Monday, June 15, 2015

Semester 6: When Life Just Started to be More Interesting

Sebenarnya pengen tulis “…When life just started to be more complicated.”

Sebenarnya juga sih, semester 6 ini justru lebih banyak habis untuk tidur dan bukannya sibuk-sibuk cari tempat kerja praktik (KP).

Bukan karena saya tidak memikirkan KP, lebih karena saya terlalu percaya diri.

Percaya diri yang pada akhirnya saya sadar dihancurkan oleh hal-hal remeh semacam salah tulis tahun pengajuan kerja praktik yang harusnya “2015” malahan tertulis “2014”. (Tapi pasti itu bukan satu-satunya faktor yang bikin saya gak pernah dapet email balasan, sih.)

Dan pada (sepertinya bukan) akhirnya, saya memutuskan melanggar berbagai konstrain KP yang sudah dibikin di akhir tahun kemarin. Jadilah saya apply di salah satu perusahaan Bakrie. Sudah  dapat mentor, tinggal ketemu pihak HRD.

Tiba-tiba, dosen membuka kesempatan untuk kami bisa ambil bagian (tentunya dengan seleksi dulu) dalam sebuah proyek BUMN. Kabarnya, kami akan diberikan kompensasi setara lulusan S1.
Pertama kali info itu disebarkan oleh ketua kelas sih, saya dengan mantap bilang “enggak ah, aku mau pulang aja J”.  Apalagi tiket pulang tanggal 2 Juli 2015 sudah di tangan saya sehari sebelumnya.

Tapi percakapan dengan kakak saya bisa mengubah segalanya. Percakapan ringan yang ujung-ujungnya ya menyadarkan bahwa saya terlalu manja belakangan ini. Bahwa saya sudah dewasa tapi sikapnya sama sekali belum dewasa. Bahwa saya harus belajar untuk menjadi dewasa, suka atau tidak suka.

Jadilah akhirnya CV dan transkrip akademik saya dikirimkan ke email ketua kelas.

Kemudian malah bingung lagi.

Yakin? Kalau keterima, nanti yakin mau diambil? Mending pulang.. Galungan di rumah… KP di Bakrie aja.. Nanti skripsinya lanjut hasil KP, sekalian.

Terus nelfon Bangkit. Hasil pembicaraannya: at the end of the day, you will regret something that you didn’t do rather than something you’ve tried and failed.

Sampai sekarang masih belum jelas. Berkasnya mau ditarik aja atau dibiarin. Besok harus nelfon bapak deh.

Ternyata, bukan cuma soal kuliah yang getting more interesting. Love live juga. Di akhir semester 6, saya harus KP dan Mega harus kuliah kerja nyata (KKN). Padahal sudah banyak sekali hal yang kami mau lakukan liburan nanti. Jalan-jalan, jajan lucu, main ke pantai, dan banyak daftar panjang couple things lainnya.

Sayang sekali, ketika bertukar jadwal, kami baru sadar kalau kami bahkan hampir tidak mungkin bertemu. Mega akan KKN selama satu setengah bulan di Desa Payangan, Bali mulai tanggal 1 Juli. Sedangkan saya, (dengan rencana awal KP di Bakrie) akan pulang tanggal 2 Juli dan balik lagi untuk KP tanggal 18 Juli atau (jike KP di proyek dari dosen) tidak pulang sama sekali.

Buat saya, this is torturing me :'(

Well, ya, life is getting more interesting di akhir semester 6.

Walaupun saya banyak tidur.

Good night J
Readmore → Semester 6: When Life Just Started to be More Interesting

Monday, May 25, 2015

Icarus

"Icarus is flying too close to the sun
Icarus's life, it has only just begun
This is how it feels to take a fall
Icarus is flying towards an early grave"

Read more: Bastille - Icarus Lyrics | MetroLyrics 

Itu potongan lagu yang tadi pagi saya gugling maksudnya apa. Bagus. Saya jadi tau sedikit soal Icarus. 

Tapi sebenarnya sih, tadinya, mau bahas GrabTaxi yang baru saya cobain kemarin. 

Ya, apa daya pikiran lagi agak kacau.

Pusing.

Mau Sidang Pertanggungjawaban a.k.a. SPJ ormawa kampus starting from this evening sampai 2 minggu kedepan. 

Sidangnya belum mulai, lelahnya udah berasa hahaha stupid.

