Sunday, June 11, 2017

Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Bagian 2

To Discover My Self

Kamis pagi di kamar bawah tangga salah satu rumah di Jl. Menteng Atas Selatan III saya bangun agak siang. Terbangun karena bunyi denting notifikasi pesan masuk dari seorang teman. Pesannya tidak panjang tapi ampuh membuyarkan kantuk dan memaksa saya menyiapkan segala macam persyaratan pendaftaran.

Beberapa minggu setelah pesan itu, saya resmi menjadi Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI) Universitas Bakrie periode 2013-2014. BOOM! Saya sendiri benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya anak baru yang semasa SMA tidak pernah ikut organisasi formal apapun tiba-tiba menang pemilu jurusan--meskipun dengan berbagai intrik dan drama di baliknya. Dan inilah milestone yang membentuk saya hingga sekarang. 
Acara Pertama Sebelum Resmi Menjadi Pengurus HMTI
Perjalanan bersama HMTI mengajarkan begitu banyak hal. Meluluhkan dinding tinggi antara saya dan teman-teman adalah satu di antara sekian banyak. Sebagian besar hari saya habiskan bersama mereka. Dari kuliah hingga persiapan program kerja. Dari pagi sampai pagi. Duduk di Student Lounge Luar dari magrib sampai dini hari. Dari mengerjakan tugas kuliah sampai cuma mengobrol tanpa arah dan tertawa sampai lelah. Kemudian kami akan pulang dengan obrolan yang tak ada habisnya di bawah temaram lampu jalanan Epicentrum.

Apa yang saya dapat dari HMTI kemudian membawa saya ingin belajar lebih banyak lagi. Hal serupa pun terulang, beberapa minggu setelah resmi lengser dari kepengurusan, saya dilantik lagi menjadi salah satu anggota komisi Senat Mahasiswa Universitas Bakrie. Siapa sangka anak yang dulunya antipati pada organisasi bisa jadi seperti ini? Haha!
Dalam Proker Kaderisasi
***

Tapi sejujurnya ada sedikit kekecewaan ketika tidak pernah memenangkan satu kompetisi eksternal pun ketika kuliah. Entah kenapa saya tidak seambisius dulu ketika SMA.

Namun, banyak juga yang saya sangat syukuri. Salah satunya adalah kesempatan "to discover myself". Ketika kuliah, saya baru tahu kalau saya sangat suka mengajar. 

Bermula dari menjadi tutor teman teman sekelas menjelang ujian, tutor calon mahasiswa baru kelas karyawan, hingga menjadi asisten praktikum mata kuliah dasar. 

Satu tutorial yang masih sangat diingat sampai sekarang adalah turorial pertama di meeting room Elite Club Epicentrum! Hahaha epic! 

Tutorial Kimia pertama di Elite Club!!!
Kami masih semester 1 kala itu. Dengar-dengar dari senior, mereka biasanya bikin semacam tutorial untuk belajar bersama sebelum ujian. Kami mau melakukan hal yang sama. Cuma karena keterbatasan ruang kampus dan bingung mau belajar di mana, jadilah salah satu teman yang kebetulan adalah member Elite Club meminjam meeting roomnya 2 jam untuk kami belajar! Agak menggelikan memang. Terutama kalau diingat ekspresi mas/mba karyawan Elite Club yang agak bingung tiba-tiba ada rombongan anak-anak dekil yang not belong to there. Dan ya, itu adalah kali pertama saya berdiri sebagai tutor kimia dasar.

Thanks to HMTI yang pada kesempatan-kesempatan setelahnya menyediakan ruang buat tutorial kami jadi tidak usah ke Elite Club lagi haha.
Industrial Expo-Breaking Industrial Limit
***

Di tahun terakhir perkuliahan, saat sudah lepas dengan segala maca urusan organisasi kampus, saya mulai ikut volunteer. Dengan tidak sengaja malah jadi sering mendongeng karena diberi kesempatan oleh Buku Berkaki. Apakah saya bagus dalam mendongeng? Tidak.  Saya cuma senang melakukannya. Dan sebenarnya, ada satu hal yang membuat saya senang mendongeng:
Mendongeng di Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA) Param - Kuningan
Waktu kelas 2 SMP, sekolah saya kedatangan guru Bahasa Indonesia yang mengajar di Australia. Beliau orang Australia. Namanya adalah Pak Neville. Saya tidak tahu persis apa tujuan beliau berada beberapa waktu di sekolah kami. Yang jelas, waktu itu kami akan ikut lomba story telling berbahasa Inggris di kabupaten dan beliau membatu kami mempersiapkannya. Cerita saya waktu itu adalah Tuwung Kuning yang script bahasa inggrisnya punya kakak. Kami berlatih selama 1-2 minggu sampai akhirnya dikabari bahwa lombanya dibatalkan. Sayang sekali. 

Tapi, Pak Neville dengan sangat baik hati meminta kami tetap tampil sehabis upacara bendera. Dan beliau memberikan saya sepaket kamus Indonesia-Inggris. Kamus berharga ratusan ribu yang tidak dipunyai satupun anak di sekolah kami. Rasanya bahagia sekali! 

