Wednesday, February 24, 2016

Sebongkah Cerita dari Batu Hijau

Apa rasanya 8 hari mengikuti Newmont Bootcamp? 

Senang sekali! dan...lelah~ kegiatan kami di tambang padat sekali kakak.. Bangun pagi pulang malam :p tapi percayalah, semuanya terbayar bahkan melampaui ekspektasi saya. Kegiatan kami selalu dimulai sebelum pukul 6 pagi dan biasanya baru benar-benar bisa istirahat pukul 10 malam (bahkan ada hari-hari yang baru bisa tidurnya pukul 1 pagi).

Jadi bagian senangnya di mana?

Jelas banyak. Pertama, saya sangat senang bisa melihat langsung bagaimana operasi tambang dijalankan, melihat truk monster, dan terkagum-kagum dengan besarnya industri ini. Kedua, banyak fakta baru tentang pertambangan yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya (misal: reklamasi bukanlah satu hal kecil, ada waktu, tenaga, dan yang tidak sedikit diinvestasikan untuk mewujudkannya; ada driver haul truck perempuan; etc). Ketiga, bisa melihat sendiri apakah yang mereka (PTNNT) sampaikan di media sosialnya tentang kesungguhan terhadap lingkungan dan sosial sekitar tambang hanya pencitraan atau tidak. Keempat, bertemu dengan orang-orang hebat dari berbagai latar belakang, saya banyak sekali belajar dari mereka. Kelima, bisa menikmati indahnya alam Sumbawa (yang walaupun panas sekali ternyata, hehe).

***

What did You See in Batu Hijau Mining Site?

1. Mulai dari bagaimana teraturnya hidup di dalam lingkungan tambang.
Semua orang yang berada di area tambang punya ID Card yang harus digunakan ke mana pun. Kalau mau makan, harus scan ID Card, mau keluar atau masuk area tambang pun harus scan ID Card. Jadi kalau ID Card-nya hilang, ya gak bisa makan, gak bisa kemana-mana. (Sayang sekali gak ada foto ID Card, habis nama saya salah sih ._.)

Wajib Sabuk Pengaman
Selain itu, tidak sembarang orang boleh mengendarai mobil di area ini (motor gak boleh masuk, ya). Mereka harus punya SIM yang di keluarkan oleh PTNNT sendiri. Bagian yang membuat saya kagum adalah setiap orang yang berkendara di sini sangat taat pada rambu lalu lintas. Mereka berhenti di setiap tanda stop, membunyikan klakson 2 kali saat akan maju, membunyikan klakson 3 kali saat akan mundur, memastikan penumpang bus memakai seatbelt, berkendara dengan kecepatan sesuai batas yang ditentukan (walaupun jalannya sepi, mereka tetap ada di dalam batas). Bahkan, ketika kami keluar area tambang, driver bus yang kami tumpangi tetap melakukan kebiasaan mereka dalam hal mengklakson. 

Wondering how did they do it? Well, kalau driver melanggar peraturan berkendara, SIM (issued by PTNNT) mereka akan dilubangi. Kalau lubangnya sudah 3, berarti mereka gak boleh bawa kendaraan lagi di sana yang juga berarti...they will lose their job (kalau pekerjaannya adalah sebagai driver). Mengingat operasi pertambangan memang penuh risiko dan harus dijalankan dengan menjunjung tinggi keselamatan kerja, keteraturan dalam berkendara memang sudah seharusnya menjadi suatu hal yang wajib. (Tapi tetap saja menurut saya ini keren sekali, apalagi dibandingkan dengan kelakuan pengendara di jalanan ibu kota...)
Jejer-jejer lucu

2. Huge haul truck and the big great hole.
Meskipun sudah jadi mahasiswa tahun terakhir (yang telat yudisium karena lebih memilih ikut Newmont Bootcamp), ada jiwa anak anak yang selalu senang melihat hal-hal imajinatif dari masa kecilnya di depan mata. Salah satunya adalah haul truck, truk berkapasitas 240 ton yang digunakan untuk mengangkut batuan yang mengandung mineral (tembaga, emas, perak) dari lubang tambang menuju mesin penghancur (crusher). When I saw it, i feel like "OMG! It's real! I see the monster!". Belum bisa membayangkan haul truck sebesar apa? Take a look at the pic. Bahkan kita bisa duduk duduk manis ngadem di kolong truk ini (jangan diikuti, kemarin kami kena marah :p haha). Tebak berapa harga ban truk monster ini! Clue: seharga city car yang bagus atau mungkin lebih. Satu haul truck punya 6 ban yang dipakainya cuma tahan sampai 6 bulan. Oya, melihat Ford Ranger putih diparkir berjejer rapih juga salah satu hal yang bikin saya senang. 