Sebentar lagi Mei habis. New life started soon!

i need hugssss lol.

Ah, sudahlah, nanti aja balik lagi. 

I love you

Mega!

:p
Readmore → Icarus

Tuesday, January 13, 2015

I Demand Food!

Hari ini adalah 6 hari sebelum keberangkatan saya untuk main ke Yogyakarta. Besok saya masih harus ujian sampai Jumat. Masih ada 5 mata kuliah dan seperti biasa, jenuh. Karena di semester  5 ini ada 9 mat akuliah yang saya isi di KRS, jadilah terseok-seok begini kalau sudah musim ujian. Bukan karena susahnya, tapi karena kuantitasnya. Banyak sekali ujian yang harus dihadapi hahaha.

Ngomong-ngomong soal ujian, dunia penerbangan komersial negara ini juga sedang diuji, atau lebih spesifik lagi yang ingin saya bicarakan adalah Bapak Ignasius Jonan, Menteri Perhubungan Republik Indonesia. Setelah kecelakaan yang dialami salah satu pesawat Airasia, Pak Menteri disorot media untuk berbagai hal. Banyak sekali berita tentang beliau marah-marah karena pilot penerbangan pesawat yang jatuh itu tidak melakukan face-to-face weather briefing, atau berita tentang kebijakan Kementerian Perhubungan mengenai penghapusan tiket pesawat murah.

Banyak sekali orang yang langsung menghujat beliau atas dua berita yang saya sebutkan tadi. Tapi, alangkah baiknya kalau kita tidak semerta-merta berpikiran negatif pada beliau atau siapaun yang tengah diserang oleh pemberitaan yang kurang baik. Harus disadari bahwa selalu ada dua sisi dari suatu hal, baik dan buruk, menyenangkan dan kurang menyenangkan, dan lain sebagainya.

Tindakan marah-marah Pak Menteri ada benarnya kalau kita berkaca pada Jepang. Dosen saya senang sekali menceritakan pengalamannya selama beliau kuliah di Jepang. Salah satunya adalah di sana sangat dibudayakan untuk meyakinkan bahwa sesuatu telah dilakukan. Misalnya, ketika mematikan lampu di kelas, seseorang juga harus menyebutkan bahwa lampu itu mati sehingga tidak ada lagi kejadian di tengah jalan dia bimbang apakah lampunya sudah dimatikan atau belum. Atau cerita tentang petugas yang harus menyebutkan warna lampu yang menyala bukan hanya memencet tombolnya saja.

Mungkin begitu pula dengan para pilot yang sudah seharusnya menghadiri brifing cuaca sebelum berangkat. Tujuan diadakannya briefing cuaca mungkin adalah untuk meyakinkan mengenai prakiraan cuaca yang akan dihadapi penerbang yang tidak cukup hanya sekedar melihat rekap data cuaca online.

Untuk berita kedua, bisa jadi benar kebijakan itu prematur. Saya sendiri sebagai mahasiswa rantauan yang moda transportasi utama untuk pulang kampung adalah pesawat terbang tentu merasa agak berat jika tidak ada lagi tarif promo. Apalagi para backpacker di luar sana yang memang sangat mengandalkan tiket promo untuk mewujudkan rencana jalan-jalan mereka. Tapi sekali lagi, selalu ada sisi yang lain yang harus juga dilihat. Mungkin Kementerian Perhubungan punya pertimbangan yang lebih matang tentang kebijakan ini. Saya juga belum baca lebih jauh.

Saya sendiri bukan orang yang mengikuti setiap potong berita yang dirilis oleh media  karena saya agak kesal dengan pemberitaan media yang sering kali tidak berimbang, hanya ingin menjual berita. Tapi pesan moralnya adalah sebelum kita terlalu jauh membenarkan ataupun menyalahkan sesuatu, ada baiknya kita lihat sisi lainnya. Selalu ada sisi yang lain. Selain itu, kalau memang hati sudah bulat untuk memihak, pastikan kalau bukti atau setidaknya analisis sudah cukup. Jangan hanya karena membaca suatu artikel yang isinya opini penulis semua lantas kita langsung terpengaruh tanpa punya analisis sendiri. Analisis yang kita buat juga jangan melulu bawa hati dan emosi, silakan tools analisis yang anda dapat semasa sekolah atau kuliah dipergunakan. Bisa yang sesederhana 5W1H dan 5Whys, atau tools analisis lain yang lebih wahid lagi. Jika analisisnya sudah terstruktur, tempat untuk pengaruh berlebih dari hati dan emosi bisa dikurangi hehe.