Hipotesis saya, sih, persiapan lomba story telling inilah yang membuat saya begitu menyukai dongeng. Seperti pembuka jalan, yang baru saya tapaki 8 tahun kemudian.
Membaca cerita di Pojok Cerita Festival Dongeng Indonesia Internasional 2016
Cara mendongeng saya masih amat sangat kacau, tapi saya benar-benar suka mendongeng dan mau belajar lebih banyak lagi! Tahun ini harus ikut workshop dongeng di FDII lah.

***

Setelah 3,5 tahun hiruk pikuk perkuliahan dan ekstra 2 bulan mengerjakan skripsi, saya lulus. Dan, ya, kehidupan setelah lulus ternyata menjadi semakin 'menarik' di bagian 3. 
Wisuda Universitas Bakrie Oktober 2016.



Harapan Indah, 11/06/2017 1:01 PM


P.S.
Laptop saya sempat rusak setelah bagian 2. That's the reason why bagian 3 baru naik sekarang. Thanks to Mas Abba, IT staff BPI yang bantuin bikin lapop saya normal lagi.

P.P.S. Selamat berakhir pekan, selamat berpuasa hari ke-16!

Readmore → Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Bagian 2

Monday, June 5, 2017

Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Bagian 1

Menjejak Jakarta Sendiri untuk Kali Pertama

Jakarta adalah kota yang begitu sering dielu dan keluhkan. Dielukan karena karena 'kemegahannya', dikeluhkan dengan kerasnya perjuangan yang harus ditempuh orang-orang di sini. Berjuang mengatasi segala macam stress. Terkhusus bagi saya, definisi berjuang adalah menjadi tetap waras di tengah kemacetan yang sungguh tidak masuk di akal. Entah bagaimana caranya orang-orang ini tetap menjalani hari dipenuhi kemacetan jalanan setiap hari kerja. Ah, benar benar tak habis pikir. 

Tapi Jakarta tidak melulu soal stress dan kekejaman ibu kota. Sama seperti bagaimana ia membuat jutaan orang rela berjibaku di tengah keruwetan jalan, Jakarta juga entah bagaimana membuat saya jatuh cinta. Meskipun sama sekali tak cinta dengan macetnya.

***
Bandung sedang gerimis sore itu dan saya sedang menunggu taxi pesanan untuk diantarkan ke pool salah satu travel Bandung-Jakarta di daerah Cihampelas. Perasaan saya benar-benar tidak karuan karena taxi yang (sebenarnya baru) dipesan tadi belum juga datang. Khawatir akan ditinggal travel ke Jakarta. 

Kalau dipikir-pikir lagi, waktu itu berani juga ya. Baru beberapa minggu di Bandung dan memutuskan ke Jakarta sendiri naik travel atas 'riset' lewat gugel. Cuma bermodal keyakinan kalau semuanya normal saja. Tidak ada yang harus dipikirkan. (Dan keyakinan semacam inilah yang kemudian tidak jarang membawa saya pergi tanpa arah sendirian :D hahaha).

Kami sampai di Blora lepas waktu Magrib. Saya dijemput sopir dari tempat kerja Pak Boi, paman saya. Anehnya ketika masa-masa awal ke Jakarta, setiap saya akan menumpang tinggal pasti Pak Boi sedang pulang ke Bali. Jadi lah saya selalu hanya dijemput sopir beliau dan diantarkan ke hotel. Sendirian. Cuma di kamar sampai esok pagi turun sarapan dan diantar ke Kuningan untuk ujian masuk Universitas Bakrie. Saya masih ingat sekali bagaimana pak sopir ini begitu baik hati mengantarkan saya sampai lobi kampus. Kalau diingat-ingat sekarang, rasanya lucu, cupu sekali. 2012. 

Sekitar 2 minggu setelah ujian masuk, sebaris kalimat di portal pendaftaran mahasiswa baru menyatakan bahwa saya lulus Jurusan S1 Teknik Industri dengan Beasiswa penuh. Pengumuman kelulusannya kalau tidak salah beberapa hari sebelum Ibu berulang tahun. Beberpa minggu sebelum ujian masuk universitas negeri.

Pengumuman Ujian Masuk UB

Juni 2012, saya pulang ke Bali dengan perasaan yang agak kacau karena sangat tidak yakin bisa lulus di Bandung. Benar saja, I found myself crying a little loud saat pengumuman hasil ujian masuk kampus negeri. Saya tidak lulus yang juga berarti bahwa saya akan kuliah di Jakarta, bukan Bandung. 

Pengumuman Hasil SNMPTN

***
Kali ini saya ke Jakarta untuk daftar ulang dan mencari rumah kost. Sendiri lagi. Dijemput oleh sopir di bandara dan diantarkan ke hotel, sama seperti sebelumnya. I do enjoy that moment of being alone. I really enjoy myself. Seeing things through the windows like a video clip.

Kali ketiga datang ke Jakarta lagi-lagi sendiri tapi bukan lagi dijemput sopir. Saya memilih taxi sendiri yang ternyata dikibulin. Bandara - Menteng Atas sampai 300 ribu! hahaha.