The Monster Truck
Monster Truck and Me
Monster Truck and Me (2)
Menuju Pit
Hal lain yang juga menakjubkan menurut saya adalah lubang tambang. Guede! Dalamnya sampai -240m, diameternya sampai 2,7 km. Dan kalau diintip dalamnya ada genangan air berwarna turquoise. Cantik. Fyi, genangan air itu ada akibat hujan haha. Kalau dilihat-lihat sih, lubang tambang ini mirip stadion bola. Ya kan?

Mine Pit
3. Long way to produce concentrate.
Sebelum datang ke Batu Hijau, pernah sih saya baca tentang bagaimana proses penambangan yang dilakukan PTNNT di websitenya. Tapi karena belum pernah melihat tambang secara langsung, pemahaman saya masih parsial. Terbayang sih, tapi setelah dilihat langsung, ternyata prosesnya lebih menarik daripada penjelasan booklet yang saya download. Dari yang saya baca, saya tahu PTNNT menghasilkan konsentrat, bukan emas batangan, tapi sejujurnya saya tidak pernah terbayang bentuk konsentrat seperti apa, bagaimana disimpannya, dan sebanyak apa yang disimpan.

Untuk menghasilkan konsentrat, proses awalnya adalah proses penambangan yang dimulai dengan kegiatan pengeboran dan peledakan. Kegiatan itu menyebabkan terlepasnya batu-batuan berukuran relatif besar (diameter sekitar 25 cm). Batuan tersebut kemudian diangkut oleh haul truck menuju mesin penghancur sehingga batuannya jadi makin kecil (diameter kurang dari 15 cm). Bijih batuan ini selanjutnya diangkut ke pabrik pengolahan dengan bantuan ban berjalan (conveyor). Di sini, bijih digerus menjadi partikel halus. Untuk memisahkan mineral berharga dari pengotornya, dilakukanlah proses flotasi secara fisika yang tidak menggunakan zat kimia berbahaya dan hanya dalam jumlah terbatas. Pada proses ini akan terbentuk gelembung-gelembung udara yang mengambang ke atas wadah flotasi. Gelembung tadi adalah tempat menempelnya mineral berharga. Nah, mineral berharga yang menempel pada permukaan gelembung inilah yang disebut konsentrat. Tapi sebelum siap dikirim ke berbagai tempat untuk menjalani proses pemisahan dan pengambilan logam berharga, konsentrat ini harus dikeringkan terlebih dahulu sehinga bentuknya menjadi seperti pasir yang sangat halus dengan kilau-kilau jika terkena cahaya.
Batuan (diameter < 15 cm) sampai di Concentrator Plant
Mill untuk menggerus batuan menjadi partikel halus
Walking around Concentrator plant

Proses Flotasi, Gelembung Berselimut Konsentrat

Konsentrat mengandung sekitar 25-30% tembaga, 10-15 ppm emas. Atau sederhananya dalam 1 ton konsentrat ada 250-300 kg tembaga, 10-15 gram emas.

Eh tapi belum selesai di sana. Ada hal lain yang tak kalah penting untuk diurus selain tembaga, emas, dan perak yang tadi didapat: tailing. Tailing adalah lumpur yang tersisa dari proses flotasi. Tailing ditempatkan di bawah wilayah laut yang produktif secara biologis melalui pipa sepanjang 6 km di darat dan 3.4 km dari garis pantai hingga tepi palung laut di Teluk Senunu. Tailing akan turun dengan sendirinya ke palung laut karena kepadatan dan berat jenisnya. Tailing tidak dibiarkan begitu saja. Penempatannya di dasar laut selalu dipantau secara berkala untuk memastikan dampak potensial yang minimal bagi lingkungan (terumbu karang, biota laut, mutu air).
Tailing, wujudnya seperti lumpur
Sistem Pipa Tailing
Jadi, terbayang kan sekarang, kenapa harga logam-logam itu mahal? Harga jualnya harus menutup selain biaya proses penambangan dan pengolahan, tetapi juga biaya untuk penempatan dan pemantauan tailing, serta biaya yang harus mereka keluarkan untuk mereklamasi area tambang. Belum lagi biaya untuk CSR...
Gunung Konsentrat di Benete, Ready to Ship
4. Reklamasi bukan perkara ringan
Reklamasi adalah salah satu topik yang menurut saya sangat menarik untuk dibahas. Intinya sih, reklamasi merupakan upaya untuk mengembalikan lahan yang dibuka untuk pertambangan sehingga risiko rusaknya lingkungan bisa diminimalkan. Hinggal tahun 2013, PTNNT telah mereklamasi 725 hektar lahan dari total 2,532 hektar lahan yang dibuka. 
Karena saya sangat excited menceritakan apa yang saya lihat tentang reklamasi di Batu Hijau, selengkapnya akan dibahas dalam satu artikel tersendiri (which will be posted soon!).