Harus disadari bahwa setiap suara kita akan memberi pengaruh pada arah suatu berita karena di jaman yang sosial media sudah menjadi asupan informasi bagi sebagian besar orang ini, setiap informasi yang kita bagikan bisa membawa dampak berkali lipat tanpa kita sadari. Maka dari itu, pintar pintarlah memilih informasi yang akan kita dukung dan sebarkan.

Selamat malam J

Note: Judul di atas tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi tulisan ini. Saya memberi judul seperti itu semata-mata karena saya sedang sangat ingin ngemil sebelum menulis. hehehe
Readmore → I Demand Food!

Monday, January 5, 2015

Happy New Year!

Dua minggu lagi saya pulang ke Bali. Dua minggu ini saya masih harus ujian akhir semester 5 dulu. Hari ini sudah hari ke lima di bulan pertama tahun 2015.

Hi!

Sebelum tahun 2014 habis kemarin, sebenarnya saya sudah ingin menulis seperti yang dilakukan orang orang. Menulis tentang pencapaian di tahun 2014, resolusi 2015, refleksi diri selama setahun kemarin, dan lain-lain. Sayang sekali saya baru sempat menulis malam ini, di tengah-tengah waktu belajar saya untuk ujian besok siang -- seperti biasa.

2014 kemarin saya nobatkan sebagai "The Most Enjoyable Year". Rasanya di tahun itu saya menikmati setiap bagiannya. Padahal, saat malam pergantian tahun dari 2013 ke 2014 saya menangis keras karena kesal because I was so jealous on my crush hahaha. 

I got a lot of first-time-experiences in 2014. Here they are:
1. Watching Taylor Swift concert live in Jakarta
2. I visited Lombok and Gili Trawangan
3. Snorkeling (in Menjangan island)
4. Java -- Bali by rail and sea, solo trip! 
5. "Mapayas Deeng" - put Balinese make up and costume for "Ngaben" ceremony
6. Watching live soccer match (Indonesia vs Syria)
7. Able to play guitar and ukulele although only for some keys, hehe.
8. Got my first 100 for final score without doing the test! (i successfully do the coding challenge given by my lecturer) 

It was also a very prosperous year to me. Thank you, mom, dad, kak Inda, and Kak Bayu.

Selain hal-hal yang memang tiba-tiba popping from my head and the universe conspires to make it happen trough the people arround me, beberapa target 2014 juga saya tercapai dengan baik. Tapi ada juga yang memang belum tercapai dan ada juga yang sengaja dihapus dari daftar, hehe.

Untuk tahun 2015 ini, I haven't made the list. 
But this is what I hope to achieve around Jan-Feb.
1. Starting the year with flawless GPA of 4.0 (good luck for my finals)
2. Visiting Sumatera Barat before intern in Sumbawa.



I'm going to Yogyakarta this month btw :D

Buat saya, my live goal is to be happy.
2014 brought so much happiness to me. I am very grateful for that.

Terima kasih untuk semesta atas segala macam karyanya yang memberikan banyak sekali kebahagiaan untuk saya.


Readmore → Happy New Year!

Thursday, December 4, 2014

Belajar Ikhlas

Dulu, guru agama saya waktu SMP pernah menceritakan tentang tingkat keikhlasan seseorang. Menurut cerita beliau, ada 4 tingkatan keikhlasan seseorang -- saya hanya ingat 3 diantaranya.
1. Orang yang menyalahkan orang lain atas hal yang terjadi padanya
2. Orang yang menyalahkan diri sendiri atas hal yang terjadi padanya
3. Orang yang menerima bahwa setiap hal yang terjadi adalah karena itu harus terjadi -- selain juga karma tentunya.

Paling baik tentu mereka yang tidak menyalahkan baik orang lain maupun dirinya sendiri atas apa yang terjadi, melainkan menerima semuanya sebagai hal yang harus terjadi.