Di Menteng Atas, saya beruntung sekali dipertemukan dengan pemilik kosan yang perhatian sekali plus penjaga kost yang super baik hati. Opung dan Mba Eci. Empat tahun lebih di Menteng Atas, beberapa kali berniat pindah tapi tidak pernah benar-benar pindah sampai akhirnya saya bekerja di Bekasi. Di kost Opung ini juga saya bertemu dengan teman teman baik hati: Tami dan Yaya. Geng kosan favorit dan satu satunya.


2012, Ulang Tahun Yaya
2017
Menteng Atas amat sangat remarkable. Oh ya, sebenarnya yang membuat saya betah dan cinta Jakarta bukannya benci seperti orang kebanyakan adalah karena definisi Jakarta saya adalah Menteng Atas, Kuningan, dan sekitarnya. Naif sekali. Hidup di Menteng Atas adalah kenyamanan yang langka. Bayangkan saja, kami anak kosan sekitar Mentas hanya perlu jalan kaki ke Epicentrum, Ambasador, atau bahkan Kota Kasablanka (saya sih suka jalan kaki ke sini lewat kuburan karena memang suka jalan kaki). Ibaratnya semuanya begitu mudah dijangkau dari Mentas. Mal, GOR, taman, bioskop. Ke bagian Jakarta yang lain juga tak jauh-jauh amat. Kalau saya punya banyak uang, saya mau punya rumah di Menteng Atas saja lah. Hahaha.

(bersambung ke Bagian 2, besok!)


Harapan Indah, 05/06/2017 20:07


Readmore → Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Bagian 1

Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Intro

Tulisan ini bersifat personal, flashback, cerita tentang perjalanan yang membawa saya mengetik dari sebuah ruang tak luas di sudut Harapan Indah, Bekasi saat ini.

Dimulai dari pagi yang normal di ruang TV rumah. Pagi-pagi biasanya TV sudah dinyalakan ibu untuk membangunkan kami. Sering kali ketika bangun, ibu sudah berangkat. Saya biasanya akan memulai hari dengan duduk di depan TV yang sedari tadi mengoceh sendiri. Sembarang menonton tapi tak benar-benar memperhatikan. 

Hari itu tanpa sengaja sebuah iklan dengan durasi kurang dari 30 detik diputar. Hanya tulisan statis di layar ANTV. Iklan yang 3 tahun kemudian membawa saya kuliah di Jakarta.

Iklan itu lebih mirip pengumuman. Pengumuman tentang beasiswa Sarjana (S-1) penuh dari sebuah kampus swasta di Jakarta. Kampus yang menyandang nama salah satu keluarga kaya raya Indonesia.

***
Dan sampailah saya pada masa kelas 3 SMA. Masa ketika kami semua galau menentukan akan masuk kampus mana. Ketar-ketir kalau kalau tidak diterima di kampus yang diinginkan. 

Begitu pula saya. 

Saya masih ingat dengan iklan yang dilihat cuma sekali 3 tahun lalu. Berkat bantuan google, saya sampai pada laman universitas tersebut. Kemudian menjadikannya sebagai Rencana B. 

Ternyata saya lulus ujian masuk dengan beasiswa penuh di Jurusan Teknik Industri. Jurusan yang sama dengan Rencana A. 

Ternyata, saya tidak lulus Rencana A. 

*** 
4 Tahun kemudian saya lulus sebagai Sarjana Teknik, dihadiahi gelar Lulusan Terbaik Jurusan Teknik Industri dan predikat Cumlaude.

Dan, ya, sebulan sebelum diwisuda, saya baru saja mulai bekerja di salah satu perusahaan milik keluarga dengan nama yang sama dengan kampus saya. Keluarga yang mendirikan yayasan yang menguliahkan saya gratis: Kelompok Bakrie.

***
Bulan ini adalah bulan kesepuluh saya sebagai Management Trainee di perusahaan tersebut. Sebenarnya ada banyaaaak sekali yang ingin dibagi, saking banyaknya sampai bingung harus mulai dari mana. 

Maka, anggaplah ini sebagai intro. 

Beberapa post ke depan adalah cerita-cerita saya di Universitas Bakrie dan Bakrie Pipe Industries. 

Oh ya, biasanya yang muncul pertama di benak orang ketika tahu saya berasal dari kampus yang namanya sama dengan perusahaan saya bekerja adalah "langsung disalurkan ke perusahaan ya?". Langsung saja saya jawab di sini, jawabannya: tidak. Saya memulai semua prosesnya dari awal seperti pencari kerja lain. Nanti saya ceritakan lebih lanjut yaaa..

***
I'm overwhelmed tapi harus tidur karena besok pagi harus menempuh rute yang berat: Bekasi-Jakarta hahaha.  


Harapan Indah, 05/06/2017 0:47
Readmore → Dari Universitas Bakrie sampai Bakrie Pipe Industries: Intro

Wednesday, May 24, 2017

May for Movies


Belakangan, film yang ditonton Wika lebih variatif. Dari film Jepang, musical, thriller, drama juga. Nah, here is the recap of some remarkable movies I watched till last week.