Lahan yang baru direklamasi akhir 2015
5. Transparansi
Selama di Batu Hijau, peserta Newmont Bootcamp bisa bertanya apa saja tentang seluk beluk tambang. Semua pertanyaan tersebut dijawab oleh pakarnya dengan sejelas mungkin. Kami pun diberikan kesempatan berkunjung ke kantor-kantor mereka, melihat langsung apa yang mereka kerjakan. 
Ruang kontrol concentrator

Peserta selalu sangat bersemangat untuk bertanya di setiap bagian yang kami datangi. Bagaimana tidak? Tambang bukanlah hal yang umum dijamah. Kesempatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk benar-benar mengenal tambang. Banyak diantaranya membawa buku catatan kecil, ada juga yang ketik-ketik di note smartphone-nya, bahkan ada yang lebih niat lagi, Ibu Evi (mungkin karena sudah begitu berpengalaman urusan menggali informasi) sampai punya semacam voice recorder kecil yang beliau gantungkan di leher. I wish I had one, hehe. 

Tulisan ini hanya sebongkah dari apa yang saya temukan di Batu Hijau. Akan ada lebih banyak banyak lagi hal yang akan saya ceritakan tentang Newmont Sustainable Mining Bootcamp kemarin.  I labelled it #NewmontBootcamp.

See you on the next post!

Menteng Atas, 24/02/2016

Kadek Dwika
Readmore → Sebongkah Cerita dari Batu Hijau

Tuesday, February 16, 2016

Tentang #NewmontBootcamp

Definition of Bootcamp form Merriam-Webster Dictionary
Bootcamp yang ini beda, gak seseram kedua definisi di atas kok. Newmont Sustainable Mining Bootcamp diselenggarakan oleh PT. Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) dengan tujuan untuk lebih 'memasyarakatkan' tambang. Tambang selama ini dipenuhi dengan stigma negatif karena kurangnya informasi aktual yang diterima masyarakat luas. Dengan tujuan tadi, perusahaan tambang tembaga di Kabupaten Sumbawa Barat ini mengundang berbagai kalangan masyarakat untuk menyaksikan langsung apa yang sebenarnya mereka kerjakan di Batu Hijau Site dan bagaimana pengelolaannya baik dari aspek operasional tambang, pengelolaan lingkungan, dan hubungan dengan masyarakat sekitar.

Saya berkesempatan untuk mengikuti #NewmontBootcamp batch 5 dari tanggal 14-22 Februari mendatang. Selama 7 (+2, hari pertama dan terakhir tidak dihitung karena tidak ada kegiatan, hanya perjalanan menuju Sumbawa dan kembali ke kota asal masing-masing) hari tersebut, para peserta diajak untuk melihat berbagai hal terkait tambang Batu Hijau. Hari ini adalah hari pertama kami. 

Seluruh transportasi dan akomodasi ditanggung oleh perusahaan. Namun yang sangat penting harus diketahui bahwa para peserta tidak dibayar, mereka hanya diharapkan untuk dapat membagi pengalamannya kepada orang-orang. Peserta juga dibebaskan untuk mem-post hal apapun yang mereka temukan di sini. Baik maupun buruk. Saya pribadi sebagai peserta sih dengan senang hati membagikan pengalaman karena menurut saya berbagi hal informatif itu baik. Dan jujur saja foto-foto yang diambil disini terlalu irresistible buat gak dipost di instagram hehehe. 

Tertarik? Lebih baik sih langsung cek di website PTNNT, atau follow akun sosial media mereka di twitter, facebook, dan instagram

Saya saking pinginnya ikut kegiatan ini sampai nungguin sekitar setahunan hehe. Akhirnya kesampaian juga.


Sumbawa, 15 Februari 2015

Kadek Dwika Y.