Contoh umum masalah keikhlasan di atas adalah kekecewaan. Kecewa biasanya terjadi karena kita punya harapan yang lebih tinggi daripada yang kita terima. Ketika seseorang bilang kalau kita membuatnya kecewa, bukan hal yang tepat untuk kita menyalahkan diri sendiri. Jangan salahkan orang lain saat dia tidak bisa memenuhi harapan kita. Ingat, kita yang memilih untuk menaruh harapan pada mereka. Jadi saat kita kecewa, salahnya tidak pernah sepenuhnya ada pada orang lain, sebagian juga ada pada kita.

Saya menulis ini untuk seorang teman yang sedang berpikir kalau dia sudah sangat mengecewakan seseorang dan tidak pernah sadar bahwa yang dia lakukan tidak seburuk itu. Untuk seorang teman yang terperangkap paradigma bahwa kekecewaan disebabkan hanya oleh aksi di satu pihak, paradigma bahwa 'korbannya' sangat lemah dan tidak berdaya dan tidak seharusnya dikecewakan. Untuk seorang teman yang lupa kalau setiap orang adalah pengambil keputusan untuk setiap tindakan yang diambilnya--termasuk tidakan untuk bertaruh harapan.

Every single thing that happen to us is just a lesson to make us better.
Life will be much happier if we can let go either the good or bad thing that passing by. Basically, they're passing by just to see if we're alive or not :D

Good night!
Readmore → Belajar Ikhlas

Monday, November 17, 2014

Saturday Soccer

Malam minggu kemarin (15/11) adalah kali pertama saya nonton pertandingan sepak bola secara langsung di stadion. Senangnya lagi, pertandingan pertama yang saya tonton adalah Tim Nasional (Timnas) Indonesia yang sedang uji coba dengan timnas Syria. 

I think i am quite lucky. Tiket pertandingan kemarin dibayari Kak Bayu. Oya, tiketnya saya beli online pakai kartu kredit kakak saya. Teman nonton saya, junior saya waktu SMA, dengan baik hati rela gak jadi rapat dan nonton konser paduan suara di kampusnya hehe. 
Booking confirmation e-mail yang harus ditukar menjadi tiket
Tiket Pertandingan
Dari Epicentrum, Kuningan saya naik Trans Jakarta, transit di Dukuh Atas, kemudian lanjut ke arah Blok M dan turun di halte Gelora Bung Karno (GBK). Di halte Dukuh Atas saya sudah bertemu dengan beberapa suporter timnas--which I recognized from the shirt they wore, red jersey. Rasanya senang sekali, saya sudah bikin plan di kepala: nanti kalo sampai GBK saya masih takut tukar tiket sendirian, saya mau ngikut abang-abang ini saja. hahahaha. 

Turun dari halte GBK, benar saya mengikuti mereka karena sebenarnya saya gak tahu pintu 1 atau 12 itu dimana, tempat tukar tiket dimana juga saya gak tahu. Untungnya, selalu ada bapak bapak security yang bisa bantu kita di tempat publik. Setelah dikasih petunjuk arah sama bapak security tadi, saya langsung ke arah Pintu 9 di Kantor Liga Pendidikan Indonesia. Saya kira petugas tiket tidak akan ada ramah ramahnya, jutek, galak dan sebagainya. Tapi ternyata semuanya salah, panitia penyelenggaranya ramah ramah semua. Mirip seperti tukar tiket buat nonton konser pelayanannya, tapi tanpa antrian panjang.

Sensasi nonton timnas di GBK sangat terasa walaupun stadion tidak penuh, mungkin karena ini pertama kali saya nonton. Kalau stadionnya penuh, pasti magical banget itu suasananya terutama pas singing national anthem, Indonesia Raya. 

Ini beberapa foto yang sempat saya ambil dengan handphone saya. Kualitasnya memang jauh dari bagus, tapi ya sudah lah, yang penting saya punya bukti sudah habis nonton hehehe. Saya pasti akan nonton lagi. Entah laga timnas lagi, final ISL, atau mungkin bahkan World Cup. Semoga ada kesempatan :D

Semangat untuk Timnas Indonesia! Walalupun kemarin uji coba kalah 2-0, semoga bisa perform lebih baik di AFF nanti. IN-DO-NE-SIA!!