BECK (2010)
Ceritanya tentang Koyuki, anak SMA, hidup membosankan, sering dirisak di sekolah. Hidupnya berubah setelah secara tidak sengaja bertemu dengan Beck dan pemiliknya yang adalah gitaris hebat. Koyuki belajar main gitar, mereka mulai bikin band yang jadi berlima. Kalau dipikir-pikir sekarang, sebenarnya ceritanya simpel, tentang mereka bikin band dari 0 sampai bisa tampil di festival musik rock terbesar di Jepang. Banyak intrik internal dan dramanya. Tapi kemarin waktu nonton rasanya seru gitu. Ya, emang film-film Jepang aneh tapi menarik. Banyak detail-detail remeh tapi malah jadi sentuhan yang bikin 2.5 jam tidak terasa lama. Ah, i found the right words: filmnya mainin perasaan banget.

Lesson learned: industri musik mainstream banyak modal ternyata sejahat itu sama anak baru idealis.

CONFESSION (2010)
Ini film menarik banget. Twistnya gila. Plotnya dibuat dalam potongan-potongan sudut pandang masing masing karakter. Ketika pindah dari sudut pandang satu ke yang lain akan ada semacam pekikan "Ih, gila! Ini film apaan sih". Inti ceritanya itu cuma satu, tentang Shuya Watanabe, anak yang ditinggal mamanya dan berusaha buat mendapatkan perhatian dan membuktikan dia bisa jadi anak pintar yang mamanya mau. Jadilah dia mulai bikin eksperimen-eksperimen 'jahat' dengan tujuan bisa diliput media dan mamanya sadar dia ada. Percobaannya sampai makan korban nyawa anak guru di sekolah. Nah, ini bikin cerita jadi kemana-mana. Di film ini ada sudut pandang si Shuya, Naoki, guru sekolahnya, mamanya Naoki, dan teman sekolah yang suka sama Shuya. Some lives taken worthlessly in this movie. Sedih banget. Walaupun banyak sedihnya, ada satu scene giliran Naoki yang sangat lucu. Ketika Naoki bercerita kalau sebenarnya dia cuma mau berteman dengan Shuya dan mau membuktikan kalau dia teman yang bisa diandalkan. Dia sampai jadi tidak waras setelah tahu kalau gurunya (yang anaknya mereka bunuh) memasukkan darah mengandung virus HIV ke kotak susunya dan Shuya. Ketidakwarasannya ketika dilihat dari sudut pandang orang lain itu menyedihkan, tapi ketika dilihat dari sudut pandang dia malah bikin ketawa paraaaah, but it ended sadly. Harus nonton sendiri lah ini.

Lesson learned: 1. be aware of someone's childhood scars. 2. When you see things from many other perspectives, things could be very different.

HANGOVER (2009, 2011)
Komedi, konyol banget, ketawa sampai sakit perut. Kedua seri ini cerita soal pesta bujang gone wrong. Kegilaanya sih hampir semuanya gara-gara Alan. He's innocently-annoying-but-absolutely-bikin-ngakak. Kelakuan mereka di Vegas (1) dan Thailand (2) benar-benar hiburan yang super menggelikan. Oh ya, banyak explicit content.

Lesson learned: gak usah ajak teman kayak Alan kalau gak mau pesta bujangnya gone wild.

THE INTERN (2015)
Tentang program magang senior yang ditujukan untuk para lansia di perusahaan startup online. Tentang si Jules yang mulai kewalahan mengurus startup dan keluarganya. Lewat Ben, dia akhirnya belajar banyak hal. Ben tipikal orang tua yang baik banget! Dia bahkan bisa dekat sama anaknya Jules. Ah, such a very warm movie. Bagian favorit waktu Jules bantu Ben bikin Facebook, dari sana Jules yang awalnya tidak pernah menyempatkan waktu mengenal Ben akhirnya bisa tahu lebih banyak soal Ben. Menurut saya sih, bagian ini briliant banget. Effortlessly beautiful scene.

PARFUME: STORY OF MURDER (2006)
"...a 2006 German period psychological crime thriller film", quoted from Wikipedia. Saya sih gak mau kalau disuruh nonton sendiri, sama takutnya seperti nonton Criminal Minds sendirian. Ini tentang Grenouille yang punya penciuman yang sangat tajam. Dia bahkan bisa mendeskripsikan apa yang ada di dalam sungai yang jaraknya belasan meter dari tempatnya berbaring. Dia belajar dari seorang ahli parfum untuk bisa mengekstrak bau dan mempertahankannya. Dan akhirnya terobsesi untuk mengekstrak bau manusia ke dalam racikan parfum yang terdiri dari belasan elemen. Paling sedih ketika dia membunuh gadis terakhir untuk elemen parfumnya, padahal gadis itu sudah dijagain mati-matian sama papanya (Alan Rickman). 

Pada akhirnya parfum rampung dan bikin sekota telanjang. Gila. Creepy banget. Endingnya juga creepy. Saya masih gak habis pikir gimana bisa si penulis novel bisa-bisanya bikin cerita ini. Grenouille sama sekali tidak punya sense of guilty while killing. Tujuan dia cuma mau bikin parfum bau surga, setelah itu udah. Dia gak pakai parfum itu untuk tujuan apapun. Malah disiram ke tubuhnya sampai dia hilang ditelan kerumunan orang yang melihat dia seperti malaikat.

Lesson learned: (ummm, can't think about it. Saya memekik ngeri sepanjang film.)