P.S. tulisan ini dibuat sebagai penjelasan singkat atas tulisan-tulisan saya selanjutnya yang tentang #NewmontBootcamp
Readmore → Tentang #NewmontBootcamp

Tuesday, December 29, 2015

Snorkeling di Menjangan

Jadi begini toh rasanya dikejar deadline tulisan. Well, sebenarya gak ada yang ngejar saya sih. Cuma target ngelarin urusan blog ini adalah prasyarat buat bisa mulai mengerjakan task yang lain seperti proposal tugas akhir dan juga tugas-tugas kuliah lainnya. Hahaha.

Okay, let’s start!

Tulisan saya kali ini adalah tentang #latepost Snorkeling di Menjangan, Bali tahun 2014 kemarin.

Kenapa baru naik?
Karena waktu itu itinerary liburan panjang, gak sampat jadi nulis keburu lupa, cuma sempat post post lucu di sosmed aja hahaha. Tapi gara-gara Mega kemarin habis snorkeling di Pemuteran (sister spot Menjangan yang tapi jauhhhh lebih bagus menjangan) terus ngirimin foto-foto underwaternya, saya jadi gatel kepingin post. Pengen pamer kalau di Menjangan lebih bagus lagi dan Mega wajib kesana. Sama saya. Hahaha.

Nah, buat membuktikan kalau Menjangan itu benar-benar surga buat snorkeling (terutama buat beginner macam saya, yang baru pertama kali snorkeling), nih saya kasih foto-fotonya. Foto ini diambil sama guide kami dengan kamera sewaan. Nyewanya di mereka juga haha.



Udah kebelet pengen ke Menjangan?

Hahahha. Tapi sayangnya bulan-bulan segini tuh musim hujan, jadi kurang disarankan. Paling baik ya pas summer. Mulai Juni sampai September. Atau pas enggak hujan deh intinya. Tau lah ya sekarang musim hujan sudah berubah, dia datang dan pergi sesuka hati gak lagi pakai jadwal.

Waktu itu kami pergi ber 5, total habis sejutaan. Bisa dilihat di gambar kuitansinya. Yang paling mahal ya sewa perahunya, makanya kalo kesini rame-rame, jadi lebih murah. Kalau enggak salah, perahunya bisa muat 8-10 orang loh! Jadi jauh lebih murah kan.
Kuitansi (terbilangnya salah, kami nambah life jacket soalya hehe)

Walaupun bisa dibilang agak mahal kalau dibandingin snorkeling yang cuma modal sewa snorkel Rp25.000 dan langsung nyemplung ke laut, ya bisa liat sendiri lah viewnya gimana. Bahagia lah di dalem sini. Saya dengan bodohnya nyoba nangkepin ikan ikan yang seliweran di sekitar saya, tapi ya, enggak bisa, ikannya lebih pandai renang.

Wika berusaha menggenggam ikan
Oya, ngomong-ngomong soal renang, saya gak bisa berenang kok. 2 teman perempuan saya yang lain juga gak bisa. Makanya di kuitansi ada sewa 3 pelampung. Nah pelampung itu menjaga kami tetap di permukaan tapi bisa tetep menikmati indahnya bawah laut Menjangan~
Jadi kalau pada enggak bisa renang, ga usah khawatir! Kita sama kok ;)
Tapi saya bertekad buat belajar renang. Mega ngutang janji buat ngajarin saya renang. HAHAHAHA

How to get there?

Ada beberapa tempat buat sewa kapal dan perintilan snorkeling. Yang paling mudah dijangkau itu adalah yang di pinggir jalan raja Gilimanuk-Singaraja. Gampang kok nemunya, luruuus aja ikutin jalan dari singaraja ke arah Gilimanuk. Tempatnya masih lurusan lagi dari Pura Pulaki. Nanti di kanan jalan ada deh itu papan tandanya.

Setelah parkir, dateng deh ke loket. Bilang ke penjaganya mau sewa apa aja. Oya, disini gak usah tawar-tawar lagi karena sudah dikelola pihak setempat. Tarifnya sudah ditentukan. Setelah bayar, lanjut deh ambil alat-alatnya sesuai ukuran kita.

