach
I could be with someone makin' me happy
But that would be too easy, love
And I don't want no easy love"

Kalau kamu sedang merasa agak kacau dan tidak jelas mau apa.
Kalau badanmu sedang agak 'aktif' tapi juga kamu pemalas.
Menurutku mendengarkan playlist yang isinya ketiga nama di atas akan menyenangkan.
Readmore → Hi!

Sunday, December 31, 2017

2017: Yang Selesai dan yang Tidak Selesai

2017 habis beberapa jam lagi. Apa saja yang sudah diselesaikan?

1. Sudah pindah ke Bekasi.
2017 awal, musim hujan.
Hampir setiap pagi hujan deras yang berarti berangkat kerja kehujanan. Cuma bertahan sampai bulan kedua. Akhirnya memutuskan pindah ke Bekasi di bulan ketiga. Kosannya lebih sempit dari Mentas, but that was the best I can find around. Sampai penghujung 2017, saya masih tinggal di Bekasi.

2. Sudah nonton The XX
Juli, ke Sg cuma untuk datang ke konser ini. Datang siang, makan, berkeliling, makan lagi, diantar ke Singapore Indoor Stadium, dijemput ke apartemen, bangun, sarapan, dijemput uber ke bandara, pulang. Konsernya biasa saja, mungkin karena harapan saya yang ketinggian hehehe. Tapi I do enjoy Singapore and I do wanna come back! Sehari semalam rasanya terlalu singkat. Ingin sekali lagi berlama lama di Clark Quay atau sekali lagi berkeliling dengan River Cruise sambil lebih teliti lagi mengamati tempat-tempat yang dilewati. Special thanks to Bu Jess and Bu Gery for making my super short trip very enjoyable and remarkable.
The xx Live in Singapore

With bu Jess and Bu Gery
3. Sudah nonton ERK maraton 4 jam (+ 3 kali show in a row).
Juli. Sepulang nonton The XX, diajak nonton ini. Tiket yang cuma 50 ribu dibalas dengan pertunjukan 4 jam hingga tengah malam. Di awal pertunjukan sih cuma tahu beberapa lagu, setelahnya malah jadi candu. Bahkan sampai mendengar Indie Art Wedding. Beberapa minggu kemudian, mereka main di Bekasi. Sekali lagi saya sambangi. Semakin menjadi-jadi. September, lagi-lagi saya menonton mereka di Bali. Ah, indahnya kalau kecintaan bertemu kesempatan.
Tiket Tiba-Tiba Suddenly Konser

4. Sudah lulus MT (+ setahun kerja pabrik).
Agustus. Tepat setahun saya di pabrik. Setelah presentasi dan dinyatakan lulus, akhirnya tunjangan cair juga hahaha. Resmi dilabeli posisi baru. Tidak banyak yang dicapai. Saya belum perform dengan memuaskan. Soal pekerjaan, semuanya masih ide ide dengan implementasi yang...susah ya ternyata.
Mungkin ini yang dikatakan orang-orang kalau bekerja itu bukan soal teori, tapi bagaimana meyakinkan orang-orang terkait untuk bisa bekerja sama.

BFLDP Presentation Skill Training di Bakrie Tower
Setelah Presentasi Final di Pabrik
5. Sudah Punya Gitar
Sudah punya dan sesekali belajar, tapi tetap belum bisa apa apa. Main beberapa lagu tapi semuanya sepotong dan tidak lancar hahahha.

Ala ala Main Gitar 

6. Sudah nonton Soundrenaline
September. Konser musik paling seru yang pernah saya datangi! Venue yang luar biasa cantik. Baru sadar setelah beberapa kali datang ke pertunjukan musik dan venue-nya yang yaaa begitu saja. Soundrenaline punya panggung-panggung indah berlatar langit biru dan tebing-tebing kapur indah. Sekarang saya tahu kenapa orang-orang tegila-gila pada pulau Dewata.

A Stage Soundrenaline 2017
7. Mendongeng lagi di FDII 2017
November. Yayyyyy! Dan tahun ini panggungnya sungguhan! Penontonnya ramai sampai demam panggung rasanya. Semoga tahun depan saya bisa mendongeng lebih baik lagi (bukan sekadar membacakan cerita) dan dibolehkan ikut FDII 2018 hehehe.



8. Jadi Pengurus Komunitas
Desember. Setelah 2 tahun jadi volunteer yang tidak pernah cukup berani untuk berkomitmen, saya akhirnya mengiyakan ajakan menjadi pengurus. Ditugasi memegang akun media sosial juga sebenarnya hal yang sangat baru buat saya. Ya, kemarin-kemarin kan cuma pernah jadi dedek-dedek pelengkap buzzing event aja. Itupun cuma 2-3 kali. Buat saya sih ini milestone yang sangat harus diperhitungkan. Hahaha, mengingat Dwika belakangan punya kesulitan serius akan komitmen.

Sebagian Pengurus Buku Berkaki Saat Rapat Akhir Tahun
9. Sudah Baca 13 Buku.
Yang di foto memang 12, ada satu buku pinjaman yang sudah dikembalikan jadi tidak sempat difoto. Targetnya sih 24. Dua puluh empat. Yang terealisasi hanya tiga belas. Duh, malu. Mohon jangan mencontoh ketidakproduktifan ini ya teman-teman.
Bacaan favorit saya tahun ini yang sekaligus bacaan penutup 2017: Laut Bercerita. Seperti biasa, novel Leila S Chudori sukses mebuat pekikan girang tengah malam pada adegan-adegan manis Anjani dan Biru Laut. Dan setelah itu membuat saya terisak menangis sedih membayangkan apa rasanya menjadi Anjani, Asmara Jati, atau ibu dan bapak Mas Laut. Pasti hancur sekali kehilangan seseorang tanpa pernah tahu nasibnya. Membayangkan selalu kembali pada kepompong penyangkalan bahwa Biru Laut hilang selamanya. Dihilangkan secara paksa. Oh ya, novel ini juga bikin pingin sekali rasanya ke Solo dan menyicip tengkleng. 2018 mau ke Solo? Sepertinya begitu.

Tumpukan yang Terselesaikan
Apa yang belum?
1. Belum IELTS
2. Belum implementasi program yang berdampak signifikan di kerjaan
3. Belum jalan-jalan jauh.
4. Belum Level 5 Google Local Guide (iyalah, orang baru daftar kemarin)
5. Belum nonton Alt-J/Tame Impala padahal mereka manggung di Bali semua tahun ini. Sedih gak?
6. Belum punya pacar

Sudah baca ringkasan 2016? Umm.. 2016 kelihatan lebih menarik ya. Eh, siapa tahu nanti 2018 saya lebih seru. Jadi 2017 ini semacam fase penenangan gitu sebelum combat phase of 2018 (?).

2017 kamu, gimana?


Readmore → 2017: Yang Selesai dan yang Tidak Selesai