NOWHERE BOY (2009)
Film biografi John Lennon semasa muda. Drama pertama yang bikin kami nagis deras di bagian-bagian akhir. Lennon disayang banget sama Mimi dan ternyata ibu kandungnya tinggal beberapa gak jauh dari rumahnya. Ibu kandungnya ngenalin Lennon sama alat musik, dia juga belajar main semacam alat musik petik mirip gitar tapi entah namanya apa dan akhirnya belajar gitar juga. Dibeliin gitar sama Mimi tapi belakangan Mimi kesal dan gitarnya dijual. Gitar dibeli lagi dari uang minta sama ibu kandungnya. Jealous sama Paul karena main gitar lebih jago pakai pick juga. Dan yang bikin filmnya seru juga banyak performance mereka nyanyi dan ngeband, asik banget.

Lesson learned: orang-orang hebat/terkenal rata-rata emang satu circle dari dulunya (atau at least circle mereka bersinggungan/beririsan).

LEON: THE PROFESSIONAL (1994)
Bermula dari Alt-J. Beberapa waktu kemarin saya keranjingan Alt-J sampai download semua albumnya termasuk yang lama-lama dan unpublished. Leon adalah salah satu lagu yang gak dipublish di album komersial mereka, tapi saya suka sekali dan kepo mau lihat live performance untuk lagu itu lewat youtube. Dan yang muncul adalah potongan film Leon. Dari situ saya baru tahu kalo Leon dan Mathilda adalah dua lagu dengan base satu film lawas. Ah, makin makin lah amazed sama Alt-J.

Film ini sendiri mirip banget sama Logan (2017). Bedanya, Leon dan Mathilda bukan x-men. Mereka tetanggan. Leon professional killer or "cleaner", Mathilda anak perempuan 13 tahun yang papanya bisnis dope dan satu ketika bermasalah sama agen DEA yang jahat. 

Leon akhirnya ngejagain Mathilda sampai akhirnya cuma Mathilda yang selamat. Bagian paling diinget adalah waktu Leon udah mau mati, dia ngasih ring granat ke tangan si agen DEA dan bilang "this is from Mathilda" which is lirik lagu Mathilda yang dibikin Alt-J. Ya, now I know. Ohya, Mathilda juga bilang "I love you, Leon" beberapa kali dan jadi lirik lagu Leon juga.

After-movie thought: Leon tahun 1994, sepertinya ada beberapa film yang mirip sama film ini. Baik plot maupun karakternya. Cerita Leon-Mathilda mirip Logan, karakter villain-nya mirip Valentine di Kingsman tanpa kegilaan teknologi dan motifnya jg agak beda sih.


Menurut kamu, Wika harus nonton apa lagi? :)

P.S. thank you to the person who handpicked these movies and spent much time to watch it with me. Wika demands more movies :p


Harapan Indah, 25/05/2017 1:09 pm.

Readmore → May for Movies

Tuesday, April 18, 2017

April Playlist by Wika

Setelah kerja rasanya waktu jadi banyak. Banyak waktu yang gak menuntut buat fully focus on doing it (dalam artian sekarang kerjaan/hal yang dikerjain itu bisa sambil ngelakuin hal lain (re: denger lagu)). Berangkat kerja, di meja kerja, di kosan sepulang kerja, mandi, di kereta, dan lain lain. 

Thanks to spotify.

Kenapa spotify? Soalnya spotify punya layanan gratis, isinya (hampir) ada semua, banyak playlist based on many things mulai dari yang lagi hits sampai based on mood. Dan yang paling penting, puja yang bikin algorithm buat 'daily mix'-nya. Warbyasak! Banyak banget lagu-lagu yang kita gak tau sebelumnya kalau lagu itu ada dan ternyata itu lagunya enak banget dan spotify bikin kita bisa nemuin lagu-lagu/band/artis itu. And I even could discover more and more karena langsung ada "related artist" list yang muncul di halamannya.

Kayak berutang budi gitu sama spotify yang indirectly let me find what music I actually dance to hihi. So here is the list in my April:

1. Two Doors Cinema Club
Sebelumnya cuma tahu satu lagu: What You Know, denger waktu ada acara musik di kampus beberapa tahun lalu. Kemarin lagi random aja, main ke channelnya dan sekarang rasanya kayak "Oh, jadi ternyata gue suka band macem ini ya. Kok asik sih?". Im currently listening to their latest album: Gameshow. Tapi yang nempel di kepala sih Changing Of Season.

2. Dark Days - Local Natives
Nah, ini munculnya di daily mix waktu dengerin lewat iphone. Lagunya waktu itu keburu mati sebelum sempat liat ini yang nyanyi siapa judulnya apaaaaa. Mana liriknya juga selewat doang jadi gue gabisa googling kan. Duh. Tapi beruntung pas gue dengerin daily mix itu lagi, lagunya keputer lagi. Lagunya selo gitu sih, effortless, enak lah.

3. Somebody Else - The 1975
Kalau yang ini nemunya di instagram orang, bukan spotify.Gue emang gak sesuka itu sih sama The 1975, habis denger ini dan sealbum "I like it when you sleep, for you are so beautiful yet so unaware of it", ummm.. hehe.. suka deh ternyata. Walaupun emang gak sesuka itu kok :p
 

4. Cloud Nine - Kygo 
Kygo itu semacam penenang dalam segala mood. Play it and you will love it. 


5. Fools - Troye Sivan
Udah suka dari jaman Happy Little Pill deh.


6.  I See You - The xx
Current favorite song in their latest album: Say Something Loving. Plus, I WILL WATCH EM LIVE IN SG THIS JULY!!!!! Cant wait hihi.