Me! Hahahha
Daaaaan, we’re ready to sail! Hahahaha. Selama kita snorkeling itu ditemenin seorang guide lokal. Sebelum turun, kita juga dikasih briefing singkat tentang how-to-this-and-that-nya kok. Jujur, 30 menit pertama saya habiskan untuk beradaptasi dengan snorkel dan caranya napas biar nyaman hahahaha. Baru sejam selanjutnya bisa kesana-kemari ala ala berenang wkwk. Kita boleh snorkeling disini sampai tepar eh 3 jam deh kata guidenya. Tapi saya baru satu setengah jam udah naik lagi ke perahu. Lelah~ hahahaha

Hi!
Secara keseluruhan, I really recommend you guys to try this spot!!!!

Bagus banget.

Semoga saya punya kesempatan lagi buat snorkeling di spot-spot bagus lain. Bunaken? Hehehehe.

Menteng Atas, 29 Desember 2015
Kadek Dwika

Readmore → Snorkeling di Menjangan

Saturday, December 26, 2015

Yogyakarta Sightseeing

Jakarta-Jogja naik kereta bukanlah sesuatu yang asing. Ada banyak kereta ekonomi yang bisa ditumpangi di jalur ini seperti kereta Gajahwong, Gaya Baru Malam, Begawan, Jaka Tingkir, Krakatau, Bogowonto, dan Progo. Harga tiketnya pun bervariasi dari Rp75.000 hingga Rp220.000 dan semuanya bisa dibeli secara online. Tapi kereta yang tiketnya paling ramah untuk mahasiswa seperti saya adalah kereta Bengawan dan Progo.

Kedua kereta ini berangkat dari Stasiun Pasar Senen (PSE), Jakarta dan berakhir di Stasiun Lempuyangan (LPN), Yogyakarta. Bedanya adalah harga tiket dan waktu keberangkatan.
  • Kereta Bengawan berangkat pukul 11.30 dan tiba pukul 19.50 (8 jam 20 menit) dengan harga tiket Rp80.000.
  • Kereta Progo berangkat pukul 22.30 dan tiba pukul 06.55 (8 ham 25 menit) dengan harga tiket Rp75.000.

Kalau ada long weekend, dan sedikit budget, boleh lah main ke Jogja. Tapi berhubung Jogja adalah salah satu tujuan wisata favorit, lebih baik pesan tiket jauh-jauh biar kebagian.
Tiket Kereta Jakarta - Jogja

Di post ini saya sempat menulis sedikit tentang perjalanan dan liburan singkat ke Jogja. Sejujurnya, karena pergi sendiri dan memang tidak berniat adventure ala-ala, saya sih menghabiskan 4 hari di sana untuk melihat-lihat kota. Hanya jalan-jalan. Merasakan hidup jadi warganya Jogja dalam 4 hari 3 malam.

Selama 3 malam kemarin saya menginapnya di EDU Hostel. Tarif semalamnya cuma Rp80.000 untuk single bed di female dorm-nya dengan pelayanan yang menurut saya cukup baik. Mereka juga punya rooftop yang bagus. Boleh dicoba deh nginap disini.

Rooftop EDU Hostel
Ini pertama kali buat saya menginap di dorm, bertemu perempuan-perempuan dari berbagai daerah bahkan negara.  Hari pertama di dorm, saya kenalan sama 3 orang kakak-kakak backpackers dari Malaysia. Hari berikutnya, bertemu dengan mahasiswa Jakarta yang juga sedang solo traveling, bule Poland, Mba karyawan dari Surabaya, dan Ibu-ibu yang agak jutek dan saya gak tau dari mana. Senang sekali bisa bertemu dengan mereka. 
Parkir Ngabean, disitu ada Halte Trans Jogja.
Dekat hostel tinggal jalan dikit.

Oya, lokasi hostel sendiri memang cukup strategis, dekat dengan stasiun dan halte bus Trans Jogja. Jadi selama di sana saya banyak jalan kaki dan naik Trans Jogja hehe.



Orang-orang Jogja ramah-ramah. Seperti orang-orang Indonesia pada umumnya. Kotanya juga ramah buat dikunjungi. Entah hanya perasaan saya, tapi rasanya sih ambiance kota Jogja memang rendah hati dan menenangkan, enak buat jalan kaki, melihat-lihat. Jelas beda jauh sama kota Jakarta yang, ya...begitulah. Tapi tetep sayang Jakarta kok, hehe.

Semoga Jogja tetap menjadi kota yang tenang, rendah hati, sederhana. 