Menyanyikan Indonesia Raya


Stadion Gelora Bung Karno





Readmore → Saturday Soccer

Saturday, October 18, 2014

Jakarta – Bali Paling Murah: Naik Kereta

Sebagai mahasiswa rantauan di Jakarta, saya biasanya pulang ke Bali naik pesawat yang dalam 2 jam sudah sampai tujuan. Tetapi, Minggu, 5 Oktober 2014 kemarin untuk pertama kalinya saya pulang ke Bali naik kereta dan disambung dengan menumpang kapal nyebrang selat Bali. Well, this is my first long-solo-trip. Ya, saya pergi sendirian! Melihat perawakan fisik saya yang lebih mirip anak SMP ketimbang mahasiswa, seperti biasa semua orang meragukan dan mengkhawatirkan keberangkatan yang sudah direncanakan 1 bulan sebelum hari-H ini. Mulai dari teman-teman di kampus hingga ibu saya yang paling panik dan hampir mau marah (untungnya Bapak dan Kakak mau mengijinkan).

Merencanakan perjalanan Jakarta – Bali sebenarnya sangat sederhana. Rutenya adalah sebagai berikut.
  1. Stasiun Jakarta Kota – Stasiun Surabaya Gubeng (dengan kereta Gaya Baru Malam Selatan) (update 26 Des 2015, Kereta Gaya Baru Malam Selatan sekarang berangkat dari Stasiun Pasar Senen)
  2. Stasiun Surabaya Gubeng – Stasiun Banyuwangi Baru (dengan kereta Mutiara Timur Siang) *Update 26 Des 2015, alternatif kereta dari Stasiun Surabaya Gubeng ke Stasiun Banyuwangi Baru bisa naik kereta ekonomi AC Probowangi yang berangkat pukul 4.23 dengan harga tiket Rp68.000,00. Tetapi sayang sekali tiketnya tidak tersedia online di website PT KAI, harus beli di loket.
  3. Stasiun Banyuwangi Baru – Pelabuhan Ketapang (jalan kaki kurang 5 menitan)
  4. Pelabuhan Ketapang – Pelabuhan Gilimanuk, Bali (dengan kapal)

Kedua tiket kereta api tadi bisa dibeli secara online di situs PT. KAI (kereta-api.co.id). Sedangkan tiket penyebrangan Ketapang – Gilimanuk bisa dibeli on the spot di pelabuhan. Rinciannya,
  1. Tiket kereta ekonomi AC Gaya Baru Malam Selatan harganya Rp55.000,00 berangkat pukul 10.30 dan sampai di Surabaya pukul 00.50 (sekitar 15 jam) untuk keberangkatan tanggal 5 Oktober 2014. (Update 26 Des 2015, harga tiket Rp110.000,00)
  2. Tiket kereta bisnis Mutiara Timur Siang (hanya tersedia bisnis dan eksekutif) harganya Rp140.000,00 berangkat pukul 09.00 dan sampai di Banyuwangi pukul 15.30 (sekitar 7 jam) untuk keberangkatan tanggal 6 Oktober 2014.
  3. Tiket penyebrangan Ketapang – Gilimanuk harganya Rp8.000,00 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Penyebrangan ini buka 24 jam, jadi jangan takut ketinggalan/kehabisan kapal.

Tiket Kereta

*Jangan lupa untuk memperhatikan tanggal keberangkatan kedua tiket kereta yang dibeli. Salah-salah bisa saja kita malah membeli dua tiket di tanggal yang sama padahal saat kita sampai di Surabaya tanggalnya sudah berganti hehe.

Ada jeda waktu yang cukup lama (sekitar 8 jam) untuk keberangkatan kereta ke Banyuwangi. Kalau saya sih kemarin cukup beruntung punya teman SMA yang kuliahnya di Surabaya dan tempat tinggalnya dekat dari stasiun Gubeng. Dia dengan baik hati mau jemput jam 1 pagi di stasiun, menampung saya semalam, dan mengantarkan saya ke stasiun lagi besok paginya. Kalau tidak ada teman atau saudara yang bisa dijadikan tempat transit, bisa kok bermalam di stasiun. Beberapa penumpang yang saya kenal kemarin pada tidur di stasiun. Tapi kalau anda cewek dan pergi sendirian, ini kurang dianjurkan. Kalau tidak salah sih ada juga kereta ke Banyuwangi yang berangkatnya jam 04.30, tapi saya gak dapat tiketnya kemarin.