If you're the type of person who can read someone based on what s/he listen, you can read me now, folks ;)

Happy Tue!

Bekasi, 18/04/2017 13.51 
Readmore → April Playlist by Wika

Monday, April 17, 2017

Reading Progress 5/7

Gak ada post di bulan Maret. Such a shame padahal targetnya one month one post. My reading target isn’t achieved too. I should have finished reading my 7th and should currently reading my 8th book this year by today. Unfortunately, I only finished 5. Shame on me.

Ya, I’ll get myself back on track. I will.

But hey, instead of keep on feeling gloomy this Sunday, I will review those books I’ve read so far.

Those are: Kambing & Hujan: Sebuah Roman, Amba, Le Petit Prince, #GILAVINYL, and Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon.

I am currently reading Semua Ikan di Langit, haven’t finished yet. It takes like a decade for me to finish it, maybe because I don’t enjoy the story. Ziggy’s previous novel I read was “Di Tanah Lada” which is finished in only one night. Oh ya, ada juga novel Rumah Hujan yang belum jadi dibaca karena dibelinya random terus pas cek review pada bilang gak bagus. Duh. Salah banget kenapa pake ngecek review gitu.
Ah, let’s just start the review:

***disclaimer: review ditulis secara amatir oleh pembaca amatir yang gak secinta itu pada sastra. Tulisan ini juga bisa jadi ada spoiler-nya. Kata temen saya, post ini gak tau diri dan gak sopan. 5 buku dalam satu post dikomentarin dengan skill review cetek***




1.    Kambing & Hujan: Sebuah Roman
On the first days in my office after orientation, I got so little to do and ended up clicking goodreads.com and found this book as recommendation so I bought it. Novel ini dinobatkan sebagai Pemenang I dalam Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Jadi sebelum baca saya pasang ekspektasi tinggi. Di punggung buku sinopsinya tertulis seperti ini:

“Miftahul Abrar tumbuh dalam tradisi Islam modern. Latar belakang itu tidak membuatnya ragu mencintai Nurul Fauzia yang merupakan anak seorang tokoh Islam tradisional. Namun, seagama tidak membuat hubungan mereka baik-baik saja. Perbedaan cara beribadah dan waktu hari raya serupa jembatan putus yang memisahkan keduanya, termasuk rencana pernikahan mereka.”

Menurut saya sih, titik berat ceritanya bukan itu. Lebih ke luka lama kedua orang tua mereka yang kebetulan berbeda paham antara Islam modern dan tradisional dan terbawa-bawa sampai anak-anak mereka. Luka lamanya pun sebenarnya banyak yang bukan tentang agama, lebih berat tentang gadis pujaan yang jatuh ke tangan seorang kawan baik, tentang cemburu akan satu sama lain, dan tentang ego mereka di masyarakat.

Happy ending. Saya kurang suka dengan Fauzia hahaha. Dia kayak cuma anak manja yang ngebet minta nikah.

Oh ya, sebagai orang yang awam tentang Islam dan perbedaan antara Islam modern dan tradisional, novel ini memberikan banyak sekali pengetahuan baru akan hal tersebut.

Bagian yang paling diingat: ketika pemuda desa mereka nekat menebang pohon yang dianggap keramat dan pohonnya melayang. Saya pernah merasakan kegusaran yang serupa di tempat asal hihi.

2.       Amba Sebuah Novel
Beberapa halaman Amba sebenarnya sudah dibaca di akhir 2016. Bacanya online lewat iJakarta. Tapi, karena novel isinya cukup memerlukan konsentrasi buat dibaca dan tebal juga, jadi bacanya sempat terputus sampai akhirnya saya beli novel cetakannya waktu Gramedia World Harapan Indah baru buka. Novel ini kalau dicek revienya kayak banyak banget yang mengelu-elukan gitu. Terus ada cap “A National Bestseller” pada kover depannya.

Tapi ternyata saya gak merasakan euphoria sedahsyat itu. Mungkin gara-gara pemahaman sastra saya yang rendah sih. Jadi yang saya tangkap dari novel ini adalah seorang perempuan pencemburu dan gegabah dan overthinking yang bikin hidupnya ribet sendiri. Ceritanya dibalut dengan cerita pewayangan Amba-Bhisma-Salwa dan latar cerita tahun 65.

Lagi-lagi kesel sendiri sama tokoh perempuan. Amba itu egois banget. Atau mungkin saya aja yang belum mengerti kalau cinta memang seharusnya bisa sekuat itu.

Tokoh favorit: Samuel. Soalnya dia kayak baik banget gitu dan enggak ngotot atas kepemilikan terhadap perasaan suka dan seseorang.