Menteng Atas, 26 Desember 2015
Kadek Dwika
Readmore → Yogyakarta Sightseeing

Monday, September 21, 2015

#VisitBuki TK SAAJA

Bermula dari tweet salah satu akun popular yang sering memberikan informasi untuk anak muda, saya akhirnya mendaftar menjadi volunteer salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh Komunitas BukuBerkaki (Buki). Sebelum memutuskan untuk mendaftar, saya sempatkan membuka laman web Buki untuk memastikan bahwa saya masuk ke komunitas yang benar. Lucky me! Keinginan beberapa tahun lalu untuk bisa jadi volunteer akhirnya didukung semesta melalui jadwal kuliah yan

g banyak kosong dan link google form untuk mendaftar komunitas yang benar benar menarik untuk saya. Komunitas pencita buku yang peduli pada minat baca anak muda. Saya sendiri, sih, enggak cinta-cinta banget sama buku, tapi kalau pergi kemana-mana sendirian selalu bawa buku, kok – buat dibaca tentunya. Hehehe.

Sehari sebelum kegiatan, akhirnya saya diundang ke grup chat Line Buku Berkaki dan diberikan penjelasan singkat untuk kegiatan hari Sabtu (19/9) oleh kakak-kakak Krucil yang semuanya ramah-ramah sekali! Sebagai anak baru, senang sekali rasanya bisa diterima dengan sangat ramah dan terbuka.

Pada hari berikutnya (19/9), hari-H kegiatan, kami bertemu langsung di TK Saaja. Anak-anak Saaja sudah ramai datang sebelum Krucil-Krucil sampai. Ada 44 anak, riweuh sekali! Setelah semua Krucil sampai, kegiatan dimulai dengan pengarahan dari ibu guru-ibu guru Saaja yang membariskan anak anak. Satu per satu Krucil memperkenalkan diri dan disapa juga oleh adik-adik TK Saaja. I am so excited!

Ada empat kegiatan utama yang dilakukan disini, yaitu, penyerahan buku-buku bacaan yang dipinjamkan Buki, mendongeng, bermain games, dan senam. Secara simbolis, buku diserahkan oleh Kak Icha kepada salah satu ibu guru TK Saaja. Selanjutnya adik-adik TK Saaja yang sudah berbaris per kelompok langsung menyebar bersama Krucil pendampingnya untuk membaca dongeng. Saya baru tahu anak kecil bisa semangat sekali untuk mendengarkan cerita. Walaupun ada beberapa anak yang terlalu aktif sampai kadang suka main ke kelompok lain, adik-adik ini benar benar mengikuti dongengnya loh. Di akhir sesi mendongeng, adik-adik yang berani maju dan menceritakan kembali dongengnya akan diberikan hadiah. Mereka yang maju lucu sekali, banyak yang tampak malu-malu, ada yang lupa dongengnya, ada juga yang sangat aktif sampai rebutan ke depan.

Mendongeng
Pada sesi bermain games, adik-adik ini juga masih tampak sangat bersemangat untuk berlomba memasukkan potongan lego sesuai warnanya ke dalam gelas. Bagian sulitnya adalah mereka harus pakai sumpit! Tapi boleh pakai dua tangan, kok, pegang sumpitnya, hehe. Tim yang menang berhasil memasukkan 22 potong lego dengan benar dan mereka mendapatkan bingkisan lucu dari Buki. Yay!
Bermain games
Sesi selanjutnya – favorit saya! – senam yang seru sekali dipandu oleh Kak Cut. Adik-adik Saaja masih mengikuti dengan semangat sekali. Cuma lihat aja bisa bikin seneng, apalagi ikut senam sama Kak Cut. Krucil juga ikutan senam loh. Senam semi dance yang seru banget.
Event Summary

Kegiatan #VisitBuki diakhiri dengan penyerahan bingkisan ke seluruh adik-adik TK Saaja. My Saturday afternoon spent very well with Krucil dan adik-adik TK Saaja. Senang sekali bisa berbagi senyum dan tawa bersama mereka. Sure I will do this again! :)
Readmore → #VisitBuki TK SAAJA

Monday, June 15, 2015

Semester 6: When Life Just Started to be More Interesting

Sebenarnya pengen tulis “…When life just started to be more complicated.”

Sebenarnya juga sih, semester 6 ini justru lebih banyak habis untuk tidur dan bukannya sibuk-sibuk cari tempat kerja praktik (KP).

Bukan karena saya tidak memikirkan KP, lebih karena saya terlalu percaya diri.

Percaya diri yang pada akhirnya saya sadar dihancurkan oleh hal-hal remeh semacam salah tulis tahun pengajuan kerja praktik yang harusnya “2015” malahan tertulis “2014”. (Tapi pasti itu bukan satu-satunya faktor yang bikin saya gak pernah dapet email balasan, sih.)