Kondisi Kereta

Dulu sering diberitakan kalau kondisi kereta ekonomi itu sembrawut, sesak, rawan kriminal, dan segala macam hal-hal kurang menyenangkan lain. Itu juga yang bikin ibu saya tadinya khawatir dan panik banget. Nah, yang saya temukan selama 15 jam perjalanan saya ke Surabaya, sih, kereta ekonomi AC itu ga seburuk yang diberitakan dulu. Sekarang sudah ada AC-nya, gak panas lagi! Tempat duduknya pakai nomer, ga ada rebutan atau gak kebagian tempat duduk lagi. Bahkan, ada colokan! Powerbank pinjaman teman kosan saya gak kepakai sepanjang perjalanan hehehe. Gak usah khawatir rebutan colokan, rata-rata penumpang kereta ekonomi carang ngecas gadget, kok. Tempat duduk kereta ekonomi hadap-hadapan, 2 – 2 dan 3 – 3. Satu lagi, di kereta sekarang sudah gak ada lagi pedagang asongan yang masuk di tiap stasiun. Yang jualan di kereta itu cuma petugas kereta. Mereka biasanya bolak balik lewat menawarkan nasi goreng/nasi rames/pop mie/air mineral. Nasi goreng/nasi rames dijual Rp15.000,00 seporsinya sedangkan bundling popmie dan air mineral dijual Rp9.000,00.


Nasi Goreng di Kereta Ekonomi

Kondisi di dalam gerbong Kereta Ekonomi

Kondisi di dalam Gerbong Kereta Ekonomi
Perbedaan mendasar antara kereta ekonomi AC dan bisnis adalah tempat duduknya. Kalau kereta ekonomi tadi duduknya hadap-hadapan, di kereta bisnis kita duduknya kayak di bus/pesawat. Ruang kakinya lebih luas, duduknya berdua berdua tapi kursinya cukup lebar kok. Disini makanannya lebih variatif dan dijual lebih mahal. Mulai dari makanan berat sampai makanan penutup. Nasi goreng di kereta bisnis harganya Rp 25.000,00, pakai piring porselen dan gak pake sendok plastic lagi kayak di kereta ekonomi hehehe. Ada colokan juga! 2 colokan di setiap sisi, jadi ga bakal rebutan colokan juga di sini hehe. Sama seperti di kereta ekonomi, di kereta bisnis juga ada penyewaan bantal dengan rate yang sama yaitu Rp5.000,00 per bantal.
Nasi Goreng di Kereta Bisnis

Kondisi di dalam Gerbong Kereta Bisnis
Colokan di Gerbong kereta Bisnis
Bantal yang Disewakan di Kereta
Home in Hours

Stasiun akhir tempat kita berhenti adalah Stasiun Banyuwangi Baru. Dari sini kita Cuma perlu lurus keluar stasiun, menyebrang jalan raya dan terus kearah kanan. Kurang dari 50 meter kita sudah sampai di pintu pelabuhan! Horeeeee! Saya senang sekali waktu itu. Kemudian kita tinggal masuk ke pintu khusus penumpang, beli tiiket, dan langsung menuju kapal. Wooohooooo! Di kapal kita cuma harus menikmati sore, angin, ombak, langit. Semuanya jadi indah ketika sudah mau sampai rumah hehehe (padahal masih harus naik mobil 1.5 jam lagi dari gilimanuk ke rumah). Sesampainya di Gilimanuk, saya dijemput Ibu, Bapak, dan Adik saya. Pesan saya, sampai di sini jangan lupa mampir di Ayam Betutu Men Tempeh. Itu ayam betutu paling enak dan sudah terkenal juga.
Pintu Masuk Penumpang Pelabuhan Ketapang

Langit Ketapang dari Atas Kapal

Keluar Kapal, Sampai di Pelabuhan Gilimanuk
Nah, sekian cerita saya mengarungi Pulau Jawa dan Selat Bali sendirian. Semoga bisa menjadi referensi perjalanan anda berikutnya. Kalau saya saja bisa, masa anda engga? :D


Kuningan, 17 Oktober 2014

Readmore → Jakarta – Bali Paling Murah: Naik Kereta

Saturday, January 5, 2013

Matur Piuning

This photo was taken around 5 months ago in my Sanggah Merajan (a family temple). This ritual was done to tell my ancestors that I will be far away from home to continue my study here in Jakarta. Well, that is a common ritual a Balinese Hindu does before they leave their homeland for several long time.
We did this after doing Galungan ceremony.

The woman beside me is Ibu, my mom. She is beautiful, i know B)


Readmore → Matur Piuning