3.       Le Petit Prince
Lagi-lagi beli buku gegara citra bukunya. Eh, selain itu gara-gara judul buku ini muncul di “Di Tanah Lada” juga deh.  Di belakang kover Le Petit Prince ditulis gini: 

“Pangeran Cilik termasuk buku yang paling banyak diterjemahkan di dunia. Konon pernah disadur ke dalam 230 bahasa asing. Buku ini memang luar biasa. Tampaknya seolah cerita anak-anak, tapi sebenarnya dinikmati dan direnungkan juga oleh orang dewasa.” 

Setelah baca Le Petit Prince saya jadi lebih paham Di Tanah Lada yang kena pengaruh cukup keras dari buku ini.




Buku ini tipis banget, sekali duduk juga selesai. Awalnya agak membingungkan dan susah ngerti. Ya mungkin karena alasan klasik bahwa saya yang cupu dan gak paham sastra hehe. Tapi setelah membiasakan diri, yang saya tangkep, ceritanya nyelekit-nyelekit gitu. Tentang seorang imaginary prince yang tiba tiba muncul bumi dan bercakap-cakap sama pilot yang juga terdampar karena pesawatnya rusak. Cerita-cerita yang dikasih tahu pengeran ini beneran kayak nyubit-nyubit dengan logika polos dan sederhana.

Bagian paling haru: waktu pangeran ngomongin soal bunga di planetnya yang dia sayang banget. Huffffff. Sampai diselimutin biar ga kedinginan. Yang bagi dia, bunga itu cuma satu padahal di bumi dia liat ada sekebun. Tapi ya si bunga kayak angkuh banget dan gak bisa menyampaikan perasaan sayangnya ke pangeran dengan baik, padahal kayaknya dia juga sayang.

4.       #GILAVINYL: Seluk Beluk Mengumpulkan Rekaman Piringan Hitam
Jelas buku ini bukan punya saya, enggak mungkin banget Wika beli buku semacem ini. Yup. Ini punya temen yang tergila-gila sama vinyl. Saya baca karena kepo, kok bisa ada orang yang segila itu ngabisin duit gak sedikit buat beli rekaman-rekaman lagu yang sebenarnya jauuuuuuuuuuuh lebih murah beli versi digital, atau dengar gratis di Spotify, atau beli CD aja deh.




Dari buku ini, saya jadi tahu, ternyata orang-orang kayak gitu ada banyak! Gila emang. Tapi keren sih. Bisa secinta itu akan sesuatu. Sama kayak si pangeran cinta sama bunganya, atau kayak Amba ke Bhisma. Ah, lagi-lagi mungkin gara-gara saya aja nih yang gak paham cinta dengan baik hahahaha.

Sebagai orang yang bukan penikmat apalagi penggila vinyl dan bahkan baru pernah pegang vinyl minggu lalu, buat saya buku ini alur pemaparannya membosankan di bagian cerita-cerita orang yang diwawancarai soal dia dan vinylnya. Kayak pertanyaan yang diulik itu-itu aja, dan gak jarang juga jawabannya mirip-mirip. Tapi, mungkin buat penggila vinyl macem temen saya itu, buku ini menarik banget karena baca buku ini kayak nonton orang ngobrol soal vinyl. Ada juga rekomendasi tempat-tempat berburu vinyl dan dilengkapi dengan berbagai definisi istilah per-vinyl-an. Kalau satu frekuensi pasti nyambung dan excited gitu kan, kalo beda frekuensi macem saya..hmm..cukup tau aja deh hehe.

Yang remarkable dari buku ini: Arian13, musisi dengan band super cadas, bapaknya lulus MIT, scientist. Yap, salah fokus emang. Hahahaha. Oh ya, rata-rata orang-orang ini berada di lingkaran yang terhubung satu sama lain loh ternyata.

5.       Cerpen Pilihan Kompas 2014: Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon
Ini adalah kumpulan cerpen pilihan Kompas kedua yang saya beli. Sebelumnya sudah pernah beli yang 2015, isinya bagus bagus! Saya sempat berpikir jangan-jangan saya sudah jatuh cinta sama cerpen sekarang! Ahaha. Beda dengan seri 2015, cerita di buku ini lebih banyak, ada total 24. Yang paling membekas menurut saya ada 5: Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon karya Faisal Oddang, Matinya Seorang Demonstran karya Agus Noor, Joyeux Anniversaire karya Tenni Purwanti, Kaing Kaing Anjing Terlilit Jaring karya Parakitri T. Simbolon, dan Menunda-nunda Mati karya Gde Aryantha Soethama.

Di seri 2014 ini, banyak cerita, banyak pula yang saya gak paham. Iya, pemahaman saya akan sastra memang belum cukup tinggi jadi masih kesulitan menerjemahkan cerita-cerita implisit dan imajinatif dari para pengarang yang begitu dipuja orang-orang. Saya gak bisa paham maksud dalam Lima Cerpen Sapardi Djoko Damono, atau cerpen Arsip Aku dalam Kedalaman Krisis, atau Angela.