Dan pada (sepertinya bukan) akhirnya, saya memutuskan melanggar berbagai konstrain KP yang sudah dibikin di akhir tahun kemarin. Jadilah saya apply di salah satu perusahaan Bakrie. Sudah  dapat mentor, tinggal ketemu pihak HRD.

Tiba-tiba, dosen membuka kesempatan untuk kami bisa ambil bagian (tentunya dengan seleksi dulu) dalam sebuah proyek BUMN. Kabarnya, kami akan diberikan kompensasi setara lulusan S1.
Pertama kali info itu disebarkan oleh ketua kelas sih, saya dengan mantap bilang “enggak ah, aku mau pulang aja J”.  Apalagi tiket pulang tanggal 2 Juli 2015 sudah di tangan saya sehari sebelumnya.

Tapi percakapan dengan kakak saya bisa mengubah segalanya. Percakapan ringan yang ujung-ujungnya ya menyadarkan bahwa saya terlalu manja belakangan ini. Bahwa saya sudah dewasa tapi sikapnya sama sekali belum dewasa. Bahwa saya harus belajar untuk menjadi dewasa, suka atau tidak suka.

Jadilah akhirnya CV dan transkrip akademik saya dikirimkan ke email ketua kelas.

Kemudian malah bingung lagi.

Yakin? Kalau keterima, nanti yakin mau diambil? Mending pulang.. Galungan di rumah… KP di Bakrie aja.. Nanti skripsinya lanjut hasil KP, sekalian.

Terus nelfon Bangkit. Hasil pembicaraannya: at the end of the day, you will regret something that you didn’t do rather than something you’ve tried and failed.

Sampai sekarang masih belum jelas. Berkasnya mau ditarik aja atau dibiarin. Besok harus nelfon bapak deh.

Ternyata, bukan cuma soal kuliah yang getting more interesting. Love live juga. Di akhir semester 6, saya harus KP dan Mega harus kuliah kerja nyata (KKN). Padahal sudah banyak sekali hal yang kami mau lakukan liburan nanti. Jalan-jalan, jajan lucu, main ke pantai, dan banyak daftar panjang couple things lainnya.

Sayang sekali, ketika bertukar jadwal, kami baru sadar kalau kami bahkan hampir tidak mungkin bertemu. Mega akan KKN selama satu setengah bulan di Desa Payangan, Bali mulai tanggal 1 Juli. Sedangkan saya, (dengan rencana awal KP di Bakrie) akan pulang tanggal 2 Juli dan balik lagi untuk KP tanggal 18 Juli atau (jike KP di proyek dari dosen) tidak pulang sama sekali.

Buat saya, this is torturing me :'(

Well, ya, life is getting more interesting di akhir semester 6.

Walaupun saya banyak tidur.

Good night J
Readmore → Semester 6: When Life Just Started to be More Interesting

Monday, May 25, 2015

Icarus

"Icarus is flying too close to the sun
Icarus's life, it has only just begun
This is how it feels to take a fall
Icarus is flying towards an early grave"

Read more: Bastille - Icarus Lyrics | MetroLyrics 

Itu potongan lagu yang tadi pagi saya gugling maksudnya apa. Bagus. Saya jadi tau sedikit soal Icarus. 

Tapi sebenarnya sih, tadinya, mau bahas GrabTaxi yang baru saya cobain kemarin. 

Ya, apa daya pikiran lagi agak kacau.

Pusing.

Mau Sidang Pertanggungjawaban a.k.a. SPJ ormawa kampus starting from this evening sampai 2 minggu kedepan. 

Sidangnya belum mulai, lelahnya udah berasa hahaha stupid.

Sebentar lagi Mei habis. New life started soon!

i need hugssss lol.

Ah, sudahlah, nanti aja balik lagi. 

I love you

Mega!

:p
Readmore → Icarus

Tuesday, January 13, 2015

I Demand Food!

Hari ini adalah 6 hari sebelum keberangkatan saya untuk main ke Yogyakarta. Besok saya masih harus ujian sampai Jumat. Masih ada 5 mata kuliah dan seperti biasa, jenuh. Karena di semester  5 ini ada 9 mat akuliah yang saya isi di KRS, jadilah terseok-seok begini kalau sudah musim ujian. Bukan karena susahnya, tapi karena kuantitasnya. Banyak sekali ujian yang harus dihadapi hahaha.