Terlepas dari susahnya memaksa paham, buku ini tetap insightful banget. Ada satu kalimat dari tokoh Eka dalam cerpen Matinya Seorang Demonstran yang bagi saya sangat well-expressed (karena saya sangat setuju dengan pemahaman itu), yang bunyinya begini “Seseorang yang bahagia adalah seseorang yang diberikan kesempatan memilih dalam hidup. Maka aku memberimu kesempatan, agar kamu bisa memilih sendiri kebahagiaanmu.” Ah, ini ultimate quote banget lah. Oh ya, sebenarnya cerita dalam cerpen ini berkisah tentang dua orang pemuda. Satunya aktivis, satunya anak petinggi yang terkenal seantero kampus tapi saat keduanya mati dalam kerusuhan malah anak petinggi yang tak sengaja tertembak peluru nyasar ini yang dinobatkan jadi pahlawan. Sedangkan si aktivis mati bagaikan tanpa jejak. Mereka berdua menyukai gadis yang sama, dan tokoh aktivis ini lah yang melontarkan kalimat yang tadi saya tulis di atas hehehe.

Menunda-nunda mati juga buat saya bagus banget karena saya berasa deket banget dengan ceritanya. Tipikal cerita mistis Bali yang dikemas sedemikian rupa bisa jadi sekeren itu! Di satu sisi, ini juga tentang istri yang berusaha menunda kematian suami tercinta dengan jalan membunuh lawan suaminya diam diam. 

**Sampai di sini, saya jadi merasa kalian bisa membaca kepribadian saya dari hal-hal yang saya garis bawahi di setiap buku hehehe.**

***
Dari semua buku yang saya baca, saya selalu kagum, penulis-penulis bisa sebegitu hebat merangkai kata dan makna jadi sesuatu yang sangat indah. Penulis itu kayak ilmuwan juga sih, bedanya penulis itu mainnya sama kata kata. Oh ya, kemarin juga saya habis ngobrol dengan seorang teman calon scientist, a lot of things he shared in only some minutes we met. Will tell more about it in another post :)

So, what's on your list? 


P.s. This post should have been posted by 8 pm tonight as i promised. But unfortunately, a friend force me to watch Due Date. Sebenarnya film komedi, tapi kesel banget nontonnya. Sama ngeselinnya kayak temen saya.

P.p.s. I type this on my iphone gegara batre laptopnya habis buat nonton. Jadi tulisannya rada nanggung. 

Harapan Indah, 16/04/17 21.33


Readmore → Reading Progress 5/7

Saturday, February 25, 2017

How to Deal with Disappointment a la Wika

***disclaimer: tulisan ini dibuat atas dasar iseng. Saran-saran sembarang diketik tanpa benar-benar dipikirkan penulis. Tapi emang ini yang dilakuin kalo lagi kesel karena kecewa, sih, hehe***


Kadang hari yang diawali dengan pagi yg cerah dan hangat diakhiri dengan kuyup disiram hujan pulang kerja. Dan itu hari Jumat yang sebelumnya didambakan untuk jadi penutup hari kerja yang menyenangkan. Jadi, ketika hari semacam itu terjadi, harus apa? 


Berikut adalah 5 cara untuk mengatasi kekecewaan atas hari yang gak seindah harap. (Maaf ya postnya nyampur-nyampur bahasanya


1. Take a deep breath, release

Ketika hari berubah jadi kacau, kesal emang, tapi try to embrace it. Just take a deep breath, release. Tell yourself that 'this is what happen. Let's do it'.


2. Find a medium to explode

Udah coba buat embrace tapi berasa masih gak terima? Masih kesel banget? Oke, saatnya kamu meledak aja. Nangis? Denger lagu dan nyanyi2 meracau? Tenggelam baca buku? Lakuin aja! Tapi harus diingat, pastikan ketika kamu meledak lokasinya udah disterilkan terlebih dahulu. To prevent collateral damage ;)


3.  Do not express it explicitly in any form to public

Setelah meledak, biasanya sih udah berasa lebih ringan. Tapi, kadang ada aja godaan buat menunjukan ke dunia how much we've been made miserably dissaponted and hurted and pain. Hahaha. Nah, jangan pernah tergoda buat mengekspos ini ke orang lain dalam bentuk eksplisit. Boleh pilih yang lebih elegan. Mungkin lukisan atau post di blog? ;) hahaha. Tapi enggak usah update path dengerin lagu patah hari pakai caption lirik lagunya. Big no. Atau upload quotes di instagram. No. Better post your work! Jadi enggak keliatan lemah. Lebih produktif pula. Pokoknya jangan yang eksplisit. 


4. Stop crying, get a life

Masih sedih? Iya, tau. Tapi tadi kan udah nangis, udah meletup juga. Mau diapain lagi? Sekarang udah dong. Waktunya berhenti nangis. Waktunya ngelanjutin kerjaan-kerjaan lain yang tadi sempat kamu tinggal buat nangis dan meledak. It's still your responsibility :p


5. Smile!

Dan yang terakhir, to wrap it all, you will need a little smile on your face. Perfect! Now you're ready to the next stage. Congratulation!


Gak ada yang harus disesali, kok. Mau kamu sekecewa apa apun, ya udah, udah selesai. Inget aja, apapun yg udah selesai akan jadi pelajaran, entah secara langsung atau gak langsung. Oh ya, bad thing and good thing always come in pair. Bisa jadi dissapointment yg kamu terima hari ini adalah pair dari good things yang kamu terima kemarin, atau ini adalah pair yg dari good things yang akan kamu terima besok. Cuma itu aja kemungkinannya.


Good night!



Readmore → How to Deal with Disappointment a la Wika