Ngomong-ngomong soal ujian, dunia penerbangan komersial negara ini juga sedang diuji, atau lebih spesifik lagi yang ingin saya bicarakan adalah Bapak Ignasius Jonan, Menteri Perhubungan Republik Indonesia. Setelah kecelakaan yang dialami salah satu pesawat Airasia, Pak Menteri disorot media untuk berbagai hal. Banyak sekali berita tentang beliau marah-marah karena pilot penerbangan pesawat yang jatuh itu tidak melakukan face-to-face weather briefing, atau berita tentang kebijakan Kementerian Perhubungan mengenai penghapusan tiket pesawat murah.

Banyak sekali orang yang langsung menghujat beliau atas dua berita yang saya sebutkan tadi. Tapi, alangkah baiknya kalau kita tidak semerta-merta berpikiran negatif pada beliau atau siapaun yang tengah diserang oleh pemberitaan yang kurang baik. Harus disadari bahwa selalu ada dua sisi dari suatu hal, baik dan buruk, menyenangkan dan kurang menyenangkan, dan lain sebagainya.

Tindakan marah-marah Pak Menteri ada benarnya kalau kita berkaca pada Jepang. Dosen saya senang sekali menceritakan pengalamannya selama beliau kuliah di Jepang. Salah satunya adalah di sana sangat dibudayakan untuk meyakinkan bahwa sesuatu telah dilakukan. Misalnya, ketika mematikan lampu di kelas, seseorang juga harus menyebutkan bahwa lampu itu mati sehingga tidak ada lagi kejadian di tengah jalan dia bimbang apakah lampunya sudah dimatikan atau belum. Atau cerita tentang petugas yang harus menyebutkan warna lampu yang menyala bukan hanya memencet tombolnya saja.

Mungkin begitu pula dengan para pilot yang sudah seharusnya menghadiri brifing cuaca sebelum berangkat. Tujuan diadakannya briefing cuaca mungkin adalah untuk meyakinkan mengenai prakiraan cuaca yang akan dihadapi penerbang yang tidak cukup hanya sekedar melihat rekap data cuaca online.

Untuk berita kedua, bisa jadi benar kebijakan itu prematur. Saya sendiri sebagai mahasiswa rantauan yang moda transportasi utama untuk pulang kampung adalah pesawat terbang tentu merasa agak berat jika tidak ada lagi tarif promo. Apalagi para backpacker di luar sana yang memang sangat mengandalkan tiket promo untuk mewujudkan rencana jalan-jalan mereka. Tapi sekali lagi, selalu ada sisi yang lain yang harus juga dilihat. Mungkin Kementerian Perhubungan punya pertimbangan yang lebih matang tentang kebijakan ini. Saya juga belum baca lebih jauh.

Saya sendiri bukan orang yang mengikuti setiap potong berita yang dirilis oleh media  karena saya agak kesal dengan pemberitaan media yang sering kali tidak berimbang, hanya ingin menjual berita. Tapi pesan moralnya adalah sebelum kita terlalu jauh membenarkan ataupun menyalahkan sesuatu, ada baiknya kita lihat sisi lainnya. Selalu ada sisi yang lain. Selain itu, kalau memang hati sudah bulat untuk memihak, pastikan kalau bukti atau setidaknya analisis sudah cukup. Jangan hanya karena membaca suatu artikel yang isinya opini penulis semua lantas kita langsung terpengaruh tanpa punya analisis sendiri. Analisis yang kita buat juga jangan melulu bawa hati dan emosi, silakan tools analisis yang anda dapat semasa sekolah atau kuliah dipergunakan. Bisa yang sesederhana 5W1H dan 5Whys, atau tools analisis lain yang lebih wahid lagi. Jika analisisnya sudah terstruktur, tempat untuk pengaruh berlebih dari hati dan emosi bisa dikurangi hehe.

Harus disadari bahwa setiap suara kita akan memberi pengaruh pada arah suatu berita karena di jaman yang sosial media sudah menjadi asupan informasi bagi sebagian besar orang ini, setiap informasi yang kita bagikan bisa membawa dampak berkali lipat tanpa kita sadari. Maka dari itu, pintar pintarlah memilih informasi yang akan kita dukung dan sebarkan.

Selamat malam J

Note: Judul di atas tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi tulisan ini. Saya memberi judul seperti itu semata-mata karena saya sedang sangat ingin ngemil sebelum menulis. hehehe
Readmore → I Demand